The Night Comes For Us

The Night Comes For Us

MATI 1/2 HIDUP

MH

Repulsion ( 1965 )

Posted by Ringo on 20 October 2014 , under , , , , , | comment (0)




Repulsion merupakan instalasi pertama dari trilogi apartemen Polanski yang terkenal ( Rosemary's Baby -1968- dan The Tenant -1976- ) yang mana ketiganya sama-sama mengambil  setting sebagian besar berada di dalam gedung apartemen.

Repulsion diawali dengan bola mata dan diakhiri dengan bola mata. Ini menarik, ada apa dengan mata? hmm..mungkin Polanski ingin mengatakan filmnya adalah tentang apa yang penonton lihat dan apa yang karakter dalam filmnya lihat. Atau jika benar pepatah yang mengatakan 'mata adalah jendela jiwa', Polanski mungkin hendak mengajak penonton melihat kondisi ruang kejiwaan karakternya lewat jendela mata nya.

Pemilik mata itu bernama Carol's Ledoux ( Catherine Deneuve's ). Seorang wanita Belgia yang bekerja sebagai manicurist di sebuah salon kecantikan di London. Dari awal kita sudah menduga ada yang tidak beres dengan Carol. Dia sering terlihat melamun, jarang menampakkan emosi tertentu, kikuk dan sangat pendiam. Carol tinggal dengan kakaknya, Helene (Yvonne Furneaux) di sebuah apartemen kontrakan. Keduanya pun digambarkan sangat bertolak belakang, baik dari sikap dan cara berpakaian. Helene sangat atraktif, percaya diri, mandiri,  dan 'outgoing' sementara Carol terlihat rapuh, tertekan dan hanya ingin menyendiri. Dia benar-benar 'out of place'. Bahkan ketika dibandingkan dengan kakaknya sendiri, Carol terlihat seperti makhluk asing.



Suatu hari, Helene memutuskan untuk berlibur ke luar negeri bersama pacarnya dan meninggalkan Carol sendirian di apartemen. Inilah yang menjadi titik awal dari kolapsnya kondisi kejiwaan Carol. Sang kakak yang selama ini menjadi tameng terakhir yang mampu menjaga Carol dari ketidakwarasan, kini pergi. Kehilangan tamengnya, ditinggal sendirian di dalam apartemen, teralienasi dari dunia, Carol yang awalnya hanya terlihat seperti pelamun, mulai secara perlahan terdegradasi kedalam sebuah kondisi psychosis yang berbahaya.

Di hari berikutnya, Carol mulai mengalami kegilaan, dan Polanski dengan brillian mampu mengarahkan kameramen untuk menangkap proses kegilaan itu agar bisa dirasakan audiens.

Sinematografinya kerap mengambil pendekatan 'voyeuristik'. Pada beberapa shots nya, Carol ditunjukkan berbaring di ranjang, sementara penonton seakan melihatnya dari semacam 'lubang tikus'. Kamera kemudian meluncur ke arahnya dengan cepat lalu berhenti tepat di depan wajah Carol dalam posisi tidak nyaman. Gue mengartikan gerak kamera itu sebagai satu usaha Polanski untuk nunjukin gimana persepsi pikiran Carol  menjadi tak rasional, tembok ruangan dirasakan Carol semakin mendekat, menteror dan menginvasi ruang personalnya.

Yah, sangat menarik ngeliat gimana Polanski mampu memanfaatkan ruang dan gerak kamera untuk nunjukin gimana proses kegilaan alam pikiran  itu berlangsung dan menciptakan tensi dari sana. 

Dalam Repulsion, ruang apartemen diperlakukan bukan hanya menjadi sekedar setting film, tapi secara tak disadari mampu berperan sebagai karakter penting. Seiring kondisi psikologis Carol, apartemen itu pun ikut memainkan perannya. Pada sebuah adegan, tembok tembok terlihat retak dan membentuk mulut bergigi tajam yang siap menelannya, ruang ruang pun terasa menyusut untuk menghimpitnya, di adegan lain Carol merasa ada tangan-tangan yang keluar dari tembok lorong untuk meraihnya. Ruang apartemen dirasakan Carol menjadi hidup untuk menambah kegilaannya, tapi meski demikian, apartemen itu pulalah yang dianggap menjadi satu-satunya tempat dimana Carol ngerasa aman. Petunjuknya ada dalam satu adegan dimana diperlihatkan Carol membuat barikade di pintu untuk menghalangi orang lain masuk. Dia seperti sedang membangun  pertahanan dari ancaman dunia luar yang dia pikir jauh lebih mengerikan? 

Ya, dunia kacau yang di dominasi oleh laki-laki.

Jika diperhatikan,figur lelaki dalam film ini memang secara tidak langsung banyak memberi pengaruh dalam kondisi kejiwaan Carol. Kita cek saja, Carol sering mengalami mimpi buruk dimana dia diperkosa oleh seorang pria. Lalu, Michael ( pacar Helene ), sering terdengar sedang bercinta dengan kakaknya, hal ini membuat Carol semakin muak dengan lelaki. Memang, ada seorang pria baik bernama Colin yang jatuh hati padanya, namun ketika Colin memaksa mencium bibirnya, Carol pun berubah membencinya.  Di tempat kerja, salah satu teman kerjanya bercerita bahwa dia baru saja di campakkan lelaki. Lalu ada adegan di bar di mana teman-teman Colin memandang perempuan hanya sebagai joke belaka. Juga ada adegan yang memperlihatkan segerombol pria yang menggodanya ketika sedang berjalan di luar.  Sementara itu, ada pula pria gaek pemilik apartemen yang berusaha memperkosanya, dan satu lagi, salon kecantikan tempat kerja Carol, bukankah tempat itu dibuat untuk membuat perempuan terlihat lezat dimata lelaki?


Semua faktor diatas turut mempengaruhi ketakutan Carol akan dunia luar ( terutama lelaki ) yang gue duga pencetusnya adalah sebuah pengalaman traumatis di masa kecil ( ini debatable dan hanya dugaan gue semata, karena petunjuk dari kemungkinan ini hanya berasal dari sebuah foto keluarga masa kecil yang ditunjukin di akhir film )

Fyi, ini bukan pertama kali gue nonton film yang memiliki plot 'karakter yang perlahan-lahan menjadi gila'. Ada beberapa judul lain disana. Dari yang paling fenomenal, 'The Shining', yang paling kancrut The 'Amityville Horror', sampe yang terbaru 'Honeymoon'. Tapi, kegilaan karakter dalam film-film tersebut selalu diceritakan berasal dari pengaruh luar ( eksternal ). Sebut saja karena pengaruh supranatural, sekte sesat, kemiskinan atau alien dll. Repulsion menjadi menarik, karena kegilaan karakternya bersumber dari dalam dirinya sendiri ( internal ).

Polanski tidak memerlukan hantu, pembunuh, alien, monster dll untuk menciptakan tensi dan horror. Hanya ada Carol, alam pikirannya serta ruang-ruang apartemen
Dan oh, ya satu lagi. Efek suara! Polanski memilih menggunakan soundtrack suara2 yang mengganggu, atau repetitive-noises ( detak jarum jam, bel berdentang, tetes air atau degup jantung ) pada momen2  tertentu. Ini gue pikir sangat efektif untuk membangun suasana unsettling yang tidak nyaman.

Overall, Repulsion mungkin berada dalam genre yang sama dengan  Alfred Hitchcock’s 'Psycho' ( 1960 ) , sebuah thriller-psikologi. Hanya saja film ini memilih untuk mengambil pendekatan ( juga style ) yang berbeda. Dalam Psycho, kita baru tahu Norman Bates adalah seorang psikopat di akhir cerita, di film ini kita sudah sejak awal diajak masuk ke dalam alam pikiran seseorang dengan masalah kejiwaan dan diseret untuk menyaksikan secara langsung tahap-tahap paranoid-delusional mengerikan sampai akhirnya dia mengalami kegilaan total. 


Tak diragukan lagi, Repulsion adalah salah satu yang terbaik di genre spesifiknya.

Hmmm..Meski demikian, ini jelas bukan sebuah film hiburan. Tone nya muram dan pacenya terlalu lambat dengan banyak memakai long-shot yang melelahkan. Dan nyaris sepanjang durasi, sebenernya jarang terjadi hal-hal menarik, ini bisa dipastikan akan membuat Ming tertidur pulas dan gue yakin Zombem lebih milih nonton sinetron di televisi hehe.

RATING:

Dead Man's Shoes ( 2004 )

Posted by Ringo on 28 January 2014 , under , , | comment (1)





" God will forgive them. He'll forgive them and allow them into Heaven. I can't live with that." ( Richard )

..............................

Seorang pria dengan jaket panjang dan beanie hat ( kupluk ) memasuki sebuah bar kecil di kota Midlands, lalu dengan langkah santai dia langsung mendekati pria lainnya yang sedang bermain bilyar " fucking great pills, man " bisiknya sambil memberikan sesuatu. Segera saja kita tahu pria itu adalah preman setempat yang juga merangkap drug dealer.

Sementara itu, di meja sebelah sana, duduk pula 2 orang pria. Yang satu tampak tangguh dengan brewok dan jaket army nya, yang satu lagi terlihat lebih muda serta memiliki ciri-ciri wajah yang biasanya hanya ditemui pada para penderita keterbelakangan mental.

" Here's one, bro " bisik pria muda berwajah idiot ini pada pria tangguh didepannya, matanya menunjuk ke arah pria yang memakai topi kupluk tadi. Yang di beri tahu, bagaikan senapan menemukan sasaran tembak, langsung menatap lekat-lekat ke arah target. Itu jelas tatapan penuh kebencian untuk sejenis parasit menjijikkan-menyedihkan yang hanya layak untuk di hancurkan.

Tak terima di tatap seperti itu, sang preman berkupluk membentak " What the fuck are you looking at?!" namun dia segera tercekat ketika yang di terimanya adalah geraman murka yang hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang sedang memendam dendam kesumat.


Ketika film bergulir, kita akan tahu pria ini adalah Richard ( Paddy Considine ), anggota militer yang baru saja kembali ke kota Midlands dari tugasnya di medan perang. Sementara pria lebih muda yang bersamanya adalah Anthony ( Toby Kebbell ) , sang adik yang terbelakang secara mental.

Apa yang membuat Richard memendam amarah kemudian ditunjukin lewat serangkaian flashback yang ngasih tau kita kalo ternyata ketika dirinya bertugas, Anthony, mengalami pelecehan baik mental juga fisik yang dilakukan oleh sekelompok gangster lokal yang salah satu anggotanya adalah pria berkupluk tadi.

Sekarang, Richard telah kembali ke kota kecil Midlands, dan dengan kemarahan berkobar sepertinya tak sabar untuk menghukum mereka yang telah memberi adik tercintanya penderitaan dan kehinaan. 


........................................

Dari awal, tone moody nya sudah di set. Kota kecil yang muram di Inggris utara, long-shot scene, dan ditimpali akustik lirih dari band lo-fi / alternative country 'Smog' ( cek lagunya 'Vessel in vain' --jujur setelah menonton film ini, lagu-lagu ben ini -Smog- berhasil mengkudeta posisi band lain di chart list player gue--  ), siapapun mungkin akan menyangka kalo ini adalah sebuah film indie kecil bergenre drama keluarga nan poetic dan lamban dengan dialog-dialog yang sering kali membosankan. Sama sekali nggak ada tanda-tanda violence seperti yang ditunjukin di posternya ( siluet seseorang memegang kampak, anyone? )

Tapi, itu mungkin memang atmosfir  yang dipilih Shane Meadows ( sutradara ) untuk nyeritain sisi gelap dari apa yang pernah terjadi di kota kecil Midlands. 

Plotnya sendiri sangat simple. Sebuah straight revenge story. Seorang kakak ( Richard ) kembali dari tugas militernya, dan nemuin kenyataan kalo sang adik tercinta telah mengalami pelecehan baik mental dan fisik oleh sekelompok preman. Kepedihan dan amarah membuncah, dan dendam harus terbalaskan. sesimple itu.

Menarik ngeliat gimana Richard ( Paddy Considine ) yang seorang anggota militer sengaja menggunakan mind games untuk meneror mental para bromocorah kecil ini sebelum mengeksekusinya satu demi satu dengan dingin. Jika John Rambo ( yang sama2 memiliki skill militer  ) ada di posisi yang sama dengan Richard, dia pasti lebih memilih untuk menghamburkan sebanyak mungkin peluru, granat, dan tembakan bazooka ke markas musuh, meledakannya dengan brutal untuk kemudian berjalan dengan tenang membelakangi ledakan sambil menghisap rokoknya. Haha.  Richard tidak seperti itu, dia terlihat mampu memanipulasi emosi, lebih dingin, namun di bagian dalam memiliki kepedihan dan kemarahan yang terasa lebih panas dari apapun.  

Menarik pula ngeliat reaksi para preman ketika berhadapan dengan terror Richard. Kita akan menyadari, kalo orang2 ini sebenarnya hanya pecundang dan pemabuk kecil. Premdes ( preman desa ) yang meski bertingkah laku mengesalkan ( dan bermulut kotor,tercatat kalimat 'fuck' diucapkan sebanyak 116 kali dengan logat british yang kental ), namun sebenarnya memiliki track record yang tidaklah sejahat itu.  Berhadapan dengan Richard yang marah, preman2 ini dengan cepat dilanda kepanikan. Mereka sempat mencoba melawan, namun akhirnya hanya berujung pada kepanikan yang jauh lebih besar. Ini secara aneh, menciptakan tawa ( komedi ) diantara gelapnya cerita, soundtrack yang lirih dan kekerasan yang cukup disturbing disana-sini


Pada satu titik, gue bahkan sampe ngerasa kasihan pada para premdes ini dan ngerasa apa yang dilakukan Richard sudah kelewat batas. Untungnya, film yang skripnya ditulis sendiri oleh sutradara dan aktor utamanya ini, meninggalkan cukup ruang untuk 'belokan' diujung cerita, kejutan  ini sekaligus ngejelasin kenapa Richard menjadi demikian brutal dan tanpa kompromi. Twist yang tidak terlalu krusial memang, namun berhasil membuat gue dengan sukarela menambahkan beberapa bintang lagi untuk film yang menyabet Best British Independent Film ( 2004 ) ini.

Tensionnya sendiri dibangun perlahan dengan pacing yang terjaga, tak pernah menjadi draggy, dan pemilihan soundtrack2nya sangat membantu menciptakan mood dan atmosfir yang hendak dicapai. Diatas semuanya, yang paling menarik, dengan cerita yang simpel, film ini memilih jalan yang jarang ditempuh film lain : fokus pada emotional-depth yang untungnya buat gue terasa jujur . ( oke, sedikit didramatisir dibagian akhir sih, tapi itu minor-problem aja buat gue hehe ).

Sementara itu, semua cast bermain cemerlang , highlight untuk Paddy Considine ( doi memenangkan Best Actor di British Independent Film Award 2004 ) dan Toby kebbel yang memerankan pria terbelakang mental, berhasil meraih Most Promising Newcomer di ajang yang sama ( yang hebatnya, dikasting hanya sehari sebelum suting dimulai ). 



So, overall, 

setelah cukup banyak menonton film2 bertema revenge dari Korea Selatan yang sakit, dan film2 action-thriller-revenge 80-an yang silly-cheesy-fun, sangat menyegarkan buat gue bisa menonton film bertema revenge dengan atmosfer yang unik dan berbeda.

Sebuah edgy-thriller-revenge-dark-comedy yang disturbing, menyedihkan namun juga puitis.

Gue tak ragu, menempatkan 'Dead Man's Shoes' dalam daftar film-film  revenge terbaik. Tentu saja, versi personal hehe.  

...........................................


TRAILER

RATING:

Beranak Dalam Kubur ( Birth In The Tomb ) 1971

Posted by Ringo on 20 August 2013 , under , , | comment (5)



Perbincangan bersama beberapa kawan lama malam itu tiba-tiba saja nyampe pada obrolan seputar hal-hal mistis di kampung gue. Meski menyeramkan, obrolan ini lebih sering malah berakhir dengan gelak tawa karena menyadari betapa konyolnya cerita itu. Lalu entah gimana awalnya, obrolan mulai bergeser ke soal film horor. Tentang pilem2 almarhum Suzzanna, Joyce Erna, nyampe ke pilem2 horor lokal kekinian yang berujung dengan perdebatan tentang payudara siapa yang paling montok. Hingga akhirnya pertanyaan krusial itu terlontar dari salah satu temen " pilem horror lokal apa yang menurut kamu paling serem ?" 

Judul 'Pengabdi Setan' langsung disebut si Wandi, lalu ada judul-judul seperti 'Keramat, 'Sundel Bolong', 'Malam satu Suro', 'Jelangkung', 'Pocong' dll silih berganti di sebut. Si Tatang malah menyebut 'Air Terjun Penganten' sebagai pilem horor lokal terbaik versinya. Gue pengen ketawa, tapi urung ketika ngeliat mimiknya yang serius. Baiklah, sori. 

Tapi asli, ini bikin gue mengerutkan jidat, tentu gue setuju kalo beberapa pilem yang disebut diatas emang beneran serem ( juga menghibur ), tapi kenapa tak ada yang menyebut judul 'Beranak Dalam Kubur? ( BDK )'. Biar gue ceritain kenapa BDK gue anggep sebagai salah satu pilem horor lokal yang paling menyeramkan bahkan merupakan yang terbaik yang pernah di produksi sineas kita.

..................................

Storyline :


BDK menceritakan tragedi yang menimpa keluarga pemilik perkebunan di kampung Ciganyar. Lila ( Suzanna ) adalah puteri kandung sang juragan perkebunan ( Ami Priyono ). Malangnya, dia di benci oleh sang ibu tiri dan sering terlibat konflik dengan Dora ( Mieke Wijaya ), saudara tiri nya.

Lila kemudian memilih untuk pergi ke kota. Bertahun-tahun kemudian, Ketika Lila telah beranjak dewasa, dia kembali ke kampung halaman bersama suaminya ( Cliff Sangra ) untuk menjenguk sang ayah yang sakit-sakitan. Konflik lama dengan Dora pun kembali menyeruak. Dora yang kini telah mengambil alih kontrol perkebunan dan menjadi diktator-maniak di Ciganyar, berusaha dengan segala cara untuk menghabisi Lila. Dia akhirnya berhasil membunuh Lila yang saat itu tengah hamil tua dan menguburnya, namun penguburan itu gagal ketika tiba-tiba bayi Lila ternyata lahir di sana. 

Sejak saat itulah, tersiar kabar di antara warga desa tentang arwah non Lila yang bergentayangan, kabar ini akhirnya sampai di telinga Dora..dan teror mulai menghinggapinya.

Review :

Warning! this review contains minor spoiler.

Kisah pilem ini diangkat dari komik Ganes TH berjudul 'Tangisan di Malam Kabut' ( pilem Suzzanna sebelumnya, 'Tuan Tanah Kedawung' pun diangkat dari komik berjudul sama yang juga merupakan karya Ganes TH ). 

'Beranak dalam Kubur'  konon juga sering dipentaskan kelompok sandiwara sunda Miss Tjitjih ( sebuah kelompok sandiwara yang eskis sejak taon 1928 dan sering mementaskan lakon bergenre horor legenda-lokal, seperti 'Beranak dalam Kubur', 'Si Manis Jembatan Ancol' atau 'Kuntilanak Waru Doyong'.) Gue berusaha mencari informasi tentang siapa yang lebih dulu mengangkat kisah ini, komiknya atau sandiwaranya kah? namun sayang, gue gagal mendapat info yang memadai.

Ketika tombol play di tekan, musik latar eerie khas horror jadul langsung menyergap dan ngasih tau kalo kisah yang hendak di ceritakan adalah sebuah kisah kelam nan tragis. Berikutnya yang menyita perhatian gue adalah setting perkebunan Ciganyar yang luas, rumah megah Dora beserta properti didalamnya dan desain baju yang dipakai tokoh-tokohnya. Semuanya sangat mendukung mood dan atmosfir yang hendak dicapai. 

Mieke Wijaya sendiri 'mencuri' show dengan perannya sebagai Dora, penguasa desa Ciganyar yang kejam. 


Menunggangi kuda, memakai seragam ala militer, sepatu lars, memegang cemeti, dan didukung struktur wajahnya yang terlihat selalu cemberut, Mieke Wijaya nampak sempurna berperan sebagai penindas lalim. Dominasi aktingnya menurut gue mampu menenggelamkan Suzanna yang tetap dengan peran generiknya : wanita baik hati lemah yang teraniaya. Mungkin ini satu-satunya pilem dimana lawan main Suzanna justru terlihat lebih seram dari dirinya.

Menyoal judul yang dipake, 'Beranak Dalam Kubur' ini sebenarnya salah satu hal yang bikin gue sedikit kecewa karena nggak ngedapetin display vulgar dari adegan Suzanna melahirkan bayinya didalam kubur ( bahkan tak ada kejelasan cerita lebih lanjut mengenai bayi yang dilahirkannya ) hehe. Menurut gue, judul asli komiknya 'Tangisan di Malam Kabut' jelas jauh lebih cocok buat pilem ini, yah okelah, mungkin ada pertimbangan marketing disana. Meski begitu, percayalah adegan penguburan mayat Lila disini tetap menyeramkan. 

Disamping menampilkan beberapa adegan graphics seperti orang yang dililit puluhan ular atau bola mata yang dipatuki burung-burung, kekuatan utama pilem ini terletak pada narasinya. 

Sutradara Awaludin dan co-director Ali Shahab  tidak hanya sekedar sibuk menampilkan sebanyak mungkin wajah buruk dari  kematian, namun juga fokus pada cerita, tone dan pembangunan atmosfir, lalu ketika nyampe pada momen yang dianggap tepat, dengan jitu mereka memilih untuk membidik psikologis penonton. 

Hasilnya adalah teror yang merayap pelan dibawah kulit. Inilah salah satu keunggulan gaya narrative horror yang banyak di pake sinema horror era 70-90 an kita, tak ada visual-visual bombastis disana ( juga tak ada sekuen2 mengagetkan dengan trik curang yang menyebalkan itu  ) , semuanya terasa sederhana saja. Tapi impact yang dihasilkan jauh lebih efektif dan membekas. 

Coba cek bagaimana sutradara mampu mengubah suara tetesan air di wastafel menjadi terasa begitu menggelisahkan, atau baiklah gue mengaku kalo lambaian gaun putih dari balik jendela itu udah berhasil maksa gue mematikan pilem untuk sementara saking takutnya haha. Efek seramnya bahkan menjadi berlipat2 karena didukung musik latar nan eerie lengkap dengan efek kesiuran angin, lolongan serigala dan sesekali gemuruh petir.

Yang paling menarik ketika menonton kembali BDK adalah saat menyadari kalo cerita pilem ini sebenernya bukanlah sebuah kisah demonic-horor, namun lebih ke drama-tragedi. 
Penulis skenario ( Sjumandjaja ) meminjam mitos mistis yang sering beredar di masyarakat, kemudian sutradara dengan cerdik mengeksekusinya dengan scare-tactics ala pilem horor.

Ini kejutan yang menyenangkan, terutama kalo nginget kebanyakan pilem horror lokal kita biasanya sangat predictable dengan menceritakan kemunculan hantu sebagai bangkitnya arwah dari dunia lain, untuk kemudian cukup mengakhirinya dengan kedatangan kiai dan lantunan ayat kursi.  Yah, kalian akan mendapatkan twist disini.


Kalo diperhatikan lebih jauh,  kisah pilem ini juga mampu menangkap dan memberi komentar sosial tentang kondisi psikologis masyarakat era represif awal orde baru yang terkesan tunduk dan tak berdaya menghadapi kediktatoran serta demikian mudah mengaitkan segala sesuatu dengan klenik mistis.
Gue menduga, kesuksesan pilem inilah yang membuka mata produser lain untuk memproduksi banyak sekali pilem horror bertema legenda urban yang dimulai pada awal 80-an dengan meledaknya 'Sundel Bolong'. Pilem ini pula yang menandai kehadiran almarhum Suzanna sebagai 'sang ratu' di jagad sinema horror lokal. Kita tau sebelum pilem ini, beliau lebih dikenal sebagai artis yang bermain di pilem2 drama dewasa.  Hanya sayang, ( meski untungnya sangat menghibur dan memorabel ) pilem2 horror Suzanna berikutnya gue pikir nggak ada satupun yang mampu menyamai kualitas dari 'Beranak Dalam Kubur'.  Mungkin kasusnya sama kaya gimana pada awal 2000-an kemaren 'Jelangkung'  telah memicu gelombang horror yang sayangnya pula sebagian besar dari mereka diproduksi dengan effort minimal yang buat gue sama sekali tak menghibur ( kecuali mungkin untuk geng masokis 'Vividsm' ).

Overall, Ini adalah pilem horror terbaik Suzzanna,  yang juga merupakan pilem horror terbaik yang pernah diproduksi sineas kita.

.......................................

Begitulah gue menjawab pertanyaan " pilem horror lokal apa yang menurut kamu paling serem ?" yang dilontarkan temen gue malam itu. Tak ada komentar dari temen-temen. Sunyi senyap. Krik krik. Mereka keliatan mengantuk dan tak peduli. Hingga akhirnya Tatang yang sepanjang gue ngoceh terlihat rakus menyantap mie ayam, melontarkan pertanyaan susulan..

" ada adegan telanjang nya nggak? "

DANI MORENO'S SHORT-MOVIES : "Attack of the Mutant Dick from Outer Space" & "Martians Go Home!"

Posted by Ringo on 13 August 2013 , under , | comment (0)




Dani Moreno. Tidak banyak yang gue tahu mengenai sutradara asal Spanyol ini selain kalo konon orang ini udah  membuat film horror kecil dari tahun 1997 dan merupakan pendiri situs 'Chaparra Entertainment', sebuah situs yang menawarkan produksi audiovisual ( video klip, film seri, film pendek juga materi promosi ) yang kerennya semuanya dikerjakan dengan mengambil semangat sinema horror tahun 80-an atau yang oleh mereka disebut bergenre "fantaterrorífico".

Ini salah satu band 'garapan' Chaparra Entertainement.

Motorzombis.


Dan ini salah satu pidio klipnya. haha



Selain mendirikan Chaparra Entertainment, Dani Moreno bareng gengnya juga meneribtkan fanzine 'Amazing Monsters' dan beberapa komik. Whoa!

fanzinenya nih bro :


Nah cuma itu doang informasi tentang Dani Moreno hasil browsang-browsing  yang gue dapet, tapi hanya dari ngebaca secuil track-rekord nya diatas saja, ini rasanya kaya misalnya suatu hari lu naik angkot mau ke bioskop buat nonton pilem horor, dan kemudian lu sadar kalo penumpang yg pake kaos Chuck Norris di samping lu ternyata punya tujuan yg sama, dia bahkan mamerin dvd bajakan yang baru dibelinya yang ternyata adalah pilem2 horor jelek. Kayanya lu nggak perlu tau lebih banyak lagi deh. Dia jelas orang yang punya selera sama anehnya sama lu ( ada kemungkinan dia cuma tukang dvd bajakan sih..). Apapun, itu nyenengin.

Nah, mumpung masih di bulan Syawal nan penuh berkah ini, sekarang gue pengen berbagi kegembiraan karena menemukan film2 pendeknya yang ternyata sangat hilariously-fun.

Cek,


.....................................................

Attack of the Mutant Dick from Outer Space


Serangan titit mutan dari luar angkasa? Coba siapa yang bisa menolak judul kaya gitu? haha. Ini ceritanya tentang sekelompok peneliti yang melakukan ekspedisi ke luar angkasa buat nemuin obat penangkal dari virus yang ngerubah anak2 menjadi werewolf ( wtf! ). Malang, ketika memasuki area yang penuh sinar gamma, salah satu awak peneliti mereka yang cabul ( Dr.Dickinson ) rupanya sedang asyik onani tanpa memakai helm pelindung. Akibatnya, radiasi sinar gamma itu ngerubah Dr.Dickinson menjadi penis-mutan yang akan memuncratkan sperma ke siapa aja di dekatnya. Lebih buruk lagi, sperma mutan ini bisa ngelumerin daging korbannya. Haha.

Merhatiin judulnya, formatnya yang item-putih, dan beberapa adegannya yang jelas merupakan homage  dari beberapa judul cult yang pasti kamu kenal, kayanya ini lebih merupakan tribute ( atau bolehlah dibilang parodi ) untuk sinema scifi-monster-exploitation era 50-an, kalian bisa nemuin petunjuknya disini : science nggak masuk akal, kostum mutan/monster buruk, dialog cheesy & hilarious line, sinar2 laser, scoring yang sebagian besar dibuat dengan Theremin, akting over, efek stop-motion, dan kalian juga bisa nemuin 'multiple image on a single frame' kaya yang udah gue ceritain di review 'The Fly' ( 1958).  Tambahin itu ama materi2 humor-cabul dan oh iya, ini cukup aneh, mereka membuat beberapa momen hilarious-silly-death scenenya dalam format 3D! Haha, entah kenapa, ini bikin gue ngakak. Gokiil pol!

Segera streaming! durasi 26 menit aje.


Versi yang ada subtitle nya nih bro :

http://www.dailymotion.com/video/xsfzla_attack-of-the-mutant-dick-from-outer-space-subtitled-shortfilm-by-dani-moreno_shortfilms

.......................................

Martians Go Home! (2006)


Nah, kalo yang ini  sebenernya dibuat satu tahun sebelum film 'Attack of the Mutant Dick from Outer Space'.  Di pilem yang udah gue ceritain diatas, segalanya terlihat raw ( atau memang sengaja dikesankan seperti itu hehe ) Tapi, disini dia  nunjukin kalo dia bisa aje bikin pilem lebih rapih.  

Bersetting di taon 1986, pilem yang juga diputar di gelaran festival Sitges 2006 ini bercerita tentang Fran, seorang remaja pecundang yang membuat sendiri alat musik Theremin dengan harapan dia bisa berkomunikasi dengan idolanya, Sara Clockwork ( artis Theremin yang hilang secara misterius ditengah pertunjukannya di tahun 1928. ). Tanpa Fran sadari, gelombang suara dari alat musiknya mengundang Alien mars untuk menginvasi bumi haha.

'Martians Go Home!' ( awas, jangan ketuker ama versi yang rilis taon 1989 ) terasa seperti sebuah pilem beneran yang di buat di tahun 80-an. Akting, efek, cerita, dan segala aspek teknisnya jauh lebih solid dari 'Attack of The Mutant Dick From Outer Space'. Ini  ngingetin gue ama progress signifikan yang terjadi pada Peter Jackson setelah dia nyelesein 'Bad Taste'. Jadi, gue heran kenapa sampe sekarang belum ada produser yang segera ngasih dia duit banyak buat segera bikin pilem sih!

Pilem berdurasi 20 menit ini juga punya segala hal yang biasa kamu liat di pilem horror-monster 80-an : momen2 hilarious ( cek aksi Fran ngeledakin kepala Alien2 dengan gitar-theremin nya haha ), lendir hijau, cairan-cairan 'eeyuuuhh', exploding-head, gimbot, monster karet, dan tentu saja..Theremin! Mungkin kalian juga akan tersenyum lebar kala bisa menemukan adegan yang jelas merupakan homage dari beberapa judul pilem horror cult  atau bahkan dari sebuah gim arcade klasik. haha!

Ngomongin Theremin, jujur gue baru tau kalo suara mendenging aneh yang biasa gue denger di pilem horror 50-80an ternyata berasal dari alat musik yang juga aneh ini. Gue bilang aneh, soalnya cara maennya  dilakukan tanpa menyentuh instrumennya sendiri. 

Cek aja nih bro :


Seperti halnya Fred Dekker, Dani Moreno, nggak pernah memaksudkan pilemnya menjadi cult atau 'so bad it's good' movie, dia hanya sedang bersenang-senang mengerjakan sesuatu yang sangat di gemarinya ( dikaguminya ). Kaga urusan lah hasilnya kaya apaan, yang jelas keliatannya dia udah seneng-seneng dengan ngeluarin semua referensi dan skill yang dia punya. effortnya pol. seneng-senengnya juga pol. Ini bahkan jauh lebih nyenengin dari Frankenstein's Army, salah satu judul yang cukup gue antisipasi sejak lama, tapi pas ditonton ternyata nggak ninggalin impresi apa-apa. Ide hilarous yang di garap terlalu serius dan ambisius, biasanya berakhir seperti itu. 

Untuk sekarang,  apa yang dibuat Dani Moreno memang masih sekedar film pendek yang merupakan tribut untuk sinema "fantaterrorífico" era 50-80an, boleh dibilang hanya 'proyek seneng-seneng'. 

Tapi gue yakin kalo aja orang ini dikasih cukup kesempatan buat terus bikin pilem, pada akhirnya dia akan memiliki sentuhan personalnya sendiri untuk kemudian menjadi salah satu sutradara yang diperhitungkan di genre spesifiknya.

Liat poto Dani Moreno dan gengnya di bawah ini, orang laen mungkin hanya akan ngeliat ' segerombol om-om nggak jelas' disana, tapi gue bisa ngeliat sesuatu terpancar dengan jelas, sesuatu yang udah lama hilang dari orang-orang yang sebenernya udah mati ketika mereka masih hidup,

PASSION!!

Awesome job, Dani Moreno!

Nah, tunggu apa lagi, langsung striming aje pilemnya :D


Selamat hari raya Idul Fitri. Long live Monsters!

Related Posts with Thumbnails