The Night Comes For Us

The Night Comes For Us

MATI 1/2 HIDUP

MH

The Raid 2 : Berandal

Posted by Ringo on 14 December 2014 , under , , | comment (3)



Written By 'R'

Gue sebenernya langsung nulis review film ini sejak keluar dari bioskop di hari pertama pemutarannya. Tapi tumpukan pekerjaan membuat tulisan terhenti ketika baru nyampe 80%. Bulan demi bulan berlalu,  euphoria film ini mulai turun, kemudian gue ngerasa nggak perlu nerusin nulis reviewnya. Lagipula, bukankah akan sangat telat kalo gue mostingnya sekarang?

Tapi, kemudian gue mikir lagi, gue ngerasa telat mosting review The Raid 2,tapi kenapa gue nggak ngerasa telat pas ngereview film film jadul tahun 40-an?? kalo diinget inget, ini malah pilem dengan tanggal rilis paling baru yang di review di blog ini hehe

Jadi bro, gue akhirnya ngebuka kembali file review setengah jadi itu, menyelesaikannya, kemudian langsung mostingnya disini.

Ini dia.

....................


Satu pertanyaan menyelinap di benak gue sehabis nonton pilem ini. Kenapa subjudulnya Berandal? bukan apa-apa, gue nggak ngeliat satupun berandal keliatan di pilem ini, kalo diinget2 gue malah lebih banyak nemuin banyak berandalan dalam The Raid 1 : Redemption. Ya, preman pasar, penjahat liar, bajingan ugal-ugalan dan pembunuh brutal dalam pilem pertamanya menurut gue lebih pantes di sebut berandal. Lebih jauh, gue juga nggak nemuin adegan penyerbuan ( The Raid ) dalam The Raid 2.

Baiklah, skip aja pertanyaan nggak penting diatas hehe

Kita, langsung aja ke poin poin pentingnya :


Plot 

Berbeda jauh ama predecessornya yang ceritanya masih bisa diikuti bahkan jika semua karakternya nggak ngomong, The Raid 2 : Berandal yang ide ( juga koreografinya ) konon udah digodok lebih dulu sebelum pilem pertama, terasa lebih ambisius dengan plot kompleks dan banyaknya karakter. Ya, ini emang proyek impian Gareth Evans yang tertunda. Awalnya, 'Berandal' konon diniatkan sebagai pilem yang berdiri sendiri, namun ketiadaan budget menjadi masalah. Maka, Gareth kemudian malah membuat The Raid : Redemption dengan dana minimal. Kaya yang kita tau, pilem kecil ini ternyata sukses besar. Akhirnya, dengan berbagai pertimbangan, diputuskan untuk memodifikasi cerita Berandal agar bisa menjadi sekuel dari The Raid : Redemption.

Langsung aja,

Setelah berhasil keluar hidup-hidup dari apartemen neraka Tama, bahaya masih belum selesai mengikuti Rama ( Iko Uwais ). Atas desakan kepala satuan khusus anti korupsi, Bunawar ( Cok Simbara ), Rama Sekali lagi harus menyusup ke dalam jaringan kriminal papan atas untuk membongkar semuanya sampai tuntas ( terutama untuk mencari bukti dan menyeret keterlibatan polisi korup Reza -Roy Marten- yang disinyalir adalah dalang dibalik semua peristiwa tragis di apartemen Tama ). Jika tidak , maka nyawa keluarga dan dirinya akan selalu terancam. 

Untuk ini, Rama harus menyamar dan mendekati Uco ( Arifin Putera ) , putera Bangun ( Tio Pakusadewo ), salah seorang godfather yang menguasai sebagian dunia kriminal bawah tanah kota Jakarta. Rencananya tidak berjalan sesederhana itu ketika Rama ( sekarang mengganti nama menjadi Yuda ) menyadari kalo Uco mempunyai ambisi besar. Dia mau ngelakuin apa aja buat memicu perang dengan keluarga Goto-Gumi ( keluarga Yakuza yang menguasai satu bagian kota lainnya ) demi mendapatkan kekuasaan miliknya sendiri.

Sementara itu, ada Bejo ( Alex Abbad ) disana,  gangster pendatang baru yang mencium ambisi Uco dan nunggu kesempatan buat manfaatin keadaan.

Rama ( atau Yuda ) sekali lagi terjebak, bukan lagi dalam gedung apartemen sempit, tapi dalam konflik skala besar yang ngelibatin 3 jaringan kriminal bawah tanah kota Jakarta.

Nah! Plotnya kedengeran rumit yah, tapi sebenernya nggak se kompleks itu kok, sangat simple malah. Kalian yang familiar ama sinema triad Hongkong era 90-an, pastinya udah sering ngeliat ginian. Yang diperlukan cuma sedikit konsentrasi, mengingat ( nggak kaya The Raid 1 ) satu jam pertama durasi pilem ini banyak diisi dialog buat ngebangun cerita ama ngenalin karakter. Bagian ini mungkin menjadi catatan buat Gareth Evans ketika dia terkesan memaksakan plot dan semua karakter barunya datang silih berganti ke dalam durasi singkat. Apalagi, konon ada beberapa adegan yang dipotong. Tak ayal, ini membuat pilem terasa melompat dan terburu-buru.  Imbasnya, jika audiens kurang konsentrasi dan gagal menangkap jalan cerita sebentar saja,  kemungkinan besar hingga credit title muncul dia akan tetap bertanya-tanya. 

Teman gue yang mempunyai referensi pilem jauh lebih banyak dari gue sampai gagal memahami apa sebenernya penyebab kerusuhan di lapangan berlumpur penjara itu, apa pentingnya karakter Prakoso untuk cerita, kenapa Hammer Girl menyerang pria dalam kereta, Siapa pria yg dibunuh Baseball Bat Man, apa arti tatto Bejo, apa peran Roy Marten dll hingga akhirnya menyimpulkan The Raid 2 hanya sekedar pilem gaya-gayaan yang merayakan kekerasan dalam bingkai ketrampilan sinematografi tanpa kejelasan jalan cerita. wtf!

Naro plot untuk The Raid 2 emang seperti milih pedang bermata dua. Di satu sisi, jika Gareth tetep mertahanin konsep minimalis The Raid 1 dan hanya mindahin settingnya ke gedung tertutup yang lebih besar dan tinggi, ini akan ngelestariin 'sindrom sekuel buruk', dimana pilem ke 2 di cap minim kreatifitas dan terkesan hanya ngejar keuntungan dari popularitas pilem pertama belaka.  Di sisi lainnya, nyoba keluar dari sindrom itu dengan ngasih sesuatu yang berbeda juga nggak segampang itu. The Raid 1 di puja justru karena kesederhanaannya. Dia bagai serangan punk rock akord 3 jurus yg simple, cepat , padat , kasar, namun penuh energi. Nyaris tanpa plot dan ngebuang jauh-jauh tetek bengek pengenalan karakter. Ngerubah ini, mungkin akan membuat pemuja The Raid 1 kecewa.
Tapi, bagaimanapun satu sisi harus dipilih.

Dan buat gue, Gareth udah tepat dengan pilihannya. 


 Keluarnya Rama dari gedung sempit Tama dan berpindah ke scope yang jauh lebih besar, mungkin membuat intensitasnya berkurang, tapi ini membuat Gareth Evans akhirnya ngedapetin kesempatan luas buat mengumbar semua imajinasi dan obsesinya. Dari kebut2an mobil, perkelahian massal di penjara sampe karakter2 fantasi yang gue yakin udah lama berada dalam kepalanya. Kaya yang gue bilang, yang diperlukan hanya sedikit atensi dan konsentrasi, karena sekali aja kamu 'get the point' , semuanya akan terasa sederhana dan berjalan lebih mudah.  Gue takjub bagaimana durasi 2 jam 30 menit menjadi tidak terasa. Ya, gue emang berkali-kali ngecek jam tangan, tapi itu buat mastiin kalo pilem belum akan berakhir. 

Jadi, jika menonton The Raid 1 rasanya seperti nonton gig punkrock kecil yang raw dan fun,  menonton The Raid 2 lebih seperti nonton konser metal dengan tata lampu, sound dan panggung yang jauh lebih megah, juga dengan materi musik yang lebih berat, solid dan ber skill. 




Maka, ketika Rama berkata "cukup!", gue segera mengibaskan rambut gondrong gue, kemudian berteriak -teriak sambil ngacungin jari metal ke udara : " we want more! we want more! we want more! "
*kemudian gue di usir penjaga bioskop.


 Fight Scene

Apa yang membuat The Raid menjadi fenomenal buat gue adalah adegan perkelahiannya yang digarap dengan pendekatan yang belum pernah ( atau jarang ) dilakukan film eksyen lain. Film lain, tentu saja punya fighting-scene yang nggak kalah megah, tapi sebagian besar dari mereka lebih senang bermain aman dengan memberi telalu banyak CUT, trik kamera, atau tambahan spesial efek ( CGI ) di dalam fighting scene nya. Melakukan cara-cara tersebut bukanlah sebuah dosa, hanya saja,  dalam The Raid, Gareth Evans berani nawarin hal beda. Dia lebih milih maksimalin skill para stuntsnya yang merupakan praktisi martial arts ( Pencak Silat ) beneran dan mengandalkan desain koreografi  yang dirancang dengan matang. Sebagai contoh, adegan epik Kitchen Fight ( Rama vs The Assasins ) yang kita liat sepanjang 6 menit itu sebenernya butuh waktu 6 minggu buat ngerancang desain koreonya aja, sementara pengambilan gambarnya butuh waktu 10 hari. ( Bayangin, itu waktu yang cukup buat Nayato untuk memproduksi 20 film ). Hasilnya adalah sebuah adegan kelahi menakjubkan yang belum pernah gue liat sebelumnya di sebuah pelem. stunning. 

Selain itu, shot-shot berantem dalam The Raid seringkali dibiarin panjang  tidak terputus ( atau mungkin ada cut disana, tapi Gareth Evans berhasil menyiasati supaya itu terlihat kontinyu ) .  Ini membuat fighting scene dalam The Raid punya feel beda jika dibandingkan pelem lain. Dia kasar, cepat, real sekaligus brutal. 


Lalu, pergerakan kamera juga punya peran yang  krusial dalam mendukung adegan fighting tersaji dengan sempurna. Liat bagaimana adegan perkelahian di lapangan lumpur penjara yang  epik itu, kamera seakan-akan menyeruak cepat berlarian kesana kemari tak terputus diantara jotosan, tikaman, tembakan, dan bacokan para petarung. Lalu liat juga gimana kamera tiba-tiba memutar seiring ayunan baseball dari Baseball Bat Man menghantam wajah musuhnya, atau bagaimana kameramen rela ikut melemparkan dirinya bersamaan dengan Epy Kusnandar yang terlempar, lalu trik oper-operan kamera di adegan kebut-kebutan mobil yang ramai dibahas itu, trik yang sebenarnya sederhana tapi jelas memerlukan keteguhan visi dan kreatifitas seorang sutradara.

Pada akhirnya, kombinasi hal-hal diatas ( koreo, skill para stunt, camera movement ) berhasil menghadirkan sensasi 'ouch!', 'aaah!', 'uuh!' juga 'damn!' 'bangsat!' 'anjing!' yang nikmat.  Bukankah Itu sesuatu yang semua action-fan pengen liat? Atau kalo kalian nyari adegan perkelahian yang indah di liat, kalian bisa nemuinnya di genre wire-fu, disana pertarungannya dilakukan sambil terbang-terbang. mirip sirkus.


 Graphic-Violence.

The Raid 2 punya kandungan kebrutalan massive yang akan susah disamai ama pilem-pilem crime-action-thriller modern lainnya. Adegan pertarungannya ( juga koreografinya ) segera membuat hallway fight scene dalam Oldboy  menjadi terasa sangat lambat dan lembek, dan fight scene dalam beberapa pilem lainnya ( The Man from Nowhere, Ong-Bak dll ) dengan terpaksa harus gue turunin peringkatnya berada di bawah The Raid 2.


Meski begitu, buat penonton hardcore, sebenernya kandungan graphic-violence disini masih berada dalam dosis yang 'terkontrol'.   Maksud gue, dia belum nyampe ke level disturbing. Diinget-inget, gue bahkan nggak nemuin satu pun organ tubuh yang terlepas dari tempatnya semula. Kalo kalian ngecek karya Gareth Evans sebelum ini, Safe Haven ( segmen dalam V/H/S/2 ) kalian akan nemuin sesuatu yg jauh lebih ekstrim ketika ngeliat Epy Kusnandar meledak dan organ2 tubuhnya berceceran hehe. 

Dalam The Raid 2, semua kulit robek, cipratan darah, tulang patah, kepala pecah dll ditunjukin sebagai konsekuensi dari sebuah pertarungan yang keras, chaos, cepat dan brutal. 

Memang ada adegan eksekusi 5 orang dengan cutter yang membuat sebagian penonton meringkuk dan menutup matanya, tapi disinipun Gareth masih berbaik hati untuk tidak membuatnya se-eksplisit  slit-throat dalam Safe Haven hehe. 

Yup, gue pikir semua graphic violence dalam The Raid, meski muncrat-muncrat  masih cukup terkontrol, di desain aman untuk audiens luas ( memang akan mengguncang untuk penonton di bawah umur, tapi itulah kenapa pilem ini mendapat rating 'R' ) dan ditunjukin disana untuk ngasih orgasme-visual  yang nikmat. Itu satu hal yang udah jarang gue dapetin dari pilem2 action kebanyakan.


 Anti-Hero

Salah satu hal menarik dalam franchise The Raid bagi gue mungkin adalah konsep anti-hero nya, nggak ada orang yang berlagak menjadi pahlawan berhati mulia disini. Rama? dia orang baik, dia juga punya daya tahan tubuh setara superhero berkostum. tapi jelas, dia bukan pahlawan.

Dalam The Raid 1, ketika keadaan memburuk dan Rama sadar telah masuk perangkap konspirasi polisi korup, dia terpaksa bertarung dan membunuhi banyak orang hanya demi tujuan survival agar bisa kembali ke istri hamilnya. Dia sepertinya nggak terlalu berminat membekuk Tama ( sang gembong kriminal ) demi sebuah alasan besar yang biasanya dimiliki superhero : menyelamatkan masa depan kota agar menjadi lebih baik.

Dalam The Raid 2 pun begitu, Rama sebenernya  nggak tertarik membongkar jaringan mafia papan atas dan polisi korup di kota itu, demi..hmmm --seperti yang dikatakan Bunawar-- 'membersihkan kota dan membela kepentingan yang benar' ( gue bahkan masih meragukan niat mulia Bunawar  ini, jawabannya mungkin akan terjawab di The Raid 3 ). Hingga sesuatu terjadi, sang kakak ( Andi ) dibunuh. So, Rama nggak punya pilihan lain, dia akhirnya menyusup ke dalam jaringan mafia demi motivasi sederhana yang akan dilakuin semua orang biasa lainnya, yaitu : ngebales dendam kematian sang kakak, nyelametin keluarga kecilnya sekaligus nyawanya sendiri. Sangat personal. Sekali lagi kita kemudian ngeliat Rama terjebak dan harus survival, hanya kali ini dalam lingkup yang jauh lebih luas dan kompleks.



Kita bahkan akan ngeliat transformasi Rama dari seorang yang ngebunuh orang dengan terpaksa ( di pilem pertama ), menjadi sosok emosional yang nyaris tak terkontrol. 

Pada sebuah pergulatan seru di lapangan berlumpur penjara, Rama sebenarnya sudah berhasil melumpuhkan musuhnya ( Rex Metino ) dengan mematahkan kaki dan merobek tangannya, tapi dia ngerasa itu belum cukup dan hal yang kemudian terjadi adalah sesuatu yang nggak akan dilakuin protagonis manapun di pilem, ngancurin kepala musuh tak berdayanya dengan sebongkah batu besar (!).

Banyak yang berpendapat itu adalah sebuah glorifikasi kekerasan yang tidak perlu, tapi buat gue itu perlu. Selain karena ngeliat orang mecahin kepala orang laen pake batu besar di pilem itu menyenangkan, adegan itu negesin kalo Rama hanyalah manusia biasa yang bisa juga tak terkontrol ketika terjebak dalam situasi genting hidup-mati. Konsep anti-hero seperti ini lah yang membuat karakter Rama buat gue terasa dekat dan masuk akal. Maksud gue, kalo kalian berada dalam situasi yang sama, kalian juga mungkin akan ngelakuin hal mengerikan apa aja buat mastiin musuh kalian nggak bisa bangun lagi.

Kalo mau merenung lebih dalam, karakter Rama dalam The Raid seperti ngasih inspirasi : bela dan lindungilah orang-orang terdekatmu terlebih dahulu ( keluarga, saudara, teman, ), jika kamu melakukannya dengan benar ( inget, dengan benar ya ), kamu sama saja telah melindungi alam semesta.

astaga! ngomong apaan gue? *minum obat.


 Surreal-komikal

Kita nyampe pada adegan yang banyak membuat penonton kebingungan dan mengeluh : turunnya salju di setting kota yang dari gedung2 dan jalanannya kita kenal sebagai Jakarta haha.

Gue pikir, sejak adegan paling awal, Gareth Evans udah ngasih petunjuk kalo dia memilih membuat The Raid 2 : Berandal menjadi surreal-komikal. Liat aja, Bejo, ( juga anak buahnya ) digambarkan selalu memakai mantel tebal panjang lengkap dengan sarung tangan kulit berwarna hitam seakan-akan mereka sedang berada dalam sebuah negara  yang mempunyai cuaca sangat dingin, bahkan ketika berada di sebuah kebon tebu haha. Ini terasa surreal, terutama kalo nginget tebu ini taneman yang cuma tumbuh di tempat yang beriklim hangat ( tropis ). Lebih lanjut, kalian juga nggak akan nemuin orang pake kostum kaya gitu di pelosok Indonesia manapun. So, mungkin itu sebuah dunia yang hanya ada dalam imajinasi Gareth Evans ( alternate universe ). Dunia fantasi dimana kalian juga nantinya akan menemui karakter yang biasanya hanya kalian lihat di halaman sebuah komik : perempuan difabel bersenjatakan sepasang palu dan pembunuh ber hoodie yang ngancurin batok kepala dengan bola baseball.

Adegan awal ini aja sebenernya  udah ngasih tau kalo The Raid 2 akan sangat berbeda dengan The Raid 1 yang terasa real dengan Tama yang memakai singlet ( dan melahap mie ayam ), serta anak buahnya yang ber sandal jepit. Bukan hanya dari cakupan nya yang lebih luas, tapi juga dari konsepnya. it's completely different. Jadi, jika sejak menit awal, kalian bisa menerima gagasan dan pilihan artistik Gareth di sekuelnya ini, mestinya kalian juga nggak akan bingung lagi pas ngeliat salju turun di 'kota aneh' itu. 

Lagipula, bukankah selalu sangat indah ngelihat darah tertumpah diatas salju? 



Apapun, buat gue adegan Prakoso dan salju ini adalah scene paling memorable dalam The Raid 2. Adegan The Assasins perlahan2 mendekati Prakoso dengan latar belakang jalanan kota Jakarta ( atau entah kota apa itu? terlihat seperti kota dalam Silent Hill ) yang sangat sepi dan sepenuhnya sudah tertutupi salju sungguh terasa chilling dan surreal. 




Ini juga sedikit banyak menambah kesan 'dingin' dari karakter The Assasins. Lalu, sedikit backstory sosok Prakoso ( pembunuh bayaran yg memilih hidup menjadi gelandangan, sangat merindukan anaknya , dan sangat setia namun kemudian dikhianati ) juga berhasil membuat scene ini terasa lebih emosional, terutama jika di bandingkan fight scene laennya di pilem ini. Sementara itu, karambit brutal fatality, darah yang  tertumpah di atas salju, dan alunan Sarabande membuat kebrutalan yang tersaji menjadi terasa puitis, stylish dan indah. Meski begitu,  Gareth Evans tetep nggak lupa untuk bermain-main dengan menambahkan gerobak lomie ayam dan ketoprak disana haha. 


 Oh tunggu, sejujurnya gue sendiri nggak yakin apakah tujuan dia naro gerobak lomie ayam disana adalah buat ngasih sedikit humor?  bahkan aslinya gue nggak tau apa yang bikin scene ini jadi lucu ( kasusnya sama kaya dulu banyak penonton yang ketawa pas denger cara ngomong ibu Dara dalam 'Rumah Dara' ). yang jelas, sebagian besar penonton di teater tiba-tiba ketawa. Termasuk gue yang terkekeh haha. Abis ini, setiap gue ngeliat gerobak lomie ayam, gue akan selalu ngeliat sosok The Assasins disana.

Siapapun pemilik warung ini, gue saranin buat segera ngerubah nama warungnya menjadi 'Lomie Ayam Karambit'.

Minor Part

Dari tadi muji-muji terus ya, hehe sekarang gue pengen ngebahas dua hal minor yang sedikit mengganjal dari pilem ini.

Figuran 
Pemain-pemain utama dalam The Raid 2 bermain bagus, terutama yang paling nggak disangka-sangka adalah penampilan Cecep Arif Rahman sebagai Assasins yang sebenernya nggak punya latar belakang  seni peran.  Dia jelas nggak perlu ngerasa inferior dengan pendahulunya, Yayan Ruhian. Gue kasih apresiasi khusus lah buat siapapun yang mengkasting bang Cecep.

Tapi, menurut gue Gareth Evans punya masalah dengan para figuran-figurannya.

penjara yang konon penuh kekerasan itu ternyata punya sipir yang lebih pantes jadi satpol PP
 
yang ini lebih mirip penganten cowo mau ke KUA
iya bro, banyak figuran dalam film ini menurut gue keliatan sangat nggak meyakinkan menjurus menggelikan, dari mulai sipir penjara yang ceking-ceking sampe para anak buah para gangster yang terlihat culun dan tidak mengancam. Gue bahkan bisa ngenalin satu figuran yang berperan ganda. kalian liat snapshot di bawah ini :

 
perhatiin, figuran ini berperan sebagai anak buah Goto Gumi yg digebuk Baseball Bat Man ( anak buah Bejo )
 
figuran yang sama ternyata berperan juga sebagai anak buah Bejo ( paling kiri )
Ini membuat gue berfikir, begitu susahnya kah nyari figuran bertampang kejam, meyakinkan dan bertubuh gedean dikit? hehe ini cukup mengganjal kalo nginget Gareth Evans nggak punya masalah ama detil2 kecil soal figuran ini di The Raid 1. Inget kan geng parang dari Ambon itu? hehe Nah, gue berharap di pilem2 selanjutnya Gareth bisa kembali merhatiin detil2 kecil kaya gitu.

Durasi

Pilem in berdurasi 2 jam 30 menit. Dan itupun setelah Gareth memutuskan untuk menghapus beberapa scene, jadi aslinya kalo itu nggak dihapus, filmnya akan berdurasi 3 jam. Ini ngebuktiin, kalo Gareth sebenernya masih punya banyak hal yang pengen dia masukin ke pilem. Deleted scene ini juga ngebuat film terasa melompat dan sedikit draggy di separuh awal. Durasi pula lah yang ngebuat Gareth nggak punya screen time lebih buat ngasih sedikit character development pada 3 villain ikonik kita ( The Assasins, Hammer Girl, dan Baseball Bat Man ). Sementara gue malah ngeliat adegan2 yang nggak begitu penting tetap berada di pilem. Secara keseluruhan, ini nggak jadi major problem buat gue, semua adegan perkelahian di pilem ini, membuat gue ngelupain hal-hal seperti itu. Hanya saja kalo dipikir-pikir, ini membuat The Raid 2 terkesan hmmm..terburu buru dan kurang rapih.
.......................................................

Overall,

Sebuah karya ambisius dari Gareth Evans. Keputusannya buat ngeluarin Rama dari gedung sempit tertutup ke scope yang lebih luas, membuat dia akhirnya mampu mengumbar dan ngewujudin semua ide, imajinasi dan obsesi nya tentang apa yang pengen dia buat dari sebuah film eksyen.

Relentless. Imaginative. Stylish. Beautiful. Bloody as hell. Very very violent. 
Gue nggak bisa bilang kalo The Raid 2 udah ngelewatin prdecessornya, gue pikir keduanya punya feel yang berbeda. it's completely different. 

Tapi, yang jelas Keduanya sama-sama fenomenal dan sukses ngeletakin standar baru buat sinema action modern. Dan untuk mengatakan The Raid 2 sebagai the greatest action movie of all time mungkin akan sedikit debatable, tp gue nggak ragu buat bilang ini adalah pilem action-crime paling extremely-violence nan bloody as fukk yang pernah gue tonton. Ciaaattt! Crot!
 ....................
++ Oiyah, euphoria The Raid 2 saat itu membuat gue bersemangat membuat fanart sederhana ( aslinya sih, karena skill gue yang cekak ), bahkan ketika filmnya belum rilis hehe.
                                                                     
RATING:

The Collector ( 2009 )

Posted by Ringo on 06 December 2014 , under , , , | comment (1)



Editorial :

Halo sodara-sodara..

Jadi, akhirnya blog ini masih bisa apdet lagi ketika seorang misterius berinisial 'HL' mengirimi gue imel berisi review buat di muat di sini. Ya, blog ini memang menerima kontribusi dari siapa aja, Tujuannya adalah, selain karena berbagi kegemaran itu indah ( cailah ) gue juga ingin memotivasi kawula muda untuk gemar meresensi film horror. Tapi baiklah, alasan sebenernya adalah karena gue udah sangat nggak produktif nulis review ( eh, gue malu nyebut itu sebagai review, gue lebih seneng nyebutnya curhat-abis-nonton-film ) sementara itu, Ming cuman nulis kalo lagi khilaf aja dan Zombem? dia udah punya 'markas' sendiri dan sepertinya saat ini sedang meniti karir menjadi selebtwit.

Kalo udah nggak produktif mestinya sekalian aja diumumin tanggal kematiannya dong!? mestinya sih begitu, tapi terus terang gue masih sayang blog ini dan belum pengen menguburnya. Gue seneng ngeliat ada apdet baru di blog ini, meskipun bukan gue yang nulis. So guys, kontribusi dari kalian akan membuat blog yang udah penuh debu dan sarang laba-laba ini tetep hidup. Tapi, ngomong-ngomong emang ada yang peduli yah kalo blog ini udah mati atau masih hidup? haha whatever lah..

Sori buat HL, kontribusi ulasannya baru sempet gue posting hari ini hehe Terima kasih banyak dan semoga masih punya banyak stok ulasan film horror buat di taro disini.

Ngomong-ngomong HL ini siapa yah? Hannibal Lecter?
Kita langsung cek aja reviewnya,

...............................


The Collector
Reviewed By HL

Psikopat dalam film biasanya punya karakteristik sendiri – sendiri, sebut saja Leatherface dengan gergaji mesin yang mengejar siapa saja yang dia lihat, Michael Myers dengan pisau dapur yang suka mengintai mangsanya, ada juga Freddie Krueger dengan cakar dan wajah yang mengerikan untuk menghantui mimpi indah kamu dan masih banyak lagi. Tapi The Collector hadir dengan karakteristik yang sangat menarik dan berbeda dari para pendahulunya, bukan dengan senjata atau topeng yang mengerikan – karena topeng the collector ini biasa aja, bahkan nyaris gak serem dibanding topeng wajah tersenyum yang dipakai difilm The Purge hehehe. The Collector mampu menebar ancaman dengan menjadikan rumah mangsanya dipenuhi dengan jebakan mematikan yang seolah disetiap sudut rumah adalah sudut “mati” - wweeeewwwwwww. 

Langsung deh ke sinopsisnya dulu :

Arkin (josh stewart) adalah seorang tukang kayu yang bekerja dirumah keluarga chace, tapi ternyata arkin bukanlah seorang tukang kayu biasa, hidupnya yang bermasalah menjadikannya memiliki profesi lain, yaitu sebagai pencuri.

Saat berkerja sebagai tukang kayu atau tukang reparasi dia juga mengamati denah rumah dan letak brankas dari rumah keluarga chance. Barulah malamnya dia beraksi dengan alasan terdesak masalah ekonomi sebagai alasan yang keren untuk membobol rumah yang sudah diincarnya. tapi naas, Arkin justru harus berhadapan dengan pria bertopeng yang juga “maksud” lain dirumah tersebut, dan kisah kucing – kucingan penuh ketegangan dimulai.

                                                                        Review :

Duo penulis dari seri Saw IV,V, dan VI Patrick Melton dan Marcus Dunstan berada dibalik layar film ini, Marcus Dunstan sendiri menjadikan film ini sebagai debut sutradaranya. saya pribadi lebih suka The Collector daripada SAW series ( saya bahkan pernah tertidur saat menonton SAW V hehehe ) entah kenapa kayaknya hal menjijikan dan brutal yang ditawarkan SAW sama sekali tidak membuat saya terpukau tapi The Collector menawarkan kisah yang membuat saya betah nonton bolak balik dengan senyum bahagia hehehe.

Karakteristik pria bertopeng ini seolah menawarkan rasa baru, lupakan plot hole bagaimana villain kita memasang jebakan – jebakan itu, saya lebih tertarik untuk menebak – nebak jebakan apa lagi yang dipasang buat matiin setiap orang difilm ini hehhehe. Mulai dari telepon rumah yang diisi jarum, jendela yang dipasangi kayu yang pinggirannya diisi silet sampe jebakan kaki ala Tom & Jerry ( saya nggak tahu nama jebakan berbentuk gigi, tapi dikartun tom & jerry selalu aja ada -_-‘ ) membuat saya harus memasukkan The Collector dalam list film favorit saya. Belum lagi ketegangan hasil pertarungan langsung antara Arkin vs pria bertopeng, duel antara dua orang yang berpengalaman dibidangnya, satu pengalaman maling, satu pengalaman dalam hal membunuh, sangat seru buat saya pribadi daripada harus ngeliat pocong vs kuntilanak, pertarungan paling nggak seimbang sepanjang sejarah horror.


Dosis gore difilm ini emang lebih “lembut” dibandingkan film slasher lain ( apalagi film sampah, gore-nya film ini cuma nyelekit dikit doang ) tapi berkat eksekusi yang apik dan tone color yang berwarna banget untuk film slasher, cukuplah film ini bikin adrenalin berpacu.

Seperti yang saya singgung diawal, karakteristik setiap psiko itu membuat mereka punya ke-keren-nan sendiri – sendiri, beberapa berhasil menjadi icon horror, beberapa malah jadi bahan makian, tapi buat saya pribadi, mengamati karakteristik tokoh horror itu sama menariknya dengan menonton filmnya. Coba aja kamu bayangin kalo setiap psiko cuma pake pisau dapur doang disemua film? Atau mereka memakai topeng dengan karung beras secara berjamaah? Itu pasti sangat membosankan ( hmmmm tapi sadar gak sih film horror indo sekarang cuma ngasih 2 hantu doang sebagai pajangan, kalau gak pocong ya kuntilanak? Iya nggak? ). 

So, kalau ada yang bilang film slahser gitu – gitu aja, coba deh cicipin The Collector :D

EDISI I-LOVE-KOREA: MEMORIES OF MURDER (2003)

Posted by Ringo on 07 November 2014 , under , , , , , , , | comment (4)



Written By Ming

Pengantar

Anda salah satu korban Korean Wave (jelas yang saya maksud Korea di sini dan nantinya adalah Korea Selatan, bukan tetangganya yang punya pemimpin berambut Mohawk itu) dengan drama-drama cintanya yang cute dan mengharu biru? Atau penggemar boyband-girlband-groupband—apapun itu sebutannya dengan personel berwajah boneka hasil polesan operasi plastik? Atau begini, setidaknya anda bakal mengetatkan ikat pinggang dengan berpuasa atau cukup mengonsumsi Indomie 3 kali sehari, misalnya, hanya untuk memiliki tablet Samsung terbaru, bukan? Hohoho, tenang saja. Anda tidak sendiri. Saya pun salah satu korban gelombang budaya Korea yang telah mengglobal. 

Cuma, yang saya gemari ini bisa dibilang sepi penggemar di sini—jika dibandingkan dengan produk Korea yang sudah saya sebut di atas, dan cuma bisa jadi obrolan seru sesama penggemar film horror beserta turunannya yang bisa dibilang masih satu spesies dengan pengunjung setia—dan tidak setia—blog horror kacangan (saya sebagai salah satu kontributor abadi dan satu-satunya, memang sudah mengajukan proposal kepada editor blog ini untuk mengganti saja nama Horror Popcorn menjadi Horror Kacang) yang makin sepi postingan hingga membuat sekelompok penggemar fanatik melakukan demo di depan kantor fiktif kami.  

Beberapa tahun terakhir, saya menemukan rentetan horror/crime-thriller Korea yang sanggup membuat saya terkagum-kagum dan sungguh gatal, kenapa fans berat American B-class, old-school campy horror, 70’s & 80’s horror lokal, Italian mondo dan bahkan New French Extreme—yang amat singkat eranya—juga seluruh penggemar horror berbagai sekte dan aliran, gagal move on dari Oldboy dan Choi Min Sik ketika mendengar kata ‘Korea’. Bukannya saya ini tidak menggemari Choi Min Sik. Maksud saya, memangnya siapa sih yang tidak ngefans dengannya? Saya bahkan masih mengikuti dia di film terbaru Luc Besson, Lucy, di mana dia masih saja menjadi badass yang kehadirannya selalu mencengangkan, meskipun sayangnya terlalu memaksakan diri untuk menjaga kharismanya selepas Oldboy.

Karenanya, saya berniat membuat review edisi I-LOVE-KOREA sebagai bentuk MP3COWKI (Masterplan Percepatan Perluasan Pemantapan Cuci Otak Wabah Korea Internasional). Untuk beberapa postingan ke depan, saya akan secara rutin menulis HANYA film-film horror/crime-thriller Korea. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada Park Chan Wook yang telah menjadi ikon coolness baru Korea setelah ‘vengeance trilogy’-nya, serta sedikit banyak telah mempengaruhi film horror Korea secara keseluruhan untuk masing-masing semakin berlomba memberi ide cerita yang tak pernah terpikirkan sebelumnya diikuti adegan-adegan revolusioner yang bikin geleng kepala, saya tidak menulis review ‘vengeance trilogy’ di bagian-bagian awal. Mari kita simpan yang terbaik—atau mungkin yang terpopuler—di belakang, nanti saja. Edisi review ini sepenuhnya berdasar pada selera pribadi saya, jadi sudah jelas akan menjadi sangat subjektif. Tenang, saya masih punya banyak stok film horror/crime-thriller Korea yang keren untuk postingan-postingan berikutnya. Siapa tahu selera kita sama. Request boleh diajukan dengan imbalan donasi seikhlasnya.


 Terus, kita masuk ke filmnya…

Tahun 1986, di sebuah kota kecil—mungkin lebih tepat disebut pedesaan—Korea Selatan ditemukan mayat wanita korban pemerkosaan dan pembunuhan di saluran air persawahan. Tak lama, serentetan pembunuhan dengan metode serupa (diikat dan dicekik dengan stocking, bra, atau tali tas untuk lalu ditutupi kepalanya dengan celana dalam) terhadap para perempuan lokal pun terjadi, memaksa seorang detektif kampung setempat, dibantu oleh partnernya dan detektif yang datang dari Seoul bahu membahu untuk memecahkan kasus pembunuhan serial yang terinspirasi dari kejadian nyata yang sangat terkenal dan menjadi salah satu kasus tak terpecahkan di Korea Selatan hingga kini. 

Warning! Review dibawah ini mungkin mengandung spoiler

Memories of Murder bukan tipikal crime thriller di mana kita bakal menemukan banyak adegan kekerasan yang berdarah-darah atau jagoan badass ala Korea. Bukan sama sekali. 

Hanya saja film ini punya banyak dimensi: ada kekonyolan khas orang kampung di sana yang luar biasa menghibur, humor gelap, drama-drama kecil yang menyentuh, investigasi polisi yang melibatkan penyiksaan ala orde baru kita, perubahan situasi politik di Korea Selatan dari kediktatoran di akhir 80-an, beberapa adegan menegangkan dan teka-teki yang sungguh memusingkan, sekaligus melelahkan. Ini semua dirangkum dalam durasi sekitar dua jam lebih. 

Kelebihan film ini selain eksekusi apik dan akting yang kuat, adalah ceritanya sendiri. Kita sebagai penonton, seolah terbawa untuk ikut menjadi detektif! Kita dipaksa untuk menduga-duga dan menganalisis siapa sebenarnya pembunuh yang amat rapi dan teliti, juga licin bagaikan belut ini. 


villain badass kita 
maaf, ini villain badass kita   


eh, atau yang ini???
Caranya: sepanjang film, tak ada habisnya kita diberi berbagai macam petunjuk berupa koinsiden-koinsiden yang seolah menjadi bukti kuat dari kasus pembunuhan dan sosok-sosok yang perilakunya diduga sebagai tersangka, yang kesemuanya berakhir terpatahkan begitu saja hingga kita benar-benar dibuat clueless. Bingung karena sudah tidak bisa membedakan lagi mana yang hanya kebetulan dan mana yang sesungguhnya bukti kejahatan valid. Setelah semua kelelahan dan frustasi yang dialami kedua detektif kita, terutama karena gagalnya mereka menangkap tersangka paling meyakinkan di penghujung film yang disebabkan ketidakcocokan hasil DNA, detektif kita hanya sanggup berkata: cukup adalah cukup.

Ini film yang sudah dianggap klasik dan memenangkan hati banyak orang pada masanya. Konon semua adegan proses penyelidikan, kondisi dan hasil otopsi korban, TKP, tes DNA, hingga kehidupan para detektif dibuat dengan detil dan semirip mungkin dengan peristiwa asli.  

Funniest Moment: Sangat banyak. Mulai dari yang membuat kita tersenyum, hingga ketawa guling-guling. Tapi mungkin saya bisa pilih ini: tokoh utama detektif kampung kita berteori bahwa ketiadaan rambut pubis di TKP menunjukkan bahwa kemungkinan si pembunuh adalah lelaki dengan kemaluan botak atau tidak punya rambut pubis sama sekali. Dia pun diam-diam memperhatikan setiap kemaluan lelaki ketika mandi di sauna bersama dan berpesan kepada pemilik sauna untuk segera melapor padanya jika menemukan lelaki dengan kemaluan botak yang hanya disambut dengan tertawaan.


Another Funny Moment by Ringo : Jadi detektif kampung kita ini suka nginterogasi sambil mukulin orang yang dicurigainya, persis kelakuan polisi kita lah. Nah, suatu kali mungkin karena ngerasa bersalah tuduhannya nggak terbukti, mereka nyoba 'nyogok' korbannya dengan ngasih sepatu. Momen lucu nya bisa kalian intip lewat spoiler-snapshot dibawah ini hehe

kelakuan polisi haha
Best Scene: Di adegan terakhir, 17 tahun setelah kasus ini, tokoh utama kita yang terlalu lelah untuk menjadi detektif dan akhirnya memutuskan untuk menjadi pengusaha, menyempatkan diri kembali ke saluran air tempat dia menemukan mayat pertamanya demi mengenang masa-masa yang barangkali paling berkesan dalam hidupnya. Seorang bocah menegurnya dan berkata bahwa baru-baru ini saja, ada seorang lelaki yang juga mendatangi tempat itu sekadar untuk “mengenang sesuatu yang pernah dilakukannya di sini”. Mantan detektif kita bertanya bagaimana rupa si lelaki. Dari deskripsi si bocah, lelaki itu sangat mendekati sosok tersangka paling meyakinkan di film. Tokoh kita tercenung, tergagap dan menunjukkan ekspresi yang sulit digambarkan, hingga closing credit menutup layar.


 Feels Like: Zodiac versi Korea

-Ming-


7 Days (Les 7 jours du talion) (2010)

Posted by Ringo on 01 November 2014 , under , , , , | comment (2)



Bales Dendam. Tema ini nggak pernah abis ( dan basi ) buat diangkat ke layar lebar. Dan sebenernya, kalo ngomongin film bertema bales dendam, ingetan gue akan langsung tertuju ke revenge-movies produksi Korea Selatan. Bukan apa-apa, soalnya kalo misalnya suatu saat gue mesti ngelist 10 pilem thriller crime revenge terbaik, separuh lebih isinya akan diisi oleh film-film produksi orang2 sakit dari negeri itu. Mungkin gue akan bikin listnya suatu hari nanti, tapi untuk kali ini, gue pengen cerita dulu tentang yang satu ini.

7 Days tuh film kecil bertema bales dendam produksi Kanada garapan sutradara asal Perancis, Daniel Grou ( film ini berbahasa Perancis dan diisi aktor/aktris asal perancis, meski sutingnya mengambil tempat di Kanada ). Screenplaynya ditulis oleh Patrick Senécal, berdasarkan novel karyanya sendiri 'Les sept jours du talion'.

Jadi plotnya simpel aja

Bruno Hamel  (Claude Legault) tuh seorang dokter bedah yang punya kehidupan baik-baik aja, dengan istri dan seorang puteri berusia 8 tahun yang cantik. Kehidupannya berubah drastis ketika pada suatu hari puterinya ditemukan tewas. Seorang pedofil-maniak telah membunuh dan memperkosanya. Diceritain, polisi nggak butuh waktu lama buat ngeringkus sang tersangka utama, Anthony Lemaire (Martin Dubreuil).


Bayangin, puteri lu dibunuh dan diperkosa, terus ngeliat pelakunya tersenyum ditelevisi.

Jadi, Dr.Hamel, dengan rencana yang cukup rapih, memutuskan untuk menculik Anthony dari mobil tahanan untuk kemudian menyekapnya didalam sebuah kabin terpencil.  Dia akan  membuat si pelaku membayar lunas perbuatannya dengan 7 hari penyiksaan pedih dan baru akan membunuhnya di hari ke 7. Itu hari dimana puterinya seharusnya berulang tahun. 7 hari penuh penderitaan yang akan dialami si pelaku mungkin akan membuat kepiluannya sedikit terobati. Tapi, benarkah demikian?


Satu hal yang membuat gue cukup suka nonton pilem bertema bales dendam barangkali adalah karena gue suka ngeliat orang jahat menerima balesannya. Semakin menyebalkan dan jahat antagonisnya, semakin nikmatlah gue ngeliat ketika hari penebusan itu akhirnya datang. Itulah kenapa dulu gue selalu bertepuk tangan dengan antusias kala Dharmendra akhirnya matahin kaki Amrish Puri atau ngelemparin Amjad Khan sekuat tenaga ke jurang. Gue juga akan bersorak girang kalo suatu saat seseorang akhirnya membuat sekuel dari Eden Lake ( 2008 ), terus terang jiwa gue belum tenang selama anak-anak bedebah itu belum mendapat balasannya, jadi akan menyenangkan kalo disekuelnya nanti mereka harus berhadapan dengan psikopat hehe. Meski demikian, harus gue akuin sekali lagi, kalo orang2 Korea Selatan lah yang paling piawai dalam menyusun plot bales dendam sempurna buat mastiin itu berlangsung semenyakitkan mungkin.


Balik ke review, dalam film ini, sang tersangka utama pelaku pembunuhan, Anthony sudah diculik oleh Dr.Hamel di menit ke 25, bahkan ketika gue masih bertanya-tanya dan belum cukup alesan untuk membencinya. Jadi, gue menduga sisa durasi filmnya hanya akan berisi penyiksaan. Lalu, apakah ini akan menjadi sebuah cheap torture-porn semacam Hostel atau Saw?


Untungnya, tidak. Selain karena torture-porn adalah sebuah genre yang selalu susah buat gue nikmatin ( gue lebih milih porn nya aja ), juga bukankah kita udah ngeliat yang kaya gituan di 2 film yang gue sebutin tadi? 

Alih alih menjadi sebuah torture-porn, Daniel Grou rupanya lebih memilih mengarahkan 7 Days untuk menjadi sebuah thriller-psikologi dengan sentuhan filosofis tentang kehidupan, kematian, serta isu yang sebenernya udah bolak-balik di angkat dalam film-film bertema serupa.

'Is Revenge the only true Justice?' 

Kalian bisa nemuin Dr.Hamel menjawab langsung pertanyaan itu dalam film ini, tapi bahkan jawabannya akan membuat kalian semakin termenung.

Ya, berbeda jauh ama bapak-bapak sinting lainnya di film 'Big Bad Wolves' ( 2013 ) yang masih bisa bikin lelucon sambil ngelas dada pembunuh cucunya, Dr.Hamel keliatan nggak menikmati aksinya. Jadi, abis ngancurin lutut si pelaku pake palu gede, dia cuma duduk-duduk ngedengerin jeritan 'tahanan' nya, abis itu keluar kabin buat ngerokok sambil ngerenungin seuatu. Grou gue pikir emang lebih seneng mengeksplorasi emosi yang terjadi pada 2 karakter utamanya daripada nunjukin banyak graphic violence eksplisit sebagai sajian utama.

Kita akan dibawa ikut roller-coaster emosi dari mulai ngedukung apa yang dilakukan Dr.Hamel terhadap sipelaku pembunuhan, lalu kemudian tertegun, mual, dan mulai berfikir bahwa apa yang dilakukannya sudah kelewat batas, lalu kemudian kembali dibuat geram.  Gue kasi tau aja, penyiksaannya emang nggak di sajikan terus menerus kaya yang kita liat 'The Human Centipede 2', tapi diselang seling ama cerita pelacakan polisi buat nemuin lokasi Dr.Hamel menyekap Anthony.

Tapi, sekalinya penyiksaan itu ditunjukin, percayalah itu akan membuat kamu meringis.

Terutama pada sebuah metode penyiksaan yang bisa jadi adalah salah satu yang paling nggak terpikirkan, mengerikan ( juga menjijikkan ) di sebuah adegan film.


Abis adegan diatas kita akan ngeliat Dr.Hamel perlahan-lahan ngebedah perut Anthony dan ngeluarin ususnya. Adegan ini aja sangat mengerikan ( karena dishot dengan perlahan dan close-up ) dan juga getir, ketika kita melihat Anthony yang lumpuh namun sepenuhnya sadar mulai meneteskan air mata kengerian. Tapi, apa yang sebenernya Dr.Hamel lakukan pada perut Anthony? Diadegan selanjutnya kita akan tau ketika Anthony ngeluarin tinja dari lubang di perutnya. Whattafuck?! rupanya Dr. Hamel baru aja membuat lubang diperut Anthony dan memaksa dia ngeluarin kotorannya ( berak ) dari situ?! sakit! Gue nggak tahu apakah yang kaya gituan emang bisa dilakukan? tapi, kalo nginget Dr.Hamel yang ahli bedah, yaudah gue percaya aja. Asli, adegan ini bikin lubang pantat gue nyut-nyut an.


Martin Dubreuil yang berperan sebagai Anthony, menurut gue berakting meyakinkan. Dia berhasil memainkan bermacam variasi emosi dari mulai ketakutan, kesakitan, memohon, sampe putus asa yang ngebuat gue ikut ngerasain penderitaannya. Lalu ada satu titik dimana dia kemudian berbalik mengejek, menantang, melawan serta menyerang Dr.Hamel dalam bentuk provokasi emosi dan psikis. Inget kan adegan Choi Min Sik memprovokasi Lee Byung Hun dalam I Saw The Devil ( 2010 ) ketika nyawanya udah diujung tanduk? nah, seperti itulah.

Claude Legault juga tampil bagus sebagai Dr. Hamel, kamu bisa ngelihat kepedihan, kehampaan, sekaligus kemarahan di raut wajahnya. Sementara itu, keputusan Grou buat nggak ngasih suara latar ( musik ) apapun sepanjang film ini ( termasuk di kredit titel ) membuat film ini terasa sunyi, depresif namun sekaligus menciptakan atmosfer yang lebih mencekam.

Secara keseluruhan,

Jika kamu ngarepin sebuah film horror dengan banyak adegan penyiksaan eksplisit sebagai sajian utamanya, ini jelas bukan judul yang tepat. Meski disana ada beberapa adegan yang cukup graphics, 7 Days lebih bermain di level psikologi dan emosional. Ini juga bukan jenis film hiburan dan mungkin hanya cukup ditonton sekali saja. 

Tapi, jika kamu lagi nyari sebuah alternative doom-slow paced-depressive-psycho thriller dengan tone realistik yang memiliki beberapa elemen filosofikal didalamnya, buruan sob, filmnya ada di Torrent, segera download hehe.

Trailer 

RATING:

Related Posts with Thumbnails