The Night Comes For Us

The Night Comes For Us

MATI 1/2 HIDUP

MH

Dead Man's Shoes ( 2004 )

Posted by Ringo on 28 January 2014 , under , , | comment (1)





" God will forgive them. He'll forgive them and allow them into Heaven. I can't live with that." ( Richard )

..............................

Seorang pria dengan jaket panjang dan beanie hat ( kupluk ) memasuki sebuah bar kecil di kota Midlands, lalu dengan langkah santai dia langsung mendekati pria lainnya yang sedang bermain bilyar " fucking great pills, man " bisiknya sambil memberikan sesuatu. Segera saja kita tahu pria itu adalah preman setempat yang juga merangkap drug dealer.

Sementara itu, di meja sebelah sana, duduk pula 2 orang pria. Yang satu tampak tangguh dengan brewok dan jaket army nya, yang satu lagi terlihat lebih muda serta memiliki ciri-ciri wajah yang biasanya hanya ditemui pada para penderita keterbelakangan mental.

" Here's one, bro " bisik pria muda berwajah idiot ini pada pria tangguh didepannya, matanya menunjuk ke arah pria yang memakai topi kupluk tadi. Yang di beri tahu, bagaikan senapan menemukan sasaran tembak, langsung menatap lekat-lekat ke arah target. Itu jelas tatapan penuh kebencian untuk sejenis parasit menjijikkan-menyedihkan yang hanya layak untuk di hancurkan.

Tak terima di tatap seperti itu, sang preman berkupluk membentak " What the fuck are you looking at?!" namun dia segera tercekat ketika yang di terimanya adalah geraman murka yang hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang sedang memendam dendam kesumat.


Ketika film bergulir, kita akan tahu pria ini adalah Richard ( Paddy Considine ), anggota militer yang baru saja kembali ke kota Midlands dari tugasnya di medan perang. Sementara pria lebih muda yang bersamanya adalah Anthony ( Toby Kebbell ) , sang adik yang terbelakang secara mental.

Apa yang membuat Richard memendam amarah kemudian ditunjukin lewat serangkaian flashback yang ngasih tau kita kalo ternyata ketika dirinya bertugas, Anthony, mengalami pelecehan baik mental juga fisik yang dilakukan oleh sekelompok gangster lokal yang salah satu anggotanya adalah pria berkupluk tadi.

Sekarang, Richard telah kembali ke kota kecil Midlands, dan dengan kemarahan berkobar sepertinya tak sabar untuk menghukum mereka yang telah memberi adik tercintanya penderitaan dan kehinaan. 


........................................

Dari awal, tone moody nya sudah di set. Kota kecil yang muram di Inggris utara, long-shot scene, dan ditimpali akustik lirih dari band lo-fi / alternative country 'Smog' ( cek lagunya 'Vessel in vain' --jujur setelah menonton film ini, lagu-lagu ben ini -Smog- berhasil mengkudeta posisi band lain di chart list player gue--  ), siapapun mungkin akan menyangka kalo ini adalah sebuah film indie kecil bergenre drama keluarga nan poetic dan lamban dengan dialog-dialog yang sering kali membosankan. Sama sekali nggak ada tanda-tanda violence seperti yang ditunjukin di posternya ( siluet seseorang memegang kampak, anyone? )

Tapi, itu mungkin memang atmosfir  yang dipilih Shane Meadows ( sutradara ) untuk nyeritain sisi gelap dari apa yang pernah terjadi di kota kecil Midlands. 

Plotnya sendiri sangat simple. Sebuah straight revenge story. Seorang kakak ( Richard ) kembali dari tugas militernya, dan nemuin kenyataan kalo sang adik tercinta telah mengalami pelecehan baik mental dan fisik oleh sekelompok preman. Kepedihan dan amarah membuncah, dan dendam harus terbalaskan. sesimple itu.

Menarik ngeliat gimana Richard ( Paddy Considine ) yang seorang anggota militer sengaja menggunakan mind games untuk meneror mental para bromocorah kecil ini sebelum mengeksekusinya satu demi satu dengan dingin. Jika John Rambo ( yang sama2 memiliki skill militer  ) ada di posisi yang sama dengan Richard, dia pasti lebih memilih untuk menghamburkan sebanyak mungkin peluru, granat, dan tembakan bazooka ke markas musuh, meledakannya dengan brutal untuk kemudian berjalan dengan tenang membelakangi ledakan sambil menghisap rokoknya. Haha.  Richard tidak seperti itu, dia terlihat mampu memanipulasi emosi, lebih dingin, namun di bagian dalam memiliki kepedihan dan kemarahan yang terasa lebih panas dari apapun.  

Menarik pula ngeliat reaksi para preman ketika berhadapan dengan terror Richard. Kita akan menyadari, kalo orang2 ini sebenarnya hanya pecundang dan pemabuk kecil. Premdes ( preman desa ) yang meski bertingkah laku mengesalkan ( dan bermulut kotor,tercatat kalimat 'fuck' diucapkan sebanyak 116 kali dengan logat british yang kental ), namun sebenarnya memiliki track record yang tidaklah sejahat itu.  Berhadapan dengan Richard yang marah, preman2 ini dengan cepat dilanda kepanikan. Mereka sempat mencoba melawan, namun akhirnya hanya berujung pada kepanikan yang jauh lebih besar. Ini secara aneh, menciptakan tawa ( komedi ) diantara gelapnya cerita, soundtrack yang lirih dan kekerasan yang cukup disturbing disana-sini


Pada satu titik, gue bahkan sampe ngerasa kasihan pada para premdes ini dan ngerasa apa yang dilakukan Richard sudah kelewat batas. Untungnya, film yang skripnya ditulis sendiri oleh sutradara dan aktor utamanya ini, meninggalkan cukup ruang untuk 'belokan' diujung cerita, kejutan  ini sekaligus ngejelasin kenapa Richard menjadi demikian brutal dan tanpa kompromi. Twist yang tidak terlalu krusial memang, namun berhasil membuat gue dengan sukarela menambahkan beberapa bintang lagi untuk film yang menyabet Best British Independent Film ( 2004 ) ini.

Tensionnya sendiri dibangun perlahan dengan pacing yang terjaga, tak pernah menjadi draggy, dan pemilihan soundtrack2nya sangat membantu menciptakan mood dan atmosfir yang hendak dicapai. Diatas semuanya, yang paling menarik, dengan cerita yang simpel, film ini memilih jalan yang jarang ditempuh film lain : fokus pada emotional-depth yang untungnya buat gue terasa jujur . ( oke, sedikit didramatisir dibagian akhir sih, tapi itu minor-problem aja buat gue hehe ).

Sementara itu, semua cast bermain cemerlang , highlight untuk Paddy Considine ( doi memenangkan Best Actor di British Independent Film Award 2004 ) dan Toby kebbel yang memerankan pria terbelakang mental, berhasil meraih Most Promising Newcomer di ajang yang sama ( yang hebatnya, dikasting hanya sehari sebelum suting dimulai ). 



So, overall, 

setelah cukup banyak menonton film2 bertema revenge dari Korea Selatan yang sakit, dan film2 action-thriller-revenge 80-an yang silly-cheesy-fun, sangat menyegarkan buat gue bisa menonton film bertema revenge dengan atmosfer yang unik dan berbeda.

Sebuah edgy-thriller-revenge-dark-comedy yang disturbing, menyedihkan namun juga puitis.

Gue tak ragu, menempatkan 'Dead Man's Shoes' dalam daftar film-film  revenge terbaik. Tentu saja, versi personal hehe.  

...........................................


TRAILER

RATING:

Beranak Dalam Kubur ( Birth In The Tomb ) 1971

Posted by Ringo on 20 August 2013 , under , , | comment (5)



Perbincangan bersama beberapa kawan lama malam itu tiba-tiba saja nyampe pada obrolan seputar hal-hal mistis di kampung gue. Meski menyeramkan, obrolan ini lebih sering malah berakhir dengan gelak tawa karena menyadari betapa konyolnya cerita itu. Lalu entah gimana awalnya, obrolan mulai bergeser ke soal film horor. Tentang pilem2 almarhum Suzzanna, Joyce Erna, nyampe ke pilem2 horor lokal kekinian yang berujung dengan perdebatan tentang payudara siapa yang paling montok. Hingga akhirnya pertanyaan krusial itu terlontar dari salah satu temen " pilem horror lokal apa yang menurut kamu paling serem ?" 

Judul 'Pengabdi Setan' langsung disebut si Wandi, lalu ada judul-judul seperti 'Keramat, 'Sundel Bolong', 'Malam satu Suro', 'Jelangkung', 'Pocong' dll silih berganti di sebut. Si Tatang malah menyebut 'Air Terjun Penganten' sebagai pilem horor lokal terbaik versinya. Gue pengen ketawa, tapi urung ketika ngeliat mimiknya yang serius. Baiklah, sori. 

Tapi asli, ini bikin gue mengerutkan jidat, tentu gue setuju kalo beberapa pilem yang disebut diatas emang beneran serem ( juga menghibur ), tapi kenapa tak ada yang menyebut judul 'Beranak Dalam Kubur? ( BDK )'. Biar gue ceritain kenapa BDK gue anggep sebagai salah satu pilem horor lokal yang paling menyeramkan bahkan merupakan yang terbaik yang pernah di produksi sineas kita.

..................................

Storyline :


BDK menceritakan tragedi yang menimpa keluarga pemilik perkebunan di kampung Ciganyar. Lila ( Suzanna ) adalah puteri kandung sang juragan perkebunan ( Ami Priyono ). Malangnya, dia di benci oleh sang ibu tiri dan sering terlibat konflik dengan Dora ( Mieke Wijaya ), saudara tiri nya.

Lila kemudian memilih untuk pergi ke kota. Bertahun-tahun kemudian, Ketika Lila telah beranjak dewasa, dia kembali ke kampung halaman bersama suaminya ( Cliff Sangra ) untuk menjenguk sang ayah yang sakit-sakitan. Konflik lama dengan Dora pun kembali menyeruak. Dora yang kini telah mengambil alih kontrol perkebunan dan menjadi diktator-maniak di Ciganyar, berusaha dengan segala cara untuk menghabisi Lila. Dia akhirnya berhasil membunuh Lila yang saat itu tengah hamil tua dan menguburnya, namun penguburan itu gagal ketika tiba-tiba bayi Lila ternyata lahir di sana. 

Sejak saat itulah, tersiar kabar di antara warga desa tentang arwah non Lila yang bergentayangan, kabar ini akhirnya sampai di telinga Dora..dan teror mulai menghinggapinya.

Review :

Warning! this review contains minor spoiler.

Kisah pilem ini diangkat dari komik Ganes TH berjudul 'Tangisan di Malam Kabut' ( pilem Suzzanna sebelumnya, 'Tuan Tanah Kedawung' pun diangkat dari komik berjudul sama yang juga merupakan karya Ganes TH ). 

'Beranak dalam Kubur'  konon juga sering dipentaskan kelompok sandiwara sunda Miss Tjitjih ( sebuah kelompok sandiwara yang eskis sejak taon 1928 dan sering mementaskan lakon bergenre horor legenda-lokal, seperti 'Beranak dalam Kubur', 'Si Manis Jembatan Ancol' atau 'Kuntilanak Waru Doyong'.) Gue berusaha mencari informasi tentang siapa yang lebih dulu mengangkat kisah ini, komiknya atau sandiwaranya kah? namun sayang, gue gagal mendapat info yang memadai.

Ketika tombol play di tekan, musik latar eerie khas horror jadul langsung menyergap dan ngasih tau kalo kisah yang hendak di ceritakan adalah sebuah kisah kelam nan tragis. Berikutnya yang menyita perhatian gue adalah setting perkebunan Ciganyar yang luas, rumah megah Dora beserta properti didalamnya dan desain baju yang dipakai tokoh-tokohnya. Semuanya sangat mendukung mood dan atmosfir yang hendak dicapai. 

Mieke Wijaya sendiri 'mencuri' show dengan perannya sebagai Dora, penguasa desa Ciganyar yang kejam. 


Menunggangi kuda, memakai seragam ala militer, sepatu lars, memegang cemeti, dan didukung struktur wajahnya yang terlihat selalu cemberut, Mieke Wijaya nampak sempurna berperan sebagai penindas lalim. Dominasi aktingnya menurut gue mampu menenggelamkan Suzanna yang tetap dengan peran generiknya : wanita baik hati lemah yang teraniaya. Mungkin ini satu-satunya pilem dimana lawan main Suzanna justru terlihat lebih seram dari dirinya.

Menyoal judul yang dipake, 'Beranak Dalam Kubur' ini sebenarnya salah satu hal yang bikin gue sedikit kecewa karena nggak ngedapetin display vulgar dari adegan Suzanna melahirkan bayinya didalam kubur ( bahkan tak ada kejelasan cerita lebih lanjut mengenai bayi yang dilahirkannya ) hehe. Menurut gue, judul asli komiknya 'Tangisan di Malam Kabut' jelas jauh lebih cocok buat pilem ini, yah okelah, mungkin ada pertimbangan marketing disana. Meski begitu, percayalah adegan penguburan mayat Lila disini tetap menyeramkan. 

Disamping menampilkan beberapa adegan graphics seperti orang yang dililit puluhan ular atau bola mata yang dipatuki burung-burung, kekuatan utama pilem ini terletak pada narasinya. 

Sutradara Awaludin dan co-director Ali Shahab  tidak hanya sekedar sibuk menampilkan sebanyak mungkin wajah buruk dari  kematian, namun juga fokus pada cerita, tone dan pembangunan atmosfir, lalu ketika nyampe pada momen yang dianggap tepat, dengan jitu mereka memilih untuk membidik psikologis penonton. 

Hasilnya adalah teror yang merayap pelan dibawah kulit. Inilah salah satu keunggulan gaya narrative horror yang banyak di pake sinema horror era 70-90 an kita, tak ada visual-visual bombastis disana ( juga tak ada sekuen2 mengagetkan dengan trik curang yang menyebalkan itu  ) , semuanya terasa sederhana saja. Tapi impact yang dihasilkan jauh lebih efektif dan membekas. 

Coba cek bagaimana sutradara mampu mengubah suara tetesan air di wastafel menjadi terasa begitu menggelisahkan, atau baiklah gue mengaku kalo lambaian gaun putih dari balik jendela itu udah berhasil maksa gue mematikan pilem untuk sementara saking takutnya haha. Efek seramnya bahkan menjadi berlipat2 karena didukung musik latar nan eerie lengkap dengan efek kesiuran angin, lolongan serigala dan sesekali gemuruh petir.

Yang paling menarik ketika menonton kembali BDK adalah saat menyadari kalo cerita pilem ini sebenernya bukanlah sebuah kisah demonic-horor, namun lebih ke drama-tragedi. 
Penulis skenario ( Sjumandjaja ) meminjam mitos mistis yang sering beredar di masyarakat, kemudian sutradara dengan cerdik mengeksekusinya dengan scare-tactics ala pilem horor.

Ini kejutan yang menyenangkan, terutama kalo nginget kebanyakan pilem horror lokal kita biasanya sangat predictable dengan menceritakan kemunculan hantu sebagai bangkitnya arwah dari dunia lain, untuk kemudian cukup mengakhirinya dengan kedatangan kiai dan lantunan ayat kursi.  Yah, kalian akan mendapatkan twist disini.


Kalo diperhatikan lebih jauh,  kisah pilem ini juga mampu menangkap dan memberi komentar sosial tentang kondisi psikologis masyarakat era represif awal orde baru yang terkesan tunduk dan tak berdaya menghadapi kediktatoran serta demikian mudah mengaitkan segala sesuatu dengan klenik mistis.
Gue menduga, kesuksesan pilem inilah yang membuka mata produser lain untuk memproduksi banyak sekali pilem horror bertema legenda urban yang dimulai pada awal 80-an dengan meledaknya 'Sundel Bolong'. Pilem ini pula yang menandai kehadiran almarhum Suzanna sebagai 'sang ratu' di jagad sinema horror lokal. Kita tau sebelum pilem ini, beliau lebih dikenal sebagai artis yang bermain di pilem2 drama dewasa.  Hanya sayang, ( meski untungnya sangat menghibur dan memorabel ) pilem2 horror Suzanna berikutnya gue pikir nggak ada satupun yang mampu menyamai kualitas dari 'Beranak Dalam Kubur'.  Mungkin kasusnya sama kaya gimana pada awal 2000-an kemaren 'Jelangkung'  telah memicu gelombang horror yang sayangnya pula sebagian besar dari mereka diproduksi dengan effort minimal yang buat gue sama sekali tak menghibur ( kecuali mungkin untuk geng masokis 'Vividsm' ).

Overall, Ini adalah pilem horror terbaik Suzzanna,  yang juga merupakan pilem horror terbaik yang pernah diproduksi sineas kita.

.......................................

Begitulah gue menjawab pertanyaan " pilem horror lokal apa yang menurut kamu paling serem ?" yang dilontarkan temen gue malam itu. Tak ada komentar dari temen-temen. Sunyi senyap. Krik krik. Mereka keliatan mengantuk dan tak peduli. Hingga akhirnya Tatang yang sepanjang gue ngoceh terlihat rakus menyantap mie ayam, melontarkan pertanyaan susulan..

" ada adegan telanjang nya nggak? "

DANI MORENO'S SHORT-MOVIES : "Attack of the Mutant Dick from Outer Space" & "Martians Go Home!"

Posted by Ringo on 13 August 2013 , under , | comment (0)




Dani Moreno. Tidak banyak yang gue tahu mengenai sutradara asal Spanyol ini selain kalo konon orang ini udah  membuat film horror kecil dari tahun 1997 dan merupakan pendiri situs 'Chaparra Entertainment', sebuah situs yang menawarkan produksi audiovisual ( video klip, film seri, film pendek juga materi promosi ) yang kerennya semuanya dikerjakan dengan mengambil semangat sinema horror tahun 80-an atau yang oleh mereka disebut bergenre "fantaterrorífico".

Ini salah satu band 'garapan' Chaparra Entertainement.

Motorzombis.


Dan ini salah satu pidio klipnya. haha



Selain mendirikan Chaparra Entertainment, Dani Moreno bareng gengnya juga meneribtkan fanzine 'Amazing Monsters' dan beberapa komik. Whoa!

fanzinenya nih bro :


Nah cuma itu doang informasi tentang Dani Moreno hasil browsang-browsing  yang gue dapet, tapi hanya dari ngebaca secuil track-rekord nya diatas saja, ini rasanya kaya misalnya suatu hari lu naik angkot mau ke bioskop buat nonton pilem horor, dan kemudian lu sadar kalo penumpang yg pake kaos Chuck Norris di samping lu ternyata punya tujuan yg sama, dia bahkan mamerin dvd bajakan yang baru dibelinya yang ternyata adalah pilem2 horor jelek. Kayanya lu nggak perlu tau lebih banyak lagi deh. Dia jelas orang yang punya selera sama anehnya sama lu ( ada kemungkinan dia cuma tukang dvd bajakan sih..). Apapun, itu nyenengin.

Nah, mumpung masih di bulan Syawal nan penuh berkah ini, sekarang gue pengen berbagi kegembiraan karena menemukan film2 pendeknya yang ternyata sangat hilariously-fun.

Cek,


.....................................................

Attack of the Mutant Dick from Outer Space


Serangan titit mutan dari luar angkasa? Coba siapa yang bisa menolak judul kaya gitu? haha. Ini ceritanya tentang sekelompok peneliti yang melakukan ekspedisi ke luar angkasa buat nemuin obat penangkal dari virus yang ngerubah anak2 menjadi werewolf ( wtf! ). Malang, ketika memasuki area yang penuh sinar gamma, salah satu awak peneliti mereka yang cabul ( Dr.Dickinson ) rupanya sedang asyik onani tanpa memakai helm pelindung. Akibatnya, radiasi sinar gamma itu ngerubah Dr.Dickinson menjadi penis-mutan yang akan memuncratkan sperma ke siapa aja di dekatnya. Lebih buruk lagi, sperma mutan ini bisa ngelumerin daging korbannya. Haha.

Merhatiin judulnya, formatnya yang item-putih, dan beberapa adegannya yang jelas merupakan homage  dari beberapa judul cult yang pasti kamu kenal, kayanya ini lebih merupakan tribute ( atau bolehlah dibilang parodi ) untuk sinema scifi-monster-exploitation era 50-an, kalian bisa nemuin petunjuknya disini : science nggak masuk akal, kostum mutan/monster buruk, dialog cheesy & hilarious line, sinar2 laser, scoring yang sebagian besar dibuat dengan Theremin, akting over, efek stop-motion, dan kalian juga bisa nemuin 'multiple image on a single frame' kaya yang udah gue ceritain di review 'The Fly' ( 1958).  Tambahin itu ama materi2 humor-cabul dan oh iya, ini cukup aneh, mereka membuat beberapa momen hilarious-silly-death scenenya dalam format 3D! Haha, entah kenapa, ini bikin gue ngakak. Gokiil pol!

Segera streaming! durasi 26 menit aje.


Versi yang ada subtitle nya nih bro :

http://www.dailymotion.com/video/xsfzla_attack-of-the-mutant-dick-from-outer-space-subtitled-shortfilm-by-dani-moreno_shortfilms

.......................................

Martians Go Home! (2006)


Nah, kalo yang ini  sebenernya dibuat satu tahun sebelum film 'Attack of the Mutant Dick from Outer Space'.  Di pilem yang udah gue ceritain diatas, segalanya terlihat raw ( atau memang sengaja dikesankan seperti itu hehe ) Tapi, disini dia  nunjukin kalo dia bisa aje bikin pilem lebih rapih.  

Bersetting di taon 1986, pilem yang juga diputar di gelaran festival Sitges 2006 ini bercerita tentang Fran, seorang remaja pecundang yang membuat sendiri alat musik Theremin dengan harapan dia bisa berkomunikasi dengan idolanya, Sara Clockwork ( artis Theremin yang hilang secara misterius ditengah pertunjukannya di tahun 1928. ). Tanpa Fran sadari, gelombang suara dari alat musiknya mengundang Alien mars untuk menginvasi bumi haha.

'Martians Go Home!' ( awas, jangan ketuker ama versi yang rilis taon 1989 ) terasa seperti sebuah pilem beneran yang di buat di tahun 80-an. Akting, efek, cerita, dan segala aspek teknisnya jauh lebih solid dari 'Attack of The Mutant Dick From Outer Space'. Ini  ngingetin gue ama progress signifikan yang terjadi pada Peter Jackson setelah dia nyelesein 'Bad Taste'. Jadi, gue heran kenapa sampe sekarang belum ada produser yang segera ngasih dia duit banyak buat segera bikin pilem sih!

Pilem berdurasi 20 menit ini juga punya segala hal yang biasa kamu liat di pilem horror-monster 80-an : momen2 hilarious ( cek aksi Fran ngeledakin kepala Alien2 dengan gitar-theremin nya haha ), lendir hijau, cairan-cairan 'eeyuuuhh', exploding-head, gimbot, monster karet, dan tentu saja..Theremin! Mungkin kalian juga akan tersenyum lebar kala bisa menemukan adegan yang jelas merupakan homage dari beberapa judul pilem horror cult  atau bahkan dari sebuah gim arcade klasik. haha!

Ngomongin Theremin, jujur gue baru tau kalo suara mendenging aneh yang biasa gue denger di pilem horror 50-80an ternyata berasal dari alat musik yang juga aneh ini. Gue bilang aneh, soalnya cara maennya  dilakukan tanpa menyentuh instrumennya sendiri. 

Cek aja nih bro :


Seperti halnya Fred Dekker, Dani Moreno, nggak pernah memaksudkan pilemnya menjadi cult atau 'so bad it's good' movie, dia hanya sedang bersenang-senang mengerjakan sesuatu yang sangat di gemarinya ( dikaguminya ). Kaga urusan lah hasilnya kaya apaan, yang jelas keliatannya dia udah seneng-seneng dengan ngeluarin semua referensi dan skill yang dia punya. effortnya pol. seneng-senengnya juga pol. Ini bahkan jauh lebih nyenengin dari Frankenstein's Army, salah satu judul yang cukup gue antisipasi sejak lama, tapi pas ditonton ternyata nggak ninggalin impresi apa-apa. Ide hilarous yang di garap terlalu serius dan ambisius, biasanya berakhir seperti itu. 

Untuk sekarang,  apa yang dibuat Dani Moreno memang masih sekedar film pendek yang merupakan tribut untuk sinema "fantaterrorífico" era 50-80an, boleh dibilang hanya 'proyek seneng-seneng'. 

Tapi gue yakin kalo aja orang ini dikasih cukup kesempatan buat terus bikin pilem, pada akhirnya dia akan memiliki sentuhan personalnya sendiri untuk kemudian menjadi salah satu sutradara yang diperhitungkan di genre spesifiknya.

Liat poto Dani Moreno dan gengnya di bawah ini, orang laen mungkin hanya akan ngeliat ' segerombol om-om nggak jelas' disana, tapi gue bisa ngeliat sesuatu terpancar dengan jelas, sesuatu yang udah lama hilang dari orang-orang yang sebenernya udah mati ketika mereka masih hidup,

PASSION!!

Awesome job, Dani Moreno!

Nah, tunggu apa lagi, langsung striming aje pilemnya :D


Selamat hari raya Idul Fitri. Long live Monsters!

THE FLY ( 1958 )

Posted by Ringo on 24 July 2013 , under , , , , , , , , | comment (2)



Storyline :

Apa yang terjadi dalam 'The Fly'  dimulai ketika pada suatu hari Francois Delambre ( Vincent Price ) mendapat telepon dari Helen ( adik iparnya  ). 

Helen mengaku, bahwa dia telah membunuh Andre ( suaminya ) di laboratorium kerjanya. Francois pun terkejut bukan kepalang, karena pasangan suami-istri yang sudah dikarunai seorang putera ( Phillip ) ini sebelumnya tidak pernah mempunyai masalah apapun.

Ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, Francois bersama inspektur Charas segera melakukan investigasi. Hal yang membuat mereka bingung adalah, ekspresi Helen terlihat tidak terlalu berduka. Dia bahkan mampu menceritakan kronologi pembunuhan suaminya dengan tenang. Inspektur Charas langsung menyimpulkan kalo Helen telah menjadi gila. Namun, Francois tak percaya itu. Dia yakin ada yang disembunyikan pada kasus ini, terutama karena Helen sering bertingkah aneh ketika melihat seekor lalat.

Pada suatu hari, putera Helen ( Phillip ), bercerita pada Francois kalo ibunya memang sedang mencari seekor lalat. Bukan sembarang lalat, yang dicarinya adalah seekor lalat berkepala putih dan berkaki aneh.

Lalat berkepala putih dan berkaki aneh??

Demi bisa menguak misteri ini, Francois berpura-pura telah menangkap 'lalat berkepala putih' itu dan akan memberikannya kepada Helen, asalkan dia mau menceritakan penyebab kenapa pembunuhan itu bisa terjadi.

Helen setuju. Dan dia mulai menceritakan kisah mengerikannya.....

Flashback.

Review 



The Fly ( disutradari oleh Kurt Neumann ) adalah adaptasi dari sebuah cerpen karya George Langelaan yang di publikasikan di majalah Playboy setahun sebelum filmnya rilis. Ini sebenernya membuat gue sedikit mengerutkan jidat, maksudnya, majalah Playboy jadul menyediakan rubrik khusus buat cerpen2 horror-scifi gitu?

Jika kalian tertarik membaca versi cerpennya, silahkan klik link di bawah ini : http://alancook.wordpress.com/tag/the-fly-by-george-langelaan/ 

Apapun itu, hasil 'ngelamun' Langelaan cukup menarik, juga menghibur. hehe.

Premisnya  sederhana saja : kecelakaan-eksperimen-laboratorium.


Suami Helen, Andre adalah seorang ilmuwan yang sedang menyelesaikan sebuah penemuan besar yang dia beri nama : transporter. Itu adalah sebuah alat teleportasi dimana Andre bermimpi bisa memindahkan suatu obyek dengan cara memecah struktur atomnya, lalu menggabungkan kembali pecahan atom tersebut menjadi bentuk utuh seperti semula di tempat lain.  Nah, kecelakaan terjadi ketika dia sedang menguji-coba alat itu dengan menteleportasikan dirinya sendiri. Tanpa diduga, ternyata seekor lalat ikut masuk ke dalam alat transporter tersebut. Hasilnya sungguh menyeramkan, atom2 Andre dan atom2 lalat itu tercampur yang akhirnya malah menghasilkan 2 makhluk hybrid. Andre dengan kepala dan lengan seekor lalat, dan lalat dengan kepala dan kaki David!

...................

Di era 50-an, dimana semua jenis serangga dan hewan akan dengan mudah menjadi monster-mutan tiap kali dia dijadiin eksperimen, wajar kalo gue mengira ini juga akan menjadi film scifi eksploitasi yang hilariously-awful dimana nantinya makhluk hybrid setengah manusia -setengah lalat ini akan mengamuk dan meneror kota, nyaplokin orang-orang, abis itu akan ada sepasukan tentara dengan tank dan pesawat tempur nembakin monster ini. Sang monster meledak. The End. Gue pun tidur dengan damai.

Tapi, ( seperti halnya ketika nonton Forbidden Planet ), sekali lagi perkiraan gue salah. Ini sekaligus ngebuktiin kalo anggapan gue pada film scifi monster 50-an terlalu general. Alias sebenernya masih ada banyak scifi-horror di era itu yang nggak ikut arus membuat sebuah cheap-monster-exploitation.

Seperti yang udah gue ceritain pada storyline diatas, awalnya penonton dibawa pada sebuah misteri-pembunuhan yang terasa  suspenseful. Lalu ketika flashback bergulir, dimana Helen mulai menceritakan kronologi pembunuhannya, suspense itu berubah menjadi thriller.


Andre, ( yang tidak bisa berbicara karena kepalanya sudah berubah menjadi kepala lalat ) mencoba menyembunyikan horor yang menimpanya pada Helen dengan menutupi kepalanya dengan kerudung. Hingga menjelang akhir, Helen tidak mengerti apa yang sebenarnya menimpa suaminya. Kenapa dia menutupi kepalanya dan tak berbicara? kenapa suaminya menyuruh dia menangkap lalat berkepala putih? Interaksi keduanya pun terjadi tanpa dialog, hanya menggunakan ketukan di meja, atau tulisan di secarik kertas. Pada momen ini, film menjadi terasa mencekam dan penonton yang sebenarnya udah mulai bisa menerka apa yang terjadi, dibuat tetap mengantisipasi kejadian berikutnya.

So, alih-alih sebuah film monster-exploitation, The Fly justru memilih untuk menjadi horror-thriller dengan elemen suspense dan  drama didalamnya. Kalo boleh dibandingin, ini lebih kerasa kaya apa yang sering ditawarin Edgar Allan Poe dalam kisah2 horrornya. Artinya kamu nggak akan melihat muncratan darah berlimpah, organ-organ tubuh yang beterbangan, body-count dalam jumlah massif, atau penampakan monster yang sangat detail. Cerita digulirkan dari sudut pandang protagonis kita  ( yang tidak tahu apa yang terjadi ) untuk mengajak audiens nya ikut merasa penasaran, gelisah, tercekam, dan mengantisipasi. Dengan ini, ketika akhirnya pada titik klimaks horror itu tampil, kengerian yang dihasilkan diharapkan tidak hanya terasa dipermukaan, namun mampu menyelinap di bawah kulit. menggigit dan meninggalkan bekas disana.

Beruntung, The Fly mempunyai deretan cast kompeten untuk mendukung script yang udah terstruktur rapi didalamnya. Semuanya tampil cukup untuk kebutuhan film.  Namun, Kevin Price ( Francois ) berhasil mencuri perhatian, meski perannya nggak terlalu sentral disini. Browsing sana sini ternyata do'i emang salah satu aktor idola untuk genre horror era itu.


Kurt Neumann 'The Fly' juga punya adegan creepy-unsettling ( atau mungkin malah silly-cheesy, tergantung gimana selera kamu hehe ) yang dikenal dengan adegan " help mee..help meee, please ". Gue tidak ingin terlalu banyak memberikan spoiler, tapi bisa gue bayangin adegan itu pastinya sangat menghantui dan membekas di benak penonton ( pada era itu ) untuk jangka waktu yang lama. silahkan kalian cari sendiri adegan itu hehe

Spesial-efeknya sendiri bisa gue bilang cukup aje. Tidak over-the-top tidak pula keterlaluan konyol. Adegan Helene menjerit ditampilkan dalam satu frame berisi multiple-images untuk mengesankan sudut pandang seekor lalat , cukup kreatif ( tapi, emang gitu ya sudut pandang lalat?? ). Ngomongin adegan ini, konon aktris pemerannya ( Patricia Owens ) emang beneran takut ama serangga ( termasuk lalat ), dan demi mendapat reaksi jujur, sepanjang syuting sutradara sengaja menyembunyikan make-up kepala lalat yang dipake aktor David Hedison, dia baru nunjukin make-up itu ketika tiba waktunya pengambilan gambar adegan menjerit haha.

Gue ngebayangin sutradaranya ngomong gini sebelum nunjukin make-up kepala lalat itu,  
" Patricia,.peek a boooo! "

ternyata ekspresinya sama kaya pas cewe gue dulu denger kalimat '..tadi dimasukin di dalam'
Sementara itu, 'lubang-plot' yang bertebaran tidak terlalu merisaukan gue, tapi satu hal yang paling membuat gue kecewa adalah bagian konklusi akhir ceritanya, itu kaya terlalu di buat-buat, terlalu main aman agar bisa memenuhi selera kebanyakan penonton. Bukan apa-apa, kalo gue baca versi cerpennya, dia punya ending yang sangat creepy. Nah, kalooo aja ini dibuat seperti itu,  gue jamin The Fly akan meninggalkan impresi berlipat kali lebih kuat.

Tapi apapun, film ini nyatanya menuai sukses besar. 
Dengan ide cerita yang orisinil, script rapi, dan tempo yang terjaga, The Fly dengan percaya diri berani berdiri terpisah dengan barisan monster-exploitation lainnya di era itu dan menjadi salah satu film horror-thriller-scifi memorable yang influental.  
Malang, Kurt Neumann tak pernah mengetahui dan menikmati hasil kerjanya, karena sebulan setelah tayang perdana, beliau keburu meninggal karena sakit. 

RIP Neumann.

RATING:

( ++ Dipostingan berikutnya, gue akan ngereview salah satu film horror-scifi paling keren sepanjang masa yang merupakan remake dari film ini, ( DAVID CRONENBERG 'THE FLY' ( 1986 ) )

Related Posts with Thumbnails