The Night Comes For Us

The Night Comes For Us

MATI 1/2 HIDUP

MH

The Guest ( 2014 )

Posted by Ringo on 02 January 2015 , under , , | comment (4)



Kali ini Horrorpopcorn mendapat kontribusi review dari seseorang yang mengaku bernama Gambir. Dan bagian tidak terduganya adalah ketika gue kemudian merasa terpancing untuk menulis review pilem yang sama. Ini ngasih gue ide. Di kesempatan berikutnya jika ada seseorang yang ngirim kontribusi review, gue akan berusaha untuk menulis review versi gue sendiri. Jadi kalian akan mendapatkan 2 review! hehe.

Nggak usah takut nantinya akan berbeda penilaian, karena justru perbedaan sudut pandang akan membuat ini semakin menarik.
Terima kasih sodara Gambir akan kontribusinya. 

Btw kamu Gambir yang suka bikin patung itu? atau Gambir yang tetangganya Gondangdia?
 

Langsung aja..



                                             THE GUEST Written By Gambir

Sebelum ngirim review ke blog ini saya sedikit ragu,. Apakah the guest bisa dimasukan kedalam list review blog ini, mengingat dalam imdb film ini dikategorikan sebagai action. tapi di film ini ada tokoh saiko yang membantai orang-orang tak bersalah, mungkin itu bisa dijadikan alasan bahwa film ini adalah sejenis film psikopat dengan  villain seorang militer..hehe


Synopsis :

David datang pada keluarga Peterson, dia mengaku adalah teman anaknya waktu bertugas di militer (caleb), dia datang untuk menyampaikan pesan caleb betapa dia sangat mencintai keluarganya, Tak ada benda  atau semacam surat wasiat yang biasanya dititipkan tokoh militer dalam film perang menjelang kematiannya hanya pesan “dia menyayangi kalian”. Keluarga Peterson pun yang awalnya merasa sedikit curiga dan aneh mulai merasa simpatik dengan sikap yang ditunjukan david. Mulai dari membantu Mr. Peterson untuk jadi manajer. Membantu anak bungsu keluarga Peterson dari bully di sekolah. Semenjak kedatangan david , keluarga Peterson lebih baik, karena harapan dari setiap anggota keluarga ini terwujud. namun disetiap terwujudnya harapan itu ada mayat-mayat bergeletakan sebagai gantinya.. What happened ??


................................... 


Film ini memang tak se creepy film-film psikopat lainnya. Namun saya rasa ini cocok untuk penikmat horror pemula seperti saya..hehe. tidak ada penggelontoran darah gila-gilaan, adegan sayat menyayat, ataupun gantung menggantung, dosis kekerasan masih dalam kadar normal, atau bahkan sangat safe untuk ditonton bersama keluarga.

The guest bukan untuk penikmat thriller kelas akut , mengingat disini tak ada adegan yang bisa menyegarkan mata, bahkan tak ada satupun scene memorable yang bisa menjadi buah tangan setelah kita menontonnya, no topeng, no senjata, david hanya seorang cowo dengan wajah maskulin yang memiliki latar belakang militer dengan mental gila. yupp… gila karena disatu sisi dia bisa bersikap bak peri penolong, namun juga bisa dengan entengnya nancepin pisau ke perut ibu sahabatnya.

Alasan saya menonton film ini Karena “you are next”. Sutradara yang berhasil ngerubah imej domba yang lugu dan lucu ini menjadi  momok menakutkan, namun tidak seperti you are next yang membuat saya meringis dan twist yang membuat saya tersenyum lebar, the guest seperti semangkuk sup kentang tanpa toping,yang tak memberikan sensasi gigitan dimulut, hanya cocok untuk appetizer, bukan untuk menu utama.
Sop iler:
Namun ada yang menarik dari latar belakang sikopat ini, david diceritakan adalah hasil dari sebuah program pemerintah sebagai objek penelitian, mungkin akan dijadikan semacam senjata hidup yang berjalan ( tidak diceritakan dengan jelas mengenai program tersebut), walapun saya lebih suka alasan david menjadi gila karena penyakit yang disebutkan Mr. Peterson sebagai PTSD (menurut Wikipedia artinya Post Traumatic Stress Disorder). Apakah penyakit ini juga diderita Rambo dalam first blood ? sehingga dia bisa menghancurkan satu kota dengan alasan membela diri..hahaha
Seandainya bang ringgo nonton film ini mungkin dia akan mengucapkan kata yang sama dengan maika monroue  di ending cerita dengan raut wajah kecewa “WHAT THE FUCKK!!” hahaha..

.....................................

P.S = yang jadi luke Peterson wajahnya mirip banget sama chloe moretz, apa mereka saudaraan ?

P.S.S = seharusnya Negara barat meniru system keamanan pos kamling kita, dimana dalam peraturannya tertulis “TAMU 1 X 24 JAM WAJIB LAPOR RT/ RW ”, agar kejadian seperti di the guest tak pernah terjadi  


.......................................



                                                  THE GUEST Written By R

Karena plot ( sinopsis ) nya udah di ceritain sodara Gambir diatas, gue langsung aja ke bagian reviewnya deh.

Hal yang paling berhasil memprovokasi gue untuk menonton pelem ini adalah desas desus yang santer beredar bahwa pelem ini layak dijuluki “Halloween meets The Terminator”. Itu kaya gimana ya? mungkin semacam slasher dengan banyak ledakan besar. Atau mungkin cyborg yang ngebacokin orang pake piso gede? Apapun, itu pastinya keren.

Filmnya dibuka ama shot sosok seseorang yang ( dilihat dari sepatu dan tasnya adalah anggota militer ) berlari di sebuah rural area, kemudian titel tiba-tiba muncul diiringi backsound vintage-cheesy yang terdengar mengancam. Ini seperti pengumuman style pilem macam apa yang akan digunakan Adam Wingard. Dan senyum gue semakin mengembang pas tau kalo pelem ini ternyata emang sengaja memakai musik retro elektronik/synth untuk scoring dan soundtracknya . Whoa! Adam Wingard sedang membuat homage untuk pelem eksyen thriller 80/90an?!

Paruh pertamanya sendiri sangat menjanjikan. Intriguing & thrilling. Gue diajak untuk menerka nerka siapa sebenernya 'sang tamu' misterius kita. David ( Dan Stevens ) seperti pria yang akan dengan mudah diterima keluarga mana saja yang dikunjunginya. Dia kharismatik, baik dan terlihat mampu ngeberesin semua masalah. Dari mulai ngebantu masalah yg dialami Luke di sekolah, ngeberesin pacar Anna yg abusive, ngebantu karir Mr.Peterson, sampe ngebantu Ny.Peterson ngerjain pekerjaan rumah tangga nya.

Meski begitu, sejak awal ( bahkan sejak kita membaca judulnya ) kita sebenernya udah tau kalo David menyimpan sebuah rahasia besar. Entah rahasia apa itu, tapi yang jelas dibalik semua kelebihan yang udah disebutin diatas, David adalah jenis orang yg punya kapasitas buat ngelakuin sebuah extreme violence. Itu ditunjukin dengan cara yang cheesy khas film campy 80-an ketika David pada saat2 tertentu sering terlihat menatap-natap creepy,  tentu saja dengan iringan musik elektro retro. Ini sebenernya ngingetin gue pada tatapan jijay Ryan Gosling di 'Drive' 3 tahun silam. 


Pada poin ini, Dan Stevens, ( meski tidak istimewa ) gue pikir berperan sangat baik. Dia mampu membuat senyum nya terlihat charming sekaligus alarming. Pun mampu ngerubah ekspresinya dengan cepat dari hangat menjadi tajam menyengat. Thriller terbangun dan tensinya mulai merambat naik. Maka, gue pun dengan setia menanti waktu ketika akhirnya pelem ini meledak.

Lalu korban-korban mulai berjatuhan dan jatidiri David akhirnya terkuak, eskalasi memuncak. tapi pada titik inilah gue justru mulai garuk garuk kepala.  


Kita tahu, 3 tahun lalu Adam Wingard mampu ngerubah slasher klise-medioker ( You're Next ) menjadi impresif, terutama karena ada banyak kejutan menyenangkan di bagian paruh keduanya. Nah, aslinya, gue nunggu hal yang sama. Tapi, sayang gue nggak nemuin itu disini. Semuanya begitu predictable dan lurus-lurus aja.
  
Bagian yang paling bikin gue penasaran tentang jatidiri David ( yang dari awal dikesankan sangat misterius dan seperti menyimpan rahasia besar ) ketika terungkap hanya membuat gue mengeluh pendek " udah?..gitu doang? ". Lalu, dengan cepat gue  tersadar kalo ini adalah sebuah homage untuk pelem eksyen B grade 80/90an, jadi kalo ceritanya agak murahan dan klise, ya harap dimaklumi, hehe so, gue mulai ngelupain itu dan nunggu bagian aksinya aja.

Tapi, ini pun membuat gue kecewa.


Ya, ada adegan penyerbuan yg melibatkan pasukan khusus bersenjata otomatis, pengeboman sebuah cafe, dan Adam Wingard mencoba nge-mixing genre ( horror-slasher ) dengan menggelar sebuah aksi hide,seek & slash di sebuah labirin pesta halloween ( lengkap dengan hall of mirrors, dry ice fog dan lampu disko! ) untuk final act nya. Sebuah effort yang layak diapresiasi,  tapi sekali lagi sayang,  hasilnya terlalu generik. Baiklah, terima kasih untuk final girl berambut keriting dengan kostum pelayan dan villain badass yang susah mati, gue suka itu.  Tapi mana ledakan-ledakan besar nya?, mana one-liner badass nya?, mana aksi2 hilarious yang nggak perlu namun menyenangkan ( semacam sepeda motor vs helikopter ) dllsb. Untuk sebuah pelem yang punya julukan  “Halloween meets The Terminator” , tagline ' An Absolute Blast' di covernya, dan potensi bencana yang bisa dihasilkan 'mesin' seperti david, The Guest cukup mengecewakan. Gue ngebaca kalo di screenplay aslinya, The Guest mengambil setting di Korea, mempunyai aksi yang jauh lebih banyak serta melibatkan car chase scene. Nah, gue pengen liat yang itu. 

yang ini ( juga kalung segitiga yang dipakai Anna sepanjang film ) dicurigai seorang pereview di sebuah blog sebagai pesan Illuminati hahaha

perhatiin grafitti di tembok itu

Lalu, bagian dimana David terpaksa harus melakukan hal-hal buruk pada keluarga Peterson sendiri gagal ngasih emosi buat gue karena gue udah menduga ini sejak menit awal. Kaya yg udah gue bilang, semuanya begitu predictable.

Pendeknya, dari sebuah cheapy-thriller yang menjanjikan, The Guest berubah menjadi sebuah pelem tentang perburuan 'monster' yang medioker.

Tentunya gue akan lebih senang jika : dari sebuah cheapy-thriller yang menjanjikan, The Guest berubah menjadi sebuah pelem tentang perburuan 'monster' yang awesome. Ya, absennya kebaruan dan orisinalitas serta lemahnya jalan cerita, mestinya bisa ditutup ama aksi yang hebat atau setidaknya memorabel.

Kemudian sisi gue yang lain mencoba membantah kalo Adam Wingard nggak sedang membuat pelem aksi persis kaya yang kita liat di taun 80/90-an, dia cuma sedang membuat sebuah thriller-action versinya sendiri dengan balutan elemen retro. Dan kamu nggak perlu membuat analisa apapun, don't take it too serious, just sit and enjoy it!

Masalahnya, gue udah nyoba itu. Dan gue harus jujur kalo yang ini nggak berhasil memikat gue. 

The Guest ngingetin gue pada pilem action-thriller kecil William Baldwin yang gue dapetin dari tukang rental video ( VHS ) yang dulu sering dateng di rumah. Gue nggak nemuinnya di bioskop, karena bioskop lebih milih membeli dan memutar Universal Soldier atau Cyborg.

Tapi secara keseluruhan, 
  
sebenernya The Guest nggak terlalu buruk kok untuk sebuah popcorn flick di sebuah hari dimana kamu nggak tau mau ngapain.  Ada momen2 yg lumayan menyenangkan, konsep mixing-genre yang unik, akting yang bagus, dan soundtrack yang mungkin akan ngingetin kamu pada hari-hari indah di masa lalu. 

Sayang aksi yang di tunggu-tunggu terasa kurang maksimal. Rasanya, kaya kamu menyulut mercon besar yang diperkirakan akan meledak keras, tapi hanya berakhir dengan sebuah sebuah letupan kecil. Plop! . Ya, The Guest jatuh menjadi pelem yang akan dengan mudah gue lupain.
RATING:

The Collector ( 2009 )

Posted by Ringo on 06 December 2014 , under , , , | comment (5)



Editorial :

Halo sodara-sodara..

Jadi, akhirnya blog ini masih bisa apdet lagi ketika seorang misterius berinisial 'HL' mengirimi gue imel berisi review buat di muat di sini. Ya, blog ini memang menerima kontribusi dari siapa aja, Tujuannya adalah, selain karena berbagi kegemaran itu indah ( cailah ) gue juga ingin memotivasi kawula muda untuk gemar meresensi film horror. Tapi baiklah, alasan sebenernya adalah karena gue udah sangat nggak produktif nulis review ( eh, gue malu nyebut itu sebagai review, gue lebih seneng nyebutnya curhat-abis-nonton-film ) sementara itu, Ming cuman nulis kalo lagi khilaf aja dan Zombem? dia udah punya 'markas' sendiri dan sepertinya saat ini sedang meniti karir menjadi selebtwit.

Kalo udah nggak produktif mestinya sekalian aja diumumin tanggal kematiannya dong!? mestinya sih begitu, tapi terus terang gue masih sayang blog ini dan belum pengen menguburnya. Gue seneng ngeliat ada apdet baru di blog ini, meskipun bukan gue yang nulis. So guys, kontribusi dari kalian akan membuat blog yang udah penuh debu dan sarang laba-laba ini tetep hidup. Tapi, ngomong-ngomong emang ada yang peduli yah kalo blog ini udah mati atau masih hidup? haha whatever lah..

Sori buat HL, kontribusi ulasannya baru sempet gue posting hari ini hehe Terima kasih banyak dan semoga masih punya banyak stok ulasan film horror buat di taro disini.

Ngomong-ngomong HL ini siapa yah? Hannibal Lecter?
Kita langsung cek aja reviewnya,

...............................


The Collector
Reviewed By HL

Psikopat dalam film biasanya punya karakteristik sendiri – sendiri, sebut saja Leatherface dengan gergaji mesin yang mengejar siapa saja yang dia lihat, Michael Myers dengan pisau dapur yang suka mengintai mangsanya, ada juga Freddie Krueger dengan cakar dan wajah yang mengerikan untuk menghantui mimpi indah kamu dan masih banyak lagi. Tapi The Collector hadir dengan karakteristik yang sangat menarik dan berbeda dari para pendahulunya, bukan dengan senjata atau topeng yang mengerikan – karena topeng the collector ini biasa aja, bahkan nyaris gak serem dibanding topeng wajah tersenyum yang dipakai difilm The Purge hehehe. The Collector mampu menebar ancaman dengan menjadikan rumah mangsanya dipenuhi dengan jebakan mematikan yang seolah disetiap sudut rumah adalah sudut “mati” - wweeeewwwwwww. 

Langsung deh ke sinopsisnya dulu :

Arkin (josh stewart) adalah seorang tukang kayu yang bekerja dirumah keluarga chace, tapi ternyata arkin bukanlah seorang tukang kayu biasa, hidupnya yang bermasalah menjadikannya memiliki profesi lain, yaitu sebagai pencuri.

Saat berkerja sebagai tukang kayu atau tukang reparasi dia juga mengamati denah rumah dan letak brankas dari rumah keluarga chance. Barulah malamnya dia beraksi dengan alasan terdesak masalah ekonomi sebagai alasan yang keren untuk membobol rumah yang sudah diincarnya. tapi naas, Arkin justru harus berhadapan dengan pria bertopeng yang juga “maksud” lain dirumah tersebut, dan kisah kucing – kucingan penuh ketegangan dimulai.

                                                                        Review :

Duo penulis dari seri Saw IV,V, dan VI Patrick Melton dan Marcus Dunstan berada dibalik layar film ini, Marcus Dunstan sendiri menjadikan film ini sebagai debut sutradaranya. saya pribadi lebih suka The Collector daripada SAW series ( saya bahkan pernah tertidur saat menonton SAW V hehehe ) entah kenapa kayaknya hal menjijikan dan brutal yang ditawarkan SAW sama sekali tidak membuat saya terpukau tapi The Collector menawarkan kisah yang membuat saya betah nonton bolak balik dengan senyum bahagia hehehe.

Karakteristik pria bertopeng ini seolah menawarkan rasa baru, lupakan plot hole bagaimana villain kita memasang jebakan – jebakan itu, saya lebih tertarik untuk menebak – nebak jebakan apa lagi yang dipasang buat matiin setiap orang difilm ini hehhehe. Mulai dari telepon rumah yang diisi jarum, jendela yang dipasangi kayu yang pinggirannya diisi silet sampe jebakan kaki ala Tom & Jerry ( saya nggak tahu nama jebakan berbentuk gigi, tapi dikartun tom & jerry selalu aja ada -_-‘ ) membuat saya harus memasukkan The Collector dalam list film favorit saya. Belum lagi ketegangan hasil pertarungan langsung antara Arkin vs pria bertopeng, duel antara dua orang yang berpengalaman dibidangnya, satu pengalaman maling, satu pengalaman dalam hal membunuh, sangat seru buat saya pribadi daripada harus ngeliat pocong vs kuntilanak, pertarungan paling nggak seimbang sepanjang sejarah horror.


Dosis gore difilm ini emang lebih “lembut” dibandingkan film slasher lain ( apalagi film sampah, gore-nya film ini cuma nyelekit dikit doang ) tapi berkat eksekusi yang apik dan tone color yang berwarna banget untuk film slasher, cukuplah film ini bikin adrenalin berpacu.

Seperti yang saya singgung diawal, karakteristik setiap psiko itu membuat mereka punya ke-keren-nan sendiri – sendiri, beberapa berhasil menjadi icon horror, beberapa malah jadi bahan makian, tapi buat saya pribadi, mengamati karakteristik tokoh horror itu sama menariknya dengan menonton filmnya. Coba aja kamu bayangin kalo setiap psiko cuma pake pisau dapur doang disemua film? Atau mereka memakai topeng dengan karung beras secara berjamaah? Itu pasti sangat membosankan ( hmmmm tapi sadar gak sih film horror indo sekarang cuma ngasih 2 hantu doang sebagai pajangan, kalau gak pocong ya kuntilanak? Iya nggak? ). 

So, kalau ada yang bilang film slahser gitu – gitu aja, coba deh cicipin The Collector :D

EDISI I-LOVE-KOREA: MEMORIES OF MURDER (2003)

Posted by Ringo on 07 November 2014 , under , , , , , , , | comment (8)



Written By Ming

Pengantar

Anda salah satu korban Korean Wave (jelas yang saya maksud Korea di sini dan nantinya adalah Korea Selatan, bukan tetangganya yang punya pemimpin berambut Mohawk itu) dengan drama-drama cintanya yang cute dan mengharu biru? Atau penggemar boyband-girlband-groupband—apapun itu sebutannya dengan personel berwajah boneka hasil polesan operasi plastik? Atau begini, setidaknya anda bakal mengetatkan ikat pinggang dengan berpuasa atau cukup mengonsumsi Indomie 3 kali sehari, misalnya, hanya untuk memiliki tablet Samsung terbaru, bukan? Hohoho, tenang saja. Anda tidak sendiri. Saya pun salah satu korban gelombang budaya Korea yang telah mengglobal. 

Cuma, yang saya gemari ini bisa dibilang sepi penggemar di sini—jika dibandingkan dengan produk Korea yang sudah saya sebut di atas, dan cuma bisa jadi obrolan seru sesama penggemar film horror beserta turunannya yang bisa dibilang masih satu spesies dengan pengunjung setia—dan tidak setia—blog horror kacangan (saya sebagai salah satu kontributor abadi dan satu-satunya, memang sudah mengajukan proposal kepada editor blog ini untuk mengganti saja nama Horror Popcorn menjadi Horror Kacang) yang makin sepi postingan hingga membuat sekelompok penggemar fanatik melakukan demo di depan kantor fiktif kami.  

Beberapa tahun terakhir, saya menemukan rentetan horror/crime-thriller Korea yang sanggup membuat saya terkagum-kagum dan sungguh gatal, kenapa fans berat American B-class, old-school campy horror, 70’s & 80’s horror lokal, Italian mondo dan bahkan New French Extreme—yang amat singkat eranya—juga seluruh penggemar horror berbagai sekte dan aliran, gagal move on dari Oldboy dan Choi Min Sik ketika mendengar kata ‘Korea’. Bukannya saya ini tidak menggemari Choi Min Sik. Maksud saya, memangnya siapa sih yang tidak ngefans dengannya? Saya bahkan masih mengikuti dia di film terbaru Luc Besson, Lucy, di mana dia masih saja menjadi badass yang kehadirannya selalu mencengangkan, meskipun sayangnya terlalu memaksakan diri untuk menjaga kharismanya selepas Oldboy.

Karenanya, saya berniat membuat review edisi I-LOVE-KOREA sebagai bentuk MP3COWKI (Masterplan Percepatan Perluasan Pemantapan Cuci Otak Wabah Korea Internasional). Untuk beberapa postingan ke depan, saya akan secara rutin menulis HANYA film-film horror/crime-thriller Korea. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada Park Chan Wook yang telah menjadi ikon coolness baru Korea setelah ‘vengeance trilogy’-nya, serta sedikit banyak telah mempengaruhi film horror Korea secara keseluruhan untuk masing-masing semakin berlomba memberi ide cerita yang tak pernah terpikirkan sebelumnya diikuti adegan-adegan revolusioner yang bikin geleng kepala, saya tidak menulis review ‘vengeance trilogy’ di bagian-bagian awal. Mari kita simpan yang terbaik—atau mungkin yang terpopuler—di belakang, nanti saja. Edisi review ini sepenuhnya berdasar pada selera pribadi saya, jadi sudah jelas akan menjadi sangat subjektif. Tenang, saya masih punya banyak stok film horror/crime-thriller Korea yang keren untuk postingan-postingan berikutnya. Siapa tahu selera kita sama. Request boleh diajukan dengan imbalan donasi seikhlasnya.


 Terus, kita masuk ke filmnya…

Tahun 1986, di sebuah kota kecil—mungkin lebih tepat disebut pedesaan—Korea Selatan ditemukan mayat wanita korban pemerkosaan dan pembunuhan di saluran air persawahan. Tak lama, serentetan pembunuhan dengan metode serupa (diikat dan dicekik dengan stocking, bra, atau tali tas untuk lalu ditutupi kepalanya dengan celana dalam) terhadap para perempuan lokal pun terjadi, memaksa seorang detektif kampung setempat, dibantu oleh partnernya dan detektif yang datang dari Seoul bahu membahu untuk memecahkan kasus pembunuhan serial yang terinspirasi dari kejadian nyata yang sangat terkenal dan menjadi salah satu kasus tak terpecahkan di Korea Selatan hingga kini. 

Warning! Review dibawah ini mungkin mengandung spoiler

Memories of Murder bukan tipikal crime thriller di mana kita bakal menemukan banyak adegan kekerasan yang berdarah-darah atau jagoan badass ala Korea. Bukan sama sekali. 

Hanya saja film ini punya banyak dimensi: ada kekonyolan khas orang kampung di sana yang luar biasa menghibur, humor gelap, drama-drama kecil yang menyentuh, investigasi polisi yang melibatkan penyiksaan ala orde baru kita, perubahan situasi politik di Korea Selatan dari kediktatoran di akhir 80-an, beberapa adegan menegangkan dan teka-teki yang sungguh memusingkan, sekaligus melelahkan. Ini semua dirangkum dalam durasi sekitar dua jam lebih. 

Kelebihan film ini selain eksekusi apik dan akting yang kuat, adalah ceritanya sendiri. Kita sebagai penonton, seolah terbawa untuk ikut menjadi detektif! Kita dipaksa untuk menduga-duga dan menganalisis siapa sebenarnya pembunuh yang amat rapi dan teliti, juga licin bagaikan belut ini. 


villain badass kita 
maaf, ini villain badass kita   


eh, atau yang ini???
Caranya: sepanjang film, tak ada habisnya kita diberi berbagai macam petunjuk berupa koinsiden-koinsiden yang seolah menjadi bukti kuat dari kasus pembunuhan dan sosok-sosok yang perilakunya diduga sebagai tersangka, yang kesemuanya berakhir terpatahkan begitu saja hingga kita benar-benar dibuat clueless. Bingung karena sudah tidak bisa membedakan lagi mana yang hanya kebetulan dan mana yang sesungguhnya bukti kejahatan valid. Setelah semua kelelahan dan frustasi yang dialami kedua detektif kita, terutama karena gagalnya mereka menangkap tersangka paling meyakinkan di penghujung film yang disebabkan ketidakcocokan hasil DNA, detektif kita hanya sanggup berkata: cukup adalah cukup.

Ini film yang sudah dianggap klasik dan memenangkan hati banyak orang pada masanya. Konon semua adegan proses penyelidikan, kondisi dan hasil otopsi korban, TKP, tes DNA, hingga kehidupan para detektif dibuat dengan detil dan semirip mungkin dengan peristiwa asli.  

Funniest Moment: Sangat banyak. Mulai dari yang membuat kita tersenyum, hingga ketawa guling-guling. Tapi mungkin saya bisa pilih ini: tokoh utama detektif kampung kita berteori bahwa ketiadaan rambut pubis di TKP menunjukkan bahwa kemungkinan si pembunuh adalah lelaki dengan kemaluan botak atau tidak punya rambut pubis sama sekali. Dia pun diam-diam memperhatikan setiap kemaluan lelaki ketika mandi di sauna bersama dan berpesan kepada pemilik sauna untuk segera melapor padanya jika menemukan lelaki dengan kemaluan botak yang hanya disambut dengan tertawaan.


Another Funny Moment by Ringo : Jadi detektif kampung kita ini suka nginterogasi sambil mukulin orang yang dicurigainya, persis kelakuan polisi kita lah. Nah, suatu kali mungkin karena ngerasa bersalah tuduhannya nggak terbukti, mereka nyoba 'nyogok' korbannya dengan ngasih sepatu. Momen lucu nya bisa kalian intip lewat spoiler-snapshot dibawah ini hehe

kelakuan polisi haha
Best Scene: Di adegan terakhir, 17 tahun setelah kasus ini, tokoh utama kita yang terlalu lelah untuk menjadi detektif dan akhirnya memutuskan untuk menjadi pengusaha, menyempatkan diri kembali ke saluran air tempat dia menemukan mayat pertamanya demi mengenang masa-masa yang barangkali paling berkesan dalam hidupnya. Seorang bocah menegurnya dan berkata bahwa baru-baru ini saja, ada seorang lelaki yang juga mendatangi tempat itu sekadar untuk “mengenang sesuatu yang pernah dilakukannya di sini”. Mantan detektif kita bertanya bagaimana rupa si lelaki. Dari deskripsi si bocah, lelaki itu sangat mendekati sosok tersangka paling meyakinkan di film. Tokoh kita tercenung, tergagap dan menunjukkan ekspresi yang sulit digambarkan, hingga closing credit menutup layar.


 Feels Like: Zodiac versi Korea

-Ming-


7 Days (Les 7 jours du talion) (2010)

Posted by Ringo on 01 November 2014 , under , , , , | comment (4)



Bales Dendam. Tema ini nggak pernah abis ( dan basi ) buat diangkat ke layar lebar. Dan sebenernya, kalo ngomongin film bertema bales dendam, ingetan gue akan langsung tertuju ke revenge-movies produksi Korea Selatan. Bukan apa-apa, soalnya kalo misalnya suatu saat gue mesti ngelist 10 pilem thriller crime revenge terbaik, separuh lebih isinya akan diisi oleh film-film produksi orang2 sakit dari negeri itu. Mungkin gue akan bikin listnya suatu hari nanti, tapi untuk kali ini, gue pengen cerita dulu tentang yang satu ini.

7 Days tuh film kecil bertema bales dendam produksi Kanada garapan sutradara asal Perancis, Daniel Grou ( film ini berbahasa Perancis dan diisi aktor/aktris asal perancis, meski sutingnya mengambil tempat di Kanada ). Screenplaynya ditulis oleh Patrick Senécal, berdasarkan novel karyanya sendiri 'Les sept jours du talion'.

Jadi plotnya simpel aja

Bruno Hamel  (Claude Legault) tuh seorang dokter bedah yang punya kehidupan baik-baik aja, dengan istri dan seorang puteri berusia 8 tahun yang cantik. Kehidupannya berubah drastis ketika pada suatu hari puterinya ditemukan tewas. Seorang pedofil-maniak telah membunuh dan memperkosanya. Diceritain, polisi nggak butuh waktu lama buat ngeringkus sang tersangka utama, Anthony Lemaire (Martin Dubreuil).


Bayangin, puteri lu dibunuh dan diperkosa, terus ngeliat pelakunya tersenyum ditelevisi.

Jadi, Dr.Hamel, dengan rencana yang cukup rapih, memutuskan untuk menculik Anthony dari mobil tahanan untuk kemudian menyekapnya didalam sebuah kabin terpencil.  Dia akan  membuat si pelaku membayar lunas perbuatannya dengan 7 hari penyiksaan pedih dan baru akan membunuhnya di hari ke 7. Itu hari dimana puterinya seharusnya berulang tahun. 7 hari penuh penderitaan yang akan dialami si pelaku mungkin akan membuat kepiluannya sedikit terobati. Tapi, benarkah demikian?


Satu hal yang membuat gue cukup suka nonton pilem bertema bales dendam barangkali adalah karena gue suka ngeliat orang jahat menerima balesannya. Semakin menyebalkan dan jahat antagonisnya, semakin nikmatlah gue ngeliat ketika hari penebusan itu akhirnya datang. Itulah kenapa dulu gue selalu bertepuk tangan dengan antusias kala Dharmendra akhirnya matahin kaki Amrish Puri atau ngelemparin Amjad Khan sekuat tenaga ke jurang. Gue juga akan bersorak girang kalo suatu saat seseorang akhirnya membuat sekuel dari Eden Lake ( 2008 ), terus terang jiwa gue belum tenang selama anak-anak bedebah itu belum mendapat balasannya, jadi akan menyenangkan kalo disekuelnya nanti mereka harus berhadapan dengan psikopat hehe. Meski demikian, harus gue akuin sekali lagi, kalo orang2 Korea Selatan lah yang paling piawai dalam menyusun plot bales dendam sempurna buat mastiin itu berlangsung semenyakitkan mungkin.


Balik ke review, dalam film ini, sang tersangka utama pelaku pembunuhan, Anthony sudah diculik oleh Dr.Hamel di menit ke 25, bahkan ketika gue masih bertanya-tanya dan belum cukup alesan untuk membencinya. Jadi, gue menduga sisa durasi filmnya hanya akan berisi penyiksaan. Lalu, apakah ini akan menjadi sebuah cheap torture-porn semacam Hostel atau Saw?


Untungnya, tidak. Selain karena torture-porn adalah sebuah genre yang selalu susah buat gue nikmatin ( gue lebih milih porn nya aja ), juga bukankah kita udah ngeliat yang kaya gituan di 2 film yang gue sebutin tadi? 

Alih alih menjadi sebuah torture-porn, Daniel Grou rupanya lebih memilih mengarahkan 7 Days untuk menjadi sebuah thriller-psikologi dengan sentuhan filosofis tentang kehidupan, kematian, serta isu yang sebenernya udah bolak-balik di angkat dalam film-film bertema serupa.

'Is Revenge the only true Justice?' 

Kalian bisa nemuin Dr.Hamel menjawab langsung pertanyaan itu dalam film ini, tapi bahkan jawabannya akan membuat kalian semakin termenung.

Ya, berbeda jauh ama bapak-bapak sinting lainnya di film 'Big Bad Wolves' ( 2013 ) yang masih bisa bikin lelucon sambil ngelas dada pembunuh cucunya, Dr.Hamel keliatan nggak menikmati aksinya. Jadi, abis ngancurin lutut si pelaku pake palu gede, dia cuma duduk-duduk ngedengerin jeritan 'tahanan' nya, abis itu keluar kabin buat ngerokok sambil ngerenungin seuatu. Grou gue pikir emang lebih seneng mengeksplorasi emosi yang terjadi pada 2 karakter utamanya daripada nunjukin banyak graphic violence eksplisit sebagai sajian utama.

Kita akan dibawa ikut roller-coaster emosi dari mulai ngedukung apa yang dilakukan Dr.Hamel terhadap sipelaku pembunuhan, lalu kemudian tertegun, mual, dan mulai berfikir bahwa apa yang dilakukannya sudah kelewat batas, lalu kemudian kembali dibuat geram.  Gue kasi tau aja, penyiksaannya emang nggak di sajikan terus menerus kaya yang kita liat 'The Human Centipede 2', tapi diselang seling ama cerita pelacakan polisi buat nemuin lokasi Dr.Hamel menyekap Anthony.

Tapi, sekalinya penyiksaan itu ditunjukin, percayalah itu akan membuat kamu meringis.

Terutama pada sebuah metode penyiksaan yang bisa jadi adalah salah satu yang paling nggak terpikirkan, mengerikan ( juga menjijikkan ) di sebuah adegan film.


Abis adegan diatas kita akan ngeliat Dr.Hamel perlahan-lahan ngebedah perut Anthony dan ngeluarin ususnya. Adegan ini aja sangat mengerikan ( karena dishot dengan perlahan dan close-up ) dan juga getir, ketika kita melihat Anthony yang lumpuh namun sepenuhnya sadar mulai meneteskan air mata kengerian. Tapi, apa yang sebenernya Dr.Hamel lakukan pada perut Anthony? Diadegan selanjutnya kita akan tau ketika Anthony ngeluarin tinja dari lubang di perutnya. Whattafuck?! rupanya Dr. Hamel baru aja membuat lubang diperut Anthony dan memaksa dia ngeluarin kotorannya ( berak ) dari situ?! sakit! Gue nggak tahu apakah yang kaya gituan emang bisa dilakukan? tapi, kalo nginget Dr.Hamel yang ahli bedah, yaudah gue percaya aja. Asli, adegan ini bikin lubang pantat gue nyut-nyut an.


Martin Dubreuil yang berperan sebagai Anthony, menurut gue berakting meyakinkan. Dia berhasil memainkan bermacam variasi emosi dari mulai ketakutan, kesakitan, memohon, sampe putus asa yang ngebuat gue ikut ngerasain penderitaannya. Lalu ada satu titik dimana dia kemudian berbalik mengejek, menantang, melawan serta menyerang Dr.Hamel dalam bentuk provokasi emosi dan psikis. Inget kan adegan Choi Min Sik memprovokasi Lee Byung Hun dalam I Saw The Devil ( 2010 ) ketika nyawanya udah diujung tanduk? nah, seperti itulah.

Claude Legault juga tampil bagus sebagai Dr. Hamel, kamu bisa ngelihat kepedihan, kehampaan, sekaligus kemarahan di raut wajahnya. Sementara itu, keputusan Grou buat nggak ngasih suara latar ( musik ) apapun sepanjang film ini ( termasuk di kredit titel ) membuat film ini terasa sunyi, depresif namun sekaligus menciptakan atmosfer yang lebih mencekam.

Secara keseluruhan,

Jika kamu ngarepin sebuah film horror dengan banyak adegan penyiksaan eksplisit sebagai sajian utamanya, ini jelas bukan judul yang tepat. Meski disana ada beberapa adegan yang cukup graphics, 7 Days lebih bermain di level psikologi dan emosional. Ini juga bukan jenis film hiburan dan mungkin hanya cukup ditonton sekali saja. 

Tapi, jika kamu lagi nyari sebuah alternative doom-slow paced-depressive-psycho thriller dengan tone realistik yang memiliki beberapa elemen filosofikal didalamnya, buruan sob, filmnya ada di Torrent, segera download hehe.

Trailer 

RATING:

Related Posts with Thumbnails