The Night Comes For Us

The Night Comes For Us

MATI 1/2 HIDUP

MH

EDISI I-LOVE-KOREA: MEMORIES OF MURDER (2003)

Posted by Ringo on 07 November 2014 , under , , , , , , , | comment (2)



Written By Ming

Pengantar

Anda salah satu korban Korean Wave (jelas yang saya maksud Korea di sini dan nantinya adalah Korea Selatan, bukan tetangganya yang punya pemimpin berambut Mohawk itu) dengan drama-drama cintanya yang cute dan mengharu biru? Atau penggemar boyband-girlband-groupband—apapun itu sebutannya dengan personel berwajah boneka hasil polesan operasi plastik? Atau begini, setidaknya anda bakal mengetatkan ikat pinggang dengan berpuasa atau cukup mengonsumsi Indomie 3 kali sehari, misalnya, hanya untuk memiliki tablet Samsung terbaru, bukan? Hohoho, tenang saja. Anda tidak sendiri. Saya pun salah satu korban gelombang budaya Korea yang telah mengglobal. 

Cuma, yang saya gemari ini bisa dibilang sepi penggemar di sini—jika dibandingkan dengan produk Korea yang sudah saya sebut di atas, dan cuma bisa jadi obrolan seru sesama penggemar film horror beserta turunannya yang bisa dibilang masih satu spesies dengan pengunjung setia—dan tidak setia—blog horror kacangan (saya sebagai salah satu kontributor abadi dan satu-satunya, memang sudah mengajukan proposal kepada editor blog ini untuk mengganti saja nama Horror Popcorn menjadi Horror Kacang) yang makin sepi postingan hingga membuat sekelompok penggemar fanatik melakukan demo di depan kantor fiktif kami.  

Beberapa tahun terakhir, saya menemukan rentetan horror/crime-thriller Korea yang sanggup membuat saya terkagum-kagum dan sungguh gatal, kenapa fans berat American B-class, old-school campy horror, 70’s & 80’s horror lokal, Italian mondo dan bahkan New French Extreme—yang amat singkat eranya—juga seluruh penggemar horror berbagai sekte dan aliran, gagal move on dari Oldboy dan Choi Min Sik ketika mendengar kata ‘Korea’. Bukannya saya ini tidak menggemari Choi Min Sik. Maksud saya, memangnya siapa sih yang tidak ngefans dengannya? Saya bahkan masih mengikuti dia di film terbaru Luc Besson, Lucy, di mana dia masih saja menjadi badass yang kehadirannya selalu mencengangkan, meskipun sayangnya terlalu memaksakan diri untuk menjaga kharismanya selepas Oldboy.

Karenanya, saya berniat membuat review edisi I-LOVE-KOREA sebagai bentuk MP3COWKI (Masterplan Percepatan Perluasan Pemantapan Cuci Otak Wabah Korea Internasional). Untuk beberapa postingan ke depan, saya akan secara rutin menulis HANYA film-film horror/crime-thriller Korea. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada Park Chan Wook yang telah menjadi ikon coolness baru Korea setelah ‘vengeance trilogy’-nya, serta sedikit banyak telah mempengaruhi film horror Korea secara keseluruhan untuk masing-masing semakin berlomba memberi ide cerita yang tak pernah terpikirkan sebelumnya diikuti adegan-adegan revolusioner yang bikin geleng kepala, saya tidak menulis review ‘vengeance trilogy’ di bagian-bagian awal. Mari kita simpan yang terbaik—atau mungkin yang terpopuler—di belakang, nanti saja. Edisi review ini sepenuhnya berdasar pada selera pribadi saya, jadi sudah jelas akan menjadi sangat subjektif. Tenang, saya masih punya banyak stok film horror/crime-thriller Korea yang keren untuk postingan-postingan berikutnya. Siapa tahu selera kita sama. Request boleh diajukan dengan imbalan donasi seikhlasnya.


 Terus, kita masuk ke filmnya…

Tahun 1986, di sebuah kota kecil—mungkin lebih tepat disebut pedesaan—Korea Selatan ditemukan mayat wanita korban pemerkosaan dan pembunuhan di saluran air persawahan. Tak lama, serentetan pembunuhan dengan metode serupa (diikat dan dicekik dengan stocking, bra, atau tali tas untuk lalu ditutupi kepalanya dengan celana dalam) terhadap para perempuan lokal pun terjadi, memaksa seorang detektif kampung setempat, dibantu oleh partnernya dan detektif yang datang dari Seoul bahu membahu untuk memecahkan kasus pembunuhan serial yang terinspirasi dari kejadian nyata yang sangat terkenal dan menjadi salah satu kasus tak terpecahkan di Korea Selatan hingga kini. 

Warning! Review dibawah ini mungkin mengandung spoiler

Memories of Murder bukan tipikal crime thriller di mana kita bakal menemukan banyak adegan kekerasan yang berdarah-darah atau jagoan badass ala Korea. Bukan sama sekali. 

Hanya saja film ini punya banyak dimensi: ada kekonyolan khas orang kampung di sana yang luar biasa menghibur, humor gelap, drama-drama kecil yang menyentuh, investigasi polisi yang melibatkan penyiksaan ala orde baru kita, perubahan situasi politik di Korea Selatan dari kediktatoran di akhir 80-an, beberapa adegan menegangkan dan teka-teki yang sungguh memusingkan, sekaligus melelahkan. Ini semua dirangkum dalam durasi sekitar dua jam lebih. 

Kelebihan film ini selain eksekusi apik dan akting yang kuat, adalah ceritanya sendiri. Kita sebagai penonton, seolah terbawa untuk ikut menjadi detektif! Kita dipaksa untuk menduga-duga dan menganalisis siapa sebenarnya pembunuh yang amat rapi dan teliti, juga licin bagaikan belut ini. 


villain badass kita 
maaf, ini villain badass kita   


eh, atau yang ini???
Caranya: sepanjang film, tak ada habisnya kita diberi berbagai macam petunjuk berupa koinsiden-koinsiden yang seolah menjadi bukti kuat dari kasus pembunuhan dan sosok-sosok yang perilakunya diduga sebagai tersangka, yang kesemuanya berakhir terpatahkan begitu saja hingga kita benar-benar dibuat clueless. Bingung karena sudah tidak bisa membedakan lagi mana yang hanya kebetulan dan mana yang sesungguhnya bukti kejahatan valid. Setelah semua kelelahan dan frustasi yang dialami kedua detektif kita, terutama karena gagalnya mereka menangkap tersangka paling meyakinkan di penghujung film yang disebabkan ketidakcocokan hasil DNA, detektif kita hanya sanggup berkata: cukup adalah cukup.

Ini film yang sudah dianggap klasik dan memenangkan hati banyak orang pada masanya. Konon semua adegan proses penyelidikan, kondisi dan hasil otopsi korban, TKP, tes DNA, hingga kehidupan para detektif dibuat dengan detil dan semirip mungkin dengan peristiwa asli.  

Funniest Moment: Sangat banyak. Mulai dari yang membuat kita tersenyum, hingga ketawa guling-guling. Tapi mungkin saya bisa pilih ini: tokoh utama detektif kampung kita berteori bahwa ketiadaan rambut pubis di TKP menunjukkan bahwa kemungkinan si pembunuh adalah lelaki dengan kemaluan botak atau tidak punya rambut pubis sama sekali. Dia pun diam-diam memperhatikan setiap kemaluan lelaki ketika mandi di sauna bersama dan berpesan kepada pemilik sauna untuk segera melapor padanya jika menemukan lelaki dengan kemaluan botak yang hanya disambut dengan tertawaan.


Another Funny Moment by Ringo : Jadi detektif kampung kita ini suka nginterogasi sambil mukulin orang yang dicurigainya, persis kelakuan polisi kita lah. Nah, suatu kali mungkin karena ngerasa bersalah tuduhannya nggak terbukti, mereka nyoba 'nyogok' korbannya dengan ngasih sepatu. Momen lucu nya bisa kalian intip lewat spoiler-snapshot dibawah ini hehe

kelakuan polisi haha
Best Scene: Di adegan terakhir, 17 tahun setelah kasus ini, tokoh utama kita yang terlalu lelah untuk menjadi detektif dan akhirnya memutuskan untuk menjadi pengusaha, menyempatkan diri kembali ke saluran air tempat dia menemukan mayat pertamanya demi mengenang masa-masa yang barangkali paling berkesan dalam hidupnya. Seorang bocah menegurnya dan berkata bahwa baru-baru ini saja, ada seorang lelaki yang juga mendatangi tempat itu sekadar untuk “mengenang sesuatu yang pernah dilakukannya di sini”. Mantan detektif kita bertanya bagaimana rupa si lelaki. Dari deskripsi si bocah, lelaki itu sangat mendekati sosok tersangka paling meyakinkan di film. Tokoh kita tercenung, tergagap dan menunjukkan ekspresi yang sulit digambarkan, hingga closing credit menutup layar.


 Feels Like: Zodiac versi Korea

-Ming-


7 Days (Les 7 jours du talion) (2010)

Posted by Ringo on 01 November 2014 , under , , , , | comment (2)



Bales Dendam. Tema ini nggak pernah abis ( dan basi ) buat diangkat ke layar lebar. Dan sebenernya, kalo ngomongin film bertema bales dendam, ingetan gue akan langsung tertuju ke revenge-movies produksi Korea Selatan. Bukan apa-apa, soalnya kalo misalnya suatu saat gue mesti ngelist 10 pilem thriller crime revenge terbaik, separuh lebih isinya akan diisi oleh film-film produksi orang2 sakit dari negeri itu. Mungkin gue akan bikin listnya suatu hari nanti, tapi untuk kali ini, gue pengen cerita dulu tentang yang satu ini.

7 Days tuh film kecil bertema bales dendam produksi Kanada garapan sutradara asal Perancis, Daniel Grou ( film ini berbahasa Perancis dan diisi aktor/aktris asal perancis, meski sutingnya mengambil tempat di Kanada ). Screenplaynya ditulis oleh Patrick Senécal, berdasarkan novel karyanya sendiri 'Les sept jours du talion'.

Jadi plotnya simpel aja

Bruno Hamel  (Claude Legault) tuh seorang dokter bedah yang punya kehidupan baik-baik aja, dengan istri dan seorang puteri berusia 8 tahun yang cantik. Kehidupannya berubah drastis ketika pada suatu hari puterinya ditemukan tewas. Seorang pedofil-maniak telah membunuh dan memperkosanya. Diceritain, polisi nggak butuh waktu lama buat ngeringkus sang tersangka utama, Anthony Lemaire (Martin Dubreuil).


Bayangin, puteri lu dibunuh dan diperkosa, terus ngeliat pelakunya tersenyum ditelevisi.

Jadi, Dr.Hamel, dengan rencana yang cukup rapih, memutuskan untuk menculik Anthony dari mobil tahanan untuk kemudian menyekapnya didalam sebuah kabin terpencil.  Dia akan  membuat si pelaku membayar lunas perbuatannya dengan 7 hari penyiksaan pedih dan baru akan membunuhnya di hari ke 7. Itu hari dimana puterinya seharusnya berulang tahun. 7 hari penuh penderitaan yang akan dialami si pelaku mungkin akan membuat kepiluannya sedikit terobati. Tapi, benarkah demikian?


Satu hal yang membuat gue cukup suka nonton pilem bertema bales dendam barangkali adalah karena gue suka ngeliat orang jahat menerima balesannya. Semakin menyebalkan dan jahat antagonisnya, semakin nikmatlah gue ngeliat ketika hari penebusan itu akhirnya datang. Itulah kenapa dulu gue selalu bertepuk tangan dengan antusias kala Dharmendra akhirnya matahin kaki Amrish Puri atau ngelemparin Amjad Khan sekuat tenaga ke jurang. Gue juga akan bersorak girang kalo suatu saat seseorang akhirnya membuat sekuel dari Eden Lake ( 2008 ), terus terang jiwa gue belum tenang selama anak-anak bedebah itu belum mendapat balasannya, jadi akan menyenangkan kalo disekuelnya nanti mereka harus berhadapan dengan psikopat hehe. Meski demikian, harus gue akuin sekali lagi, kalo orang2 Korea Selatan lah yang paling piawai dalam menyusun plot bales dendam sempurna buat mastiin itu berlangsung semenyakitkan mungkin.


Balik ke review, dalam film ini, sang tersangka utama pelaku pembunuhan, Anthony sudah diculik oleh Dr.Hamel di menit ke 25, bahkan ketika gue masih bertanya-tanya dan belum cukup alesan untuk membencinya. Jadi, gue menduga sisa durasi filmnya hanya akan berisi penyiksaan. Lalu, apakah ini akan menjadi sebuah cheap torture-porn semacam Hostel atau Saw?


Untungnya, tidak. Selain karena torture-porn adalah sebuah genre yang selalu susah buat gue nikmatin ( gue lebih milih porn nya aja ), juga bukankah kita udah ngeliat yang kaya gituan di 2 film yang gue sebutin tadi? 

Alih alih menjadi sebuah torture-porn, Daniel Grou rupanya lebih memilih mengarahkan 7 Days untuk menjadi sebuah thriller-psikologi dengan sentuhan filosofis tentang kehidupan, kematian, serta isu yang sebenernya udah bolak-balik di angkat dalam film-film bertema serupa.

'Is Revenge the only true Justice?' 

Kalian bisa nemuin Dr.Hamel menjawab langsung pertanyaan itu dalam film ini, tapi bahkan jawabannya akan membuat kalian semakin termenung.

Ya, berbeda jauh ama bapak-bapak sinting lainnya di film 'Big Bad Wolves' ( 2013 ) yang masih bisa bikin lelucon sambil ngelas dada pembunuh cucunya, Dr.Hamel keliatan nggak menikmati aksinya. Jadi, abis ngancurin lutut si pelaku pake palu gede, dia cuma duduk-duduk ngedengerin jeritan 'tahanan' nya, abis itu keluar kabin buat ngerokok sambil ngerenungin seuatu. Grou gue pikir emang lebih seneng mengeksplorasi emosi yang terjadi pada 2 karakter utamanya daripada nunjukin banyak graphic violence eksplisit sebagai sajian utama.

Kita akan dibawa ikut roller-coaster emosi dari mulai ngedukung apa yang dilakukan Dr.Hamel terhadap sipelaku pembunuhan, lalu kemudian tertegun, mual, dan mulai berfikir bahwa apa yang dilakukannya sudah kelewat batas, lalu kemudian kembali dibuat geram.  Gue kasi tau aja, penyiksaannya emang nggak di sajikan terus menerus kaya yang kita liat 'The Human Centipede 2', tapi diselang seling ama cerita pelacakan polisi buat nemuin lokasi Dr.Hamel menyekap Anthony.

Tapi, sekalinya penyiksaan itu ditunjukin, percayalah itu akan membuat kamu meringis.

Terutama pada sebuah metode penyiksaan yang bisa jadi adalah salah satu yang paling nggak terpikirkan, mengerikan ( juga menjijikkan ) di sebuah adegan film.


Abis adegan diatas kita akan ngeliat Dr.Hamel perlahan-lahan ngebedah perut Anthony dan ngeluarin ususnya. Adegan ini aja sangat mengerikan ( karena dishot dengan perlahan dan close-up ) dan juga getir, ketika kita melihat Anthony yang lumpuh namun sepenuhnya sadar mulai meneteskan air mata kengerian. Tapi, apa yang sebenernya Dr.Hamel lakukan pada perut Anthony? Diadegan selanjutnya kita akan tau ketika Anthony ngeluarin tinja dari lubang di perutnya. Whattafuck?! rupanya Dr. Hamel baru aja membuat lubang diperut Anthony dan memaksa dia ngeluarin kotorannya ( berak ) dari situ?! sakit! Gue nggak tahu apakah yang kaya gituan emang bisa dilakukan? tapi, kalo nginget Dr.Hamel yang ahli bedah, yaudah gue percaya aja. Asli, adegan ini bikin lubang pantat gue nyut-nyut an.


Martin Dubreuil yang berperan sebagai Anthony, menurut gue berakting meyakinkan. Dia berhasil memainkan bermacam variasi emosi dari mulai ketakutan, kesakitan, memohon, sampe putus asa yang ngebuat gue ikut ngerasain penderitaannya. Lalu ada satu titik dimana dia kemudian berbalik mengejek, menantang, melawan serta menyerang Dr.Hamel dalam bentuk provokasi emosi dan psikis. Inget kan adegan Choi Min Sik memprovokasi Lee Byung Hun dalam I Saw The Devil ( 2010 ) ketika nyawanya udah diujung tanduk? nah, seperti itulah.

Claude Legault juga tampil bagus sebagai Dr. Hamel, kamu bisa ngelihat kepedihan, kehampaan, sekaligus kemarahan di raut wajahnya. Sementara itu, keputusan Grou buat nggak ngasih suara latar ( musik ) apapun sepanjang film ini ( termasuk di kredit titel ) membuat film ini terasa sunyi, depresif namun sekaligus menciptakan atmosfer yang lebih mencekam.

Secara keseluruhan,

Jika kamu ngarepin sebuah film horror dengan banyak adegan penyiksaan eksplisit sebagai sajian utamanya, ini jelas bukan judul yang tepat. Meski disana ada beberapa adegan yang cukup graphics, 7 Days lebih bermain di level psikologi dan emosional. Ini juga bukan jenis film hiburan dan mungkin hanya cukup ditonton sekali saja. 

Tapi, jika kamu lagi nyari sebuah alternative doom-slow paced-depressive-psycho thriller dengan tone realistik yang memiliki beberapa elemen filosofikal didalamnya, buruan sob, filmnya ada di Torrent, segera download hehe.

Trailer 

RATING:

Repulsion ( 1965 )

Posted by Ringo on 20 October 2014 , under , , , , , | comment (5)




Repulsion merupakan instalasi pertama dari trilogi apartemen Polanski yang terkenal ( Rosemary's Baby -1968- dan The Tenant -1976- ) yang mana ketiganya sama-sama mengambil  setting sebagian besar berada di dalam gedung apartemen.

Repulsion diawali dengan bola mata dan diakhiri dengan bola mata. Ini menarik, ada apa dengan mata? hmm..mungkin Polanski ingin mengatakan filmnya adalah tentang apa yang penonton lihat dan apa yang karakter dalam filmnya lihat. Atau jika benar pepatah yang mengatakan 'mata adalah jendela jiwa', Polanski mungkin hendak mengajak penonton melihat kondisi ruang kejiwaan karakternya lewat jendela mata nya.

Pemilik mata itu bernama Carol's Ledoux ( Catherine Deneuve's ). Seorang wanita Belgia yang bekerja sebagai manicurist di sebuah salon kecantikan di London. Dari awal kita sudah menduga ada yang tidak beres dengan Carol. Dia sering terlihat melamun, jarang menampakkan emosi tertentu, kikuk dan sangat pendiam. Carol tinggal dengan kakaknya, Helene (Yvonne Furneaux) di sebuah apartemen kontrakan. Keduanya pun digambarkan sangat bertolak belakang, baik dari sikap dan cara berpakaian. Helene sangat atraktif, percaya diri, mandiri,  dan 'outgoing' sementara Carol terlihat rapuh, tertekan dan hanya ingin menyendiri. Dia benar-benar 'out of place'. Bahkan ketika dibandingkan dengan kakaknya sendiri, Carol terlihat seperti makhluk asing.



Suatu hari, Helene memutuskan untuk berlibur ke luar negeri bersama pacarnya dan meninggalkan Carol sendirian di apartemen. Inilah yang menjadi titik awal dari kolapsnya kondisi kejiwaan Carol. Sang kakak yang selama ini menjadi tameng terakhir yang mampu menjaga Carol dari ketidakwarasan, kini pergi. Kehilangan tamengnya, ditinggal sendirian di dalam apartemen, teralienasi dari dunia, Carol yang awalnya hanya terlihat seperti pelamun, mulai secara perlahan terdegradasi kedalam sebuah kondisi psychosis yang berbahaya.

Di hari berikutnya, Carol mulai mengalami kegilaan, dan Polanski dengan brillian mampu mengarahkan kameramen untuk menangkap proses kegilaan itu agar bisa dirasakan audiens.

Sinematografinya kerap mengambil pendekatan 'voyeuristik'. Pada beberapa shots nya, Carol ditunjukkan berbaring di ranjang, sementara penonton seakan melihatnya dari semacam 'lubang tikus'. Kamera kemudian meluncur ke arahnya dengan cepat lalu berhenti tepat di depan wajah Carol dalam posisi tidak nyaman. Gue mengartikan gerak kamera itu sebagai satu usaha Polanski untuk nunjukin gimana persepsi pikiran Carol  menjadi tak rasional, tembok ruangan dirasakan Carol semakin mendekat, menteror dan menginvasi ruang personalnya.

Yah, sangat menarik ngeliat gimana Polanski mampu memanfaatkan ruang dan gerak kamera untuk nunjukin gimana proses kegilaan alam pikiran  itu berlangsung dan menciptakan tensi dari sana. 

Dalam Repulsion, ruang apartemen diperlakukan bukan hanya menjadi sekedar setting film, tapi secara tak disadari mampu berperan sebagai karakter penting. Seiring kondisi psikologis Carol, apartemen itu pun ikut memainkan perannya. Pada sebuah adegan, tembok tembok terlihat retak dan membentuk mulut bergigi tajam yang siap menelannya, ruang ruang pun terasa menyusut untuk menghimpitnya, di adegan lain Carol merasa ada tangan-tangan yang keluar dari tembok lorong untuk meraihnya. Ruang apartemen dirasakan Carol menjadi hidup untuk menambah kegilaannya, tapi meski demikian, apartemen itu pulalah yang dianggap menjadi satu-satunya tempat dimana Carol ngerasa aman. Petunjuknya ada dalam satu adegan dimana diperlihatkan Carol membuat barikade di pintu untuk menghalangi orang lain masuk. Dia seperti sedang membangun  pertahanan dari ancaman dunia luar yang dia pikir jauh lebih mengerikan? 

Ya, dunia kacau yang di dominasi oleh laki-laki.

Jika diperhatikan,figur lelaki dalam film ini memang secara tidak langsung banyak memberi pengaruh dalam kondisi kejiwaan Carol. Kita cek saja, Carol sering mengalami mimpi buruk dimana dia diperkosa oleh seorang pria. Lalu, Michael ( pacar Helene ), sering terdengar sedang bercinta dengan kakaknya, hal ini membuat Carol semakin muak dengan lelaki. Memang, ada seorang pria baik bernama Colin yang jatuh hati padanya, namun ketika Colin memaksa mencium bibirnya, Carol pun berubah membencinya.  Di tempat kerja, salah satu teman kerjanya bercerita bahwa dia baru saja di campakkan lelaki. Lalu ada adegan di bar di mana teman-teman Colin memandang perempuan hanya sebagai joke belaka. Juga ada adegan yang memperlihatkan segerombol pria yang menggodanya ketika sedang berjalan di luar.  Sementara itu, ada pula pria gaek pemilik apartemen yang berusaha memperkosanya, dan satu lagi, salon kecantikan tempat kerja Carol, bukankah tempat itu dibuat untuk membuat perempuan terlihat lezat dimata lelaki?


Semua faktor diatas turut mempengaruhi ketakutan Carol akan dunia luar ( terutama lelaki ) yang gue duga pencetusnya adalah sebuah pengalaman traumatis di masa kecil ( ini debatable dan hanya dugaan gue semata, karena petunjuk dari kemungkinan ini hanya berasal dari sebuah foto keluarga masa kecil yang ditunjukin di akhir film )

Fyi, ini bukan pertama kali gue nonton film yang memiliki plot 'karakter yang perlahan-lahan menjadi gila'. Ada beberapa judul lain disana. Dari yang paling fenomenal, 'The Shining', yang paling kancrut The 'Amityville Horror', sampe yang terbaru 'Honeymoon'. Tapi, kegilaan karakter dalam film-film tersebut selalu diceritakan berasal dari pengaruh luar ( eksternal ). Sebut saja karena pengaruh supranatural, sekte sesat, kemiskinan atau alien dll. Repulsion menjadi menarik, karena kegilaan karakternya bersumber dari dalam dirinya sendiri ( internal ).

Polanski tidak memerlukan hantu, pembunuh, alien, monster dll untuk menciptakan tensi dan horror. Hanya ada Carol, alam pikirannya serta ruang-ruang apartemen
Dan oh, ya satu lagi. Efek suara! Polanski memilih menggunakan soundtrack suara2 yang mengganggu, atau repetitive-noises ( detak jarum jam, bel berdentang, tetes air atau degup jantung ) pada momen2  tertentu. Ini gue pikir sangat efektif untuk membangun suasana unsettling yang tidak nyaman.

Overall, Repulsion mungkin berada dalam genre yang sama dengan  Alfred Hitchcock’s 'Psycho' ( 1960 ) , sebuah thriller-psikologi. Hanya saja film ini memilih untuk mengambil pendekatan ( juga style ) yang berbeda. Dalam Psycho, kita baru tahu Norman Bates adalah seorang psikopat di akhir cerita, di film ini kita sudah sejak awal diajak masuk ke dalam alam pikiran seseorang dengan masalah kejiwaan dan diseret untuk menyaksikan secara langsung tahap-tahap paranoid-delusional mengerikan sampai akhirnya dia mengalami kegilaan total. 


Tak diragukan lagi, Repulsion adalah salah satu yang terbaik di genre spesifiknya.

Hmmm..Meski demikian, ini jelas bukan sebuah film hiburan. Tone nya muram dan pacenya terlalu lambat dengan banyak memakai long-shot yang melelahkan. Dan nyaris sepanjang durasi, sebenernya jarang terjadi hal-hal menarik, ini bisa dipastikan akan membuat Ming tertidur pulas dan gue yakin Zombem lebih milih nonton sinetron di televisi hehe.

RATING:

Dead Man's Shoes ( 2004 )

Posted by Ringo on 28 January 2014 , under , , | comment (1)





" God will forgive them. He'll forgive them and allow them into Heaven. I can't live with that." ( Richard )

..............................

Seorang pria dengan jaket panjang dan beanie hat ( kupluk ) memasuki sebuah bar kecil di kota Midlands, lalu dengan langkah santai dia langsung mendekati pria lainnya yang sedang bermain bilyar " fucking great pills, man " bisiknya sambil memberikan sesuatu. Segera saja kita tahu pria itu adalah preman setempat yang juga merangkap drug dealer.

Sementara itu, di meja sebelah sana, duduk pula 2 orang pria. Yang satu tampak tangguh dengan brewok dan jaket army nya, yang satu lagi terlihat lebih muda serta memiliki ciri-ciri wajah yang biasanya hanya ditemui pada para penderita keterbelakangan mental.

" Here's one, bro " bisik pria muda berwajah idiot ini pada pria tangguh didepannya, matanya menunjuk ke arah pria yang memakai topi kupluk tadi. Yang di beri tahu, bagaikan senapan menemukan sasaran tembak, langsung menatap lekat-lekat ke arah target. Itu jelas tatapan penuh kebencian untuk sejenis parasit menjijikkan-menyedihkan yang hanya layak untuk di hancurkan.

Tak terima di tatap seperti itu, sang preman berkupluk membentak " What the fuck are you looking at?!" namun dia segera tercekat ketika yang di terimanya adalah geraman murka yang hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang sedang memendam dendam kesumat.


Ketika film bergulir, kita akan tahu pria ini adalah Richard ( Paddy Considine ), anggota militer yang baru saja kembali ke kota Midlands dari tugasnya di medan perang. Sementara pria lebih muda yang bersamanya adalah Anthony ( Toby Kebbell ) , sang adik yang terbelakang secara mental.

Apa yang membuat Richard memendam amarah kemudian ditunjukin lewat serangkaian flashback yang ngasih tau kita kalo ternyata ketika dirinya bertugas, Anthony, mengalami pelecehan baik mental juga fisik yang dilakukan oleh sekelompok gangster lokal yang salah satu anggotanya adalah pria berkupluk tadi.

Sekarang, Richard telah kembali ke kota kecil Midlands, dan dengan kemarahan berkobar sepertinya tak sabar untuk menghukum mereka yang telah memberi adik tercintanya penderitaan dan kehinaan. 


........................................

Dari awal, tone moody nya sudah di set. Kota kecil yang muram di Inggris utara, long-shot scene, dan ditimpali akustik lirih dari band lo-fi / alternative country 'Smog' ( cek lagunya 'Vessel in vain' --jujur setelah menonton film ini, lagu-lagu ben ini -Smog- berhasil mengkudeta posisi band lain di chart list player gue--  ), siapapun mungkin akan menyangka kalo ini adalah sebuah film indie kecil bergenre drama keluarga nan poetic dan lamban dengan dialog-dialog yang sering kali membosankan. Sama sekali nggak ada tanda-tanda violence seperti yang ditunjukin di posternya ( siluet seseorang memegang kampak, anyone? )

Tapi, itu mungkin memang atmosfir  yang dipilih Shane Meadows ( sutradara ) untuk nyeritain sisi gelap dari apa yang pernah terjadi di kota kecil Midlands. 

Plotnya sendiri sangat simple. Sebuah straight revenge story. Seorang kakak ( Richard ) kembali dari tugas militernya, dan nemuin kenyataan kalo sang adik tercinta telah mengalami pelecehan baik mental dan fisik oleh sekelompok preman. Kepedihan dan amarah membuncah, dan dendam harus terbalaskan. sesimple itu.

Menarik ngeliat gimana Richard ( Paddy Considine ) yang seorang anggota militer sengaja menggunakan mind games untuk meneror mental para bromocorah kecil ini sebelum mengeksekusinya satu demi satu dengan dingin. Jika John Rambo ( yang sama2 memiliki skill militer  ) ada di posisi yang sama dengan Richard, dia pasti lebih memilih untuk menghamburkan sebanyak mungkin peluru, granat, dan tembakan bazooka ke markas musuh, meledakannya dengan brutal untuk kemudian berjalan dengan tenang membelakangi ledakan sambil menghisap rokoknya. Haha.  Richard tidak seperti itu, dia terlihat mampu memanipulasi emosi, lebih dingin, namun di bagian dalam memiliki kepedihan dan kemarahan yang terasa lebih panas dari apapun.  

Menarik pula ngeliat reaksi para preman ketika berhadapan dengan terror Richard. Kita akan menyadari, kalo orang2 ini sebenarnya hanya pecundang dan pemabuk kecil. Premdes ( preman desa ) yang meski bertingkah laku mengesalkan ( dan bermulut kotor,tercatat kalimat 'fuck' diucapkan sebanyak 116 kali dengan logat british yang kental ), namun sebenarnya memiliki track record yang tidaklah sejahat itu.  Berhadapan dengan Richard yang marah, preman2 ini dengan cepat dilanda kepanikan. Mereka sempat mencoba melawan, namun akhirnya hanya berujung pada kepanikan yang jauh lebih besar. Ini secara aneh, menciptakan tawa ( komedi ) diantara gelapnya cerita, soundtrack yang lirih dan kekerasan yang cukup disturbing disana-sini


Pada satu titik, gue bahkan sampe ngerasa kasihan pada para premdes ini dan ngerasa apa yang dilakukan Richard sudah kelewat batas. Untungnya, film yang skripnya ditulis sendiri oleh sutradara dan aktor utamanya ini, meninggalkan cukup ruang untuk 'belokan' diujung cerita, kejutan  ini sekaligus ngejelasin kenapa Richard menjadi demikian brutal dan tanpa kompromi. Twist yang tidak terlalu krusial memang, namun berhasil membuat gue dengan sukarela menambahkan beberapa bintang lagi untuk film yang menyabet Best British Independent Film ( 2004 ) ini.

Tensionnya sendiri dibangun perlahan dengan pacing yang terjaga, tak pernah menjadi draggy, dan pemilihan soundtrack2nya sangat membantu menciptakan mood dan atmosfir yang hendak dicapai. Diatas semuanya, yang paling menarik, dengan cerita yang simpel, film ini memilih jalan yang jarang ditempuh film lain : fokus pada emotional-depth yang untungnya buat gue terasa jujur . ( oke, sedikit didramatisir dibagian akhir sih, tapi itu minor-problem aja buat gue hehe ).

Sementara itu, semua cast bermain cemerlang , highlight untuk Paddy Considine ( doi memenangkan Best Actor di British Independent Film Award 2004 ) dan Toby kebbel yang memerankan pria terbelakang mental, berhasil meraih Most Promising Newcomer di ajang yang sama ( yang hebatnya, dikasting hanya sehari sebelum suting dimulai ). 



So, overall, 

setelah cukup banyak menonton film2 bertema revenge dari Korea Selatan yang sakit, dan film2 action-thriller-revenge 80-an yang silly-cheesy-fun, sangat menyegarkan buat gue bisa menonton film bertema revenge dengan atmosfer yang unik dan berbeda.

Sebuah edgy-thriller-revenge-dark-comedy yang disturbing, menyedihkan namun juga puitis.

Gue tak ragu, menempatkan 'Dead Man's Shoes' dalam daftar film-film  revenge terbaik. Tentu saja, versi personal hehe.  

...........................................


TRAILER

RATING:

Related Posts with Thumbnails