13 June 2017

Bite (2015 ) : Gigitan Kecil yang Tak Terasa Menggigit


Tertarik ama film body-horror  garapan Chad Archibald ini setelah saat itu nggak sengaja ngebaca beritanya ( entah itu beneran atau hanya trik marketing belaka ) yang nyebutin bahwa ada dua penonton yang pingsan dan seorang lagi muntah-muntah setelah nonton ini pada saat premierenya di Fantasia Film Festival. Well, sebegitu menjijikannya-kah filmnya? 

Plot film berpusat pada karakter Casey ( Elma Begovic ), yang baru saja pulang dari liburan-jelang-pernikahan ( Bachelorette Party ) bersama kawan-kawannya di Costa Rica. Liburan itu seharusnya membuat Casey lebih senang dan segar, tapi pada kenyataannya ada dua masalah yang sedang merisaukan hatinya. Pertama, meski calon suaminya, Jared ( Jordan Gray ) boleh dibilang adalah sosok yang ideal ( dia tampan, baik hati dan mapan ), entah kenapa Casey justru merasa belum siap dengan pernikahan yang akan dihelat seminggu lagi itu. Dia terlihat gugup berada diambang dunia rumah-tangga dengan semua tetek-bengek kerumitannya kelak ( termasuk menjadi ibu rumah tangga dan mengurus anak ). Kegelisahan itu menguat setelah dia ngerasa calon mertuanya tidak menyukainya. Dipuncak kebimbangan, Casey sempat ingin mengutarakan keinginan menunda pernikahan, namun tak sanggup menyampaikannya. Hal ini membuat ia semakin tertekan. Pendeknya, Casey sedang mengalami krisis-jelang-married kaya banyak temen gue yang justru terlihat murung dan panik menjelang pernikahannya haha. 

28 May 2017

( Request List ) Kilas Balik 30 Film Horror Terbaik era 2000-2010 | PART 2

PART 1 CEK DISINI

 
REC ( 2007 ) 


Dalam film bergenre found footage/handheld camera garapan duo sutradara Spanyol Jaume Balaguero dan Paco Plaza ini kita diajak langsung untuk mengikuti liputan reporter muda  dan kameramennya ( yang menjadi mata kita ) ketika mereka tak sengaja terjebak dalam sebuah apartemen yang tiba-tiba dikarantina oleh militer karena merebaknya sebuah wabah misterius yang mampu merubah seseorang menjadi zombie ganas. Suspenseful, thrilling, creepy, scary and gory! Asiknya, intensitasnya tak mengendur bahkan terus menanjak hingga menit terakhir. Tak diragukan, REC adalah produk terbaik dari subgenre handheld camera yang booming di dekade ini. Sekuelnya tak kalah asik, tapi kalian bisa ngeskip yang ke 3, ke 4, ama versi remake hollywoodnya ( Quarantine ). Dan jangan malah nonton yang ini. Itu mah keterlaluan bodohnya hahahaa. Oiya, satu lagi pemeran Angela ( Manuela Velasco ) enak diliat dan menggemaskan dengan rambut kepang dua dan lumuran darah di singlet ketatnya.  

( Request List ) Kilas Balik 30 Film Horror Terbaik era 2000-2010

Kalian mungkin bertanya-tanya ada momen apa ini kok HSD tiba-tiba mosting list ginian haha. Ya, list seperti ini lebih tepat diposting di akhir pergantian dekade, atau di awal-awal dekade baru. Tapi, bodo amat deh, blog ini masih bernama Horrorsekarepdewek ( semau-mau yang punya hehe ) selain itu, ini juga dalam rangka memenuhi request dari pembaca. Yes, kalian juga boleh minta request review/list-rekomendasi ( gue akan berusaha memenuhinya ) hanya saja waktu pemuatannya ngga pake deadline ya, kecuali kalian ngasih/ngirim 'sogokan' ( seperti pe-request kita kali ini hehe ) berupa film-film, makanan daerah masing-masing, komik, atau buku ( bergenre apa saja ), nah kalo gitu baru deh gue akan mempercepat pemuatannya haha. 

Btw, tapi gue kira akan mudah menyusun list ini, pada kenyataannya gue tetep harus melakukan riset sana-sini, menonton ulang untuk memastikan, bahkan mendownload ulang karena ternyata filmnya udah ga ada di harddisk. Ini membuat akhirnya list rampung dalam waktu yang cukup lama hehe.  

Langsung ke tema utama kita kali ini yaitu dekade 2000an, Ini sebuah dekade yang tercatat memiliki beberapa momen penting ( di dunia film horor ), seperti kebangkitan horror-supranatural Asia ( dipimpin oleh Sadako ) yang kemudian memicu banyak remake versi Hollywoodnya, lalu dari Eropa juga muncul serangan Euro-Extreme yang cukup mengguncang dengan Perancis berada di garda terdepan, dari pusat perfilman dunia sendiri ( Hollywood ), orang-orang jahat berada di era emasnya dalam memburu, membunuh dan menyiksa manusia lainnya ( slasher/torture-porn ), sementara itu, mayat-mayat hidup ( zombies! ) dibangkitkan dari kubur masa lalu, sebagian yang lain mengalami modifikasi genetika modern ( mampu berlari cepat ) dengan berbagai genrenya ( komedi, action, drama ). Meanwhile in South Korea, para pendendam kesumatnya ( Korean-vengeance-crime-thriller ) tampil menggebrak serta mampu menciptakan gelombang baru yang berbeda dari invasi hantu berambut panjang pimpinan Sadako. Selain itu, jangan lupain tren first-person view/handheld camera/mockumentary yang memuncak di dekade itu. Bagaimana dengan horror-lokal kita? kaya yang kita tau, negeri kita saat itu sedang diperkosa setan yang doyan keramas dan goyang pinggul di air terjun, serangan hantu2 model begini sangat masif sampe penonton akhirnya tiba di titik jenuh dan mulai masuklah entri-entri yang cukup segar. 

List ini mengambil materi dari peristiwa-peristiwa penting diatas. 

31 March 2017

Mengenang Sinema Erotika Lokal 90an dan Perbincangan Bersama Azzam ( sutradara 'Pendakian Birahi' )

Buat kalian penggemar film yang besar di era 90-an, pasti akrab dengan nama-nama Malfin Shayna, Febby Lawrence, Cindy Windhyana, Sally Marcellina, Reynaldi atau Ibra Azhari.  Ya, mereka adalah artis-artis panas dari begitu banyak film-film erotis murahan yang lahir dan memenuhi bisokop di era itu. Itu masa kegelapan sinema-lokal menurut gue, bukan..bukan karena genre ini lebih buruk dari genre lainnya, tapi karena saat itu penonton nyaris tak punya pilihan. Oma Irama, Warkop DKI, Barry Prima, dan Suzzanna masih nongol di awal-awal 90an, tapi mulai pertengahan sampai setelahnya, hampir semua produksi film lokal adalah film dari jenis sexploitation ini. 

Penyebab situasi ini kalo menurut gue adalah karena kalah saingnya bioskop dengan program TV swasta ( yang saat itu sedang booming dan banyak menayangkan film barat berkualitas ) serta kemunculan VCD player ( dan rentalnya ) yang berhasil menawarkan alternatif hiburan rakyat.  Ketika bisokop menjadi sepi ( terutama jika dibandingkan era 80an ), alih-alih mengimbangi tantangan itu dengan produksi inovatif dan berkualitas, rumah produksi malah dengan putus asa mencoba merayu penonton lewat jalan pintas :  membuat film erotis. Sayangnya, hasil akhir film-film yang dibuat dengan dana cekak itu sungguh bertolak belakang dengan poster dan judulnya yang sangat menggiurkan. Ini membuat keadaan semakin buruk dan bioskop rakyat pun berada di senjakalanya. 

Cerita nggak jelas, akting buruk, dialog bodoh, serta adegan yang sebenernya dimaksudkan menjadi sensual namun jatohnya malah menyedihkan adalah beberapa ciri dari film erotis lokal yang gue inget di era ini. Sementara itu, gunting sensor membuat film hanya tinggal berdurasi sekitar 50 menit saja dan membuat ini semakin menjengkelkan, terutama untuk bocah pre-teen dengan libido dan rasa penasaran yang sedang tinggi-tingginya haha.