The Night Comes For Us

The Night Comes For Us

MATI 1/2 HIDUP

MH

The Guest ( 2014 )

Posted by Ringo on 02 January 2015 , under , , | comment (4)



Kali ini Horrorpopcorn mendapat kontribusi review dari seseorang yang mengaku bernama Gambir. Dan bagian tidak terduganya adalah ketika gue kemudian merasa terpancing untuk menulis review pilem yang sama. Ini ngasih gue ide. Di kesempatan berikutnya jika ada seseorang yang ngirim kontribusi review, gue akan berusaha untuk menulis review versi gue sendiri. Jadi kalian akan mendapatkan 2 review! hehe.

Nggak usah takut nantinya akan berbeda penilaian, karena justru perbedaan sudut pandang akan membuat ini semakin menarik.
Terima kasih sodara Gambir akan kontribusinya. 

Btw kamu Gambir yang suka bikin patung itu? atau Gambir yang tetangganya Gondangdia?
 

Langsung aja..



                                             THE GUEST Written By Gambir

Sebelum ngirim review ke blog ini saya sedikit ragu,. Apakah the guest bisa dimasukan kedalam list review blog ini, mengingat dalam imdb film ini dikategorikan sebagai action. tapi di film ini ada tokoh saiko yang membantai orang-orang tak bersalah, mungkin itu bisa dijadikan alasan bahwa film ini adalah sejenis film psikopat dengan  villain seorang militer..hehe


Synopsis :

David datang pada keluarga Peterson, dia mengaku adalah teman anaknya waktu bertugas di militer (caleb), dia datang untuk menyampaikan pesan caleb betapa dia sangat mencintai keluarganya, Tak ada benda  atau semacam surat wasiat yang biasanya dititipkan tokoh militer dalam film perang menjelang kematiannya hanya pesan “dia menyayangi kalian”. Keluarga Peterson pun yang awalnya merasa sedikit curiga dan aneh mulai merasa simpatik dengan sikap yang ditunjukan david. Mulai dari membantu Mr. Peterson untuk jadi manajer. Membantu anak bungsu keluarga Peterson dari bully di sekolah. Semenjak kedatangan david , keluarga Peterson lebih baik, karena harapan dari setiap anggota keluarga ini terwujud. namun disetiap terwujudnya harapan itu ada mayat-mayat bergeletakan sebagai gantinya.. What happened ??


................................... 


Film ini memang tak se creepy film-film psikopat lainnya. Namun saya rasa ini cocok untuk penikmat horror pemula seperti saya..hehe. tidak ada penggelontoran darah gila-gilaan, adegan sayat menyayat, ataupun gantung menggantung, dosis kekerasan masih dalam kadar normal, atau bahkan sangat safe untuk ditonton bersama keluarga.

The guest bukan untuk penikmat thriller kelas akut , mengingat disini tak ada adegan yang bisa menyegarkan mata, bahkan tak ada satupun scene memorable yang bisa menjadi buah tangan setelah kita menontonnya, no topeng, no senjata, david hanya seorang cowo dengan wajah maskulin yang memiliki latar belakang militer dengan mental gila. yupp… gila karena disatu sisi dia bisa bersikap bak peri penolong, namun juga bisa dengan entengnya nancepin pisau ke perut ibu sahabatnya.

Alasan saya menonton film ini Karena “you are next”. Sutradara yang berhasil ngerubah imej domba yang lugu dan lucu ini menjadi  momok menakutkan, namun tidak seperti you are next yang membuat saya meringis dan twist yang membuat saya tersenyum lebar, the guest seperti semangkuk sup kentang tanpa toping,yang tak memberikan sensasi gigitan dimulut, hanya cocok untuk appetizer, bukan untuk menu utama.
Sop iler:
Namun ada yang menarik dari latar belakang sikopat ini, david diceritakan adalah hasil dari sebuah program pemerintah sebagai objek penelitian, mungkin akan dijadikan semacam senjata hidup yang berjalan ( tidak diceritakan dengan jelas mengenai program tersebut), walapun saya lebih suka alasan david menjadi gila karena penyakit yang disebutkan Mr. Peterson sebagai PTSD (menurut Wikipedia artinya Post Traumatic Stress Disorder). Apakah penyakit ini juga diderita Rambo dalam first blood ? sehingga dia bisa menghancurkan satu kota dengan alasan membela diri..hahaha
Seandainya bang ringgo nonton film ini mungkin dia akan mengucapkan kata yang sama dengan maika monroue  di ending cerita dengan raut wajah kecewa “WHAT THE FUCKK!!” hahaha..

.....................................

P.S = yang jadi luke Peterson wajahnya mirip banget sama chloe moretz, apa mereka saudaraan ?

P.S.S = seharusnya Negara barat meniru system keamanan pos kamling kita, dimana dalam peraturannya tertulis “TAMU 1 X 24 JAM WAJIB LAPOR RT/ RW ”, agar kejadian seperti di the guest tak pernah terjadi  


.......................................



                                                  THE GUEST Written By R

Karena plot ( sinopsis ) nya udah di ceritain sodara Gambir diatas, gue langsung aja ke bagian reviewnya deh.

Hal yang paling berhasil memprovokasi gue untuk menonton pelem ini adalah desas desus yang santer beredar bahwa pelem ini layak dijuluki “Halloween meets The Terminator”. Itu kaya gimana ya? mungkin semacam slasher dengan banyak ledakan besar. Atau mungkin cyborg yang ngebacokin orang pake piso gede? Apapun, itu pastinya keren.

Filmnya dibuka ama shot sosok seseorang yang ( dilihat dari sepatu dan tasnya adalah anggota militer ) berlari di sebuah rural area, kemudian titel tiba-tiba muncul diiringi backsound vintage-cheesy yang terdengar mengancam. Ini seperti pengumuman style pilem macam apa yang akan digunakan Adam Wingard. Dan senyum gue semakin mengembang pas tau kalo pelem ini ternyata emang sengaja memakai musik retro elektronik/synth untuk scoring dan soundtracknya . Whoa! Adam Wingard sedang membuat homage untuk pelem eksyen thriller 80/90an?!

Paruh pertamanya sendiri sangat menjanjikan. Intriguing & thrilling. Gue diajak untuk menerka nerka siapa sebenernya 'sang tamu' misterius kita. David ( Dan Stevens ) seperti pria yang akan dengan mudah diterima keluarga mana saja yang dikunjunginya. Dia kharismatik, baik dan terlihat mampu ngeberesin semua masalah. Dari mulai ngebantu masalah yg dialami Luke di sekolah, ngeberesin pacar Anna yg abusive, ngebantu karir Mr.Peterson, sampe ngebantu Ny.Peterson ngerjain pekerjaan rumah tangga nya.

Meski begitu, sejak awal ( bahkan sejak kita membaca judulnya ) kita sebenernya udah tau kalo David menyimpan sebuah rahasia besar. Entah rahasia apa itu, tapi yang jelas dibalik semua kelebihan yang udah disebutin diatas, David adalah jenis orang yg punya kapasitas buat ngelakuin sebuah extreme violence. Itu ditunjukin dengan cara yang cheesy khas film campy 80-an ketika David pada saat2 tertentu sering terlihat menatap-natap creepy,  tentu saja dengan iringan musik elektro retro. Ini sebenernya ngingetin gue pada tatapan jijay Ryan Gosling di 'Drive' 3 tahun silam. 


Pada poin ini, Dan Stevens, ( meski tidak istimewa ) gue pikir berperan sangat baik. Dia mampu membuat senyum nya terlihat charming sekaligus alarming. Pun mampu ngerubah ekspresinya dengan cepat dari hangat menjadi tajam menyengat. Thriller terbangun dan tensinya mulai merambat naik. Maka, gue pun dengan setia menanti waktu ketika akhirnya pelem ini meledak.

Lalu korban-korban mulai berjatuhan dan jatidiri David akhirnya terkuak, eskalasi memuncak. tapi pada titik inilah gue justru mulai garuk garuk kepala.  


Kita tahu, 3 tahun lalu Adam Wingard mampu ngerubah slasher klise-medioker ( You're Next ) menjadi impresif, terutama karena ada banyak kejutan menyenangkan di bagian paruh keduanya. Nah, aslinya, gue nunggu hal yang sama. Tapi, sayang gue nggak nemuin itu disini. Semuanya begitu predictable dan lurus-lurus aja.
  
Bagian yang paling bikin gue penasaran tentang jatidiri David ( yang dari awal dikesankan sangat misterius dan seperti menyimpan rahasia besar ) ketika terungkap hanya membuat gue mengeluh pendek " udah?..gitu doang? ". Lalu, dengan cepat gue  tersadar kalo ini adalah sebuah homage untuk pelem eksyen B grade 80/90an, jadi kalo ceritanya agak murahan dan klise, ya harap dimaklumi, hehe so, gue mulai ngelupain itu dan nunggu bagian aksinya aja.

Tapi, ini pun membuat gue kecewa.


Ya, ada adegan penyerbuan yg melibatkan pasukan khusus bersenjata otomatis, pengeboman sebuah cafe, dan Adam Wingard mencoba nge-mixing genre ( horror-slasher ) dengan menggelar sebuah aksi hide,seek & slash di sebuah labirin pesta halloween ( lengkap dengan hall of mirrors, dry ice fog dan lampu disko! ) untuk final act nya. Sebuah effort yang layak diapresiasi,  tapi sekali lagi sayang,  hasilnya terlalu generik. Baiklah, terima kasih untuk final girl berambut keriting dengan kostum pelayan dan villain badass yang susah mati, gue suka itu.  Tapi mana ledakan-ledakan besar nya?, mana one-liner badass nya?, mana aksi2 hilarious yang nggak perlu namun menyenangkan ( semacam sepeda motor vs helikopter ) dllsb. Untuk sebuah pelem yang punya julukan  “Halloween meets The Terminator” , tagline ' An Absolute Blast' di covernya, dan potensi bencana yang bisa dihasilkan 'mesin' seperti david, The Guest cukup mengecewakan. Gue ngebaca kalo di screenplay aslinya, The Guest mengambil setting di Korea, mempunyai aksi yang jauh lebih banyak serta melibatkan car chase scene. Nah, gue pengen liat yang itu. 

yang ini ( juga kalung segitiga yang dipakai Anna sepanjang film ) dicurigai seorang pereview di sebuah blog sebagai pesan Illuminati hahaha

perhatiin grafitti di tembok itu

Lalu, bagian dimana David terpaksa harus melakukan hal-hal buruk pada keluarga Peterson sendiri gagal ngasih emosi buat gue karena gue udah menduga ini sejak menit awal. Kaya yg udah gue bilang, semuanya begitu predictable.

Pendeknya, dari sebuah cheapy-thriller yang menjanjikan, The Guest berubah menjadi sebuah pelem tentang perburuan 'monster' yang medioker.

Tentunya gue akan lebih senang jika : dari sebuah cheapy-thriller yang menjanjikan, The Guest berubah menjadi sebuah pelem tentang perburuan 'monster' yang awesome. Ya, absennya kebaruan dan orisinalitas serta lemahnya jalan cerita, mestinya bisa ditutup ama aksi yang hebat atau setidaknya memorabel.

Kemudian sisi gue yang lain mencoba membantah kalo Adam Wingard nggak sedang membuat pelem aksi persis kaya yang kita liat di taun 80/90-an, dia cuma sedang membuat sebuah thriller-action versinya sendiri dengan balutan elemen retro. Dan kamu nggak perlu membuat analisa apapun, don't take it too serious, just sit and enjoy it!

Masalahnya, gue udah nyoba itu. Dan gue harus jujur kalo yang ini nggak berhasil memikat gue. 

The Guest ngingetin gue pada pilem action-thriller kecil William Baldwin yang gue dapetin dari tukang rental video ( VHS ) yang dulu sering dateng di rumah. Gue nggak nemuinnya di bioskop, karena bioskop lebih milih membeli dan memutar Universal Soldier atau Cyborg.

Tapi secara keseluruhan, 
  
sebenernya The Guest nggak terlalu buruk kok untuk sebuah popcorn flick di sebuah hari dimana kamu nggak tau mau ngapain.  Ada momen2 yg lumayan menyenangkan, konsep mixing-genre yang unik, akting yang bagus, dan soundtrack yang mungkin akan ngingetin kamu pada hari-hari indah di masa lalu. 

Sayang aksi yang di tunggu-tunggu terasa kurang maksimal. Rasanya, kaya kamu menyulut mercon besar yang diperkirakan akan meledak keras, tapi hanya berakhir dengan sebuah sebuah letupan kecil. Plop! . Ya, The Guest jatuh menjadi pelem yang akan dengan mudah gue lupain.
RATING:

The Raid 2 : Berandal

Posted by Ringo on 14 December 2014 , under , , | comment (4)



Written By 'R'

Gue sebenernya langsung nulis review film ini sejak keluar dari bioskop di hari pertama pemutarannya. Tapi tumpukan pekerjaan membuat tulisan terhenti ketika baru nyampe 80%. Bulan demi bulan berlalu,  euphoria film ini mulai turun, kemudian gue ngerasa nggak perlu nerusin nulis reviewnya. Lagipula, bukankah akan sangat telat kalo gue mostingnya sekarang?

tapi, kemudian gue mikir lagi, gue ngerasa telat mosting review The Raid 2,tapi kenapa gue nggak ngerasa telat pas ngereview film film jadul tahun 40-an?? hehe


Jadi bro, gue akhirnya ngebuka kembali file review setengah jadi itu, menyelesaikannya, kemudian langsung mostingnya disini.

Ini dia.

....................


Satu pertanyaan menyelinap di benak gue sehabis nonton pilem ini. Kenapa subjudulnya Berandal? bukan apa-apa, gue nggak ngeliat satupun berandal keliatan di pilem ini, kalo diinget2 gue malah lebih banyak nemuin banyak berandalan dalam The Raid 1 : Redemption. Ya, preman pasar, penjahat liar, bajingan ugal-ugalan dan pembunuh brutal dalam pilem pertamanya menurut gue lebih pantes di sebut berandal. Lebih jauh, gue juga nggak nemuin adegan penyerbuan ( The Raid ) dalam The Raid 2.

Baiklah, skip aja pertanyaan nggak penting diatas hehe

Kita, langsung aja ke poin poin pentingnya :


Plot 

Berbeda jauh ama predecessornya yang ceritanya masih bisa diikuti bahkan jika semua karakternya nggak ngomong, The Raid 2 : Berandal yang ide ( juga koreografinya ) konon udah digodok lebih dulu sebelum pilem pertama, terasa lebih ambisius dengan plot kompleks dan banyaknya karakter. Ya, ini emang proyek impian Gareth Evans yang tertunda. Awalnya, 'Berandal' konon diniatkan sebagai pilem yang berdiri sendiri, namun ketiadaan budget menjadi masalah. Maka, Gareth kemudian malah membuat The Raid : Redemption dengan dana minimal. Kaya yang kita tau, pilem kecil ini ternyata sukses besar. Akhirnya, dengan berbagai pertimbangan, diputuskan untuk memodifikasi cerita Berandal agar bisa menjadi sekuel dari The Raid : Redemption.

Langsung aja,

Setelah berhasil keluar hidup-hidup dari apartemen neraka Tama, bahaya masih belum selesai mengikuti Rama ( Iko Uwais ). Atas desakan kepala satuan khusus anti korupsi, Bunawar ( Cok Simbara ), Rama Sekali lagi harus menyusup ke dalam jaringan kriminal papan atas untuk membongkar semuanya sampai tuntas ( terutama untuk mencari bukti dan menyeret keterlibatan polisi korup Reza -Roy Marten- yang disinyalir adalah dalang dibalik semua peristiwa tragis di apartemen Tama ). Jika tidak , maka nyawa keluarga dan dirinya akan selalu terancam. 

Untuk ini, Rama harus menyamar dan mendekati Uco ( Arifin Putera ) , putera Bangun ( Tio Pakusadewo ), salah seorang godfather yang menguasai sebagian dunia kriminal bawah tanah kota Jakarta. Rencananya tidak berjalan sesederhana itu ketika Rama ( sekarang mengganti nama menjadi Yuda ) menyadari kalo Uco mempunyai ambisi besar. Dia mau ngelakuin apa aja buat memicu perang dengan keluarga Goto-Gumi ( keluarga Yakuza yang menguasai satu bagian kota lainnya ) demi mendapatkan kekuasaan miliknya sendiri.

Sementara itu, ada Bejo ( Alex Abbad ) disana,  gangster pendatang baru yang mencium ambisi Uco dan nunggu kesempatan buat manfaatin keadaan.

Rama ( atau Yuda ) sekali lagi terjebak, bukan lagi dalam gedung apartemen sempit, tapi dalam konflik skala besar yang ngelibatin 3 jaringan kriminal bawah tanah kota Jakarta.

Nah! Plotnya kedengeran rumit yah, tapi sebenernya nggak se kompleks itu kok, sangat simple malah. Kalian yang familiar ama sinema triad Hongkong era 90-an, pastinya udah sering ngeliat ginian. Yang diperlukan cuma sedikit konsentrasi, mengingat ( nggak kaya The Raid 1 ) satu jam pertama durasi pilem ini banyak diisi dialog buat ngebangun cerita ama ngenalin karakter. Bagian ini mungkin menjadi catatan buat Gareth Evans ketika dia terkesan memaksakan plot dan semua karakter barunya datang silih berganti ke dalam durasi singkat. Apalagi, konon ada beberapa adegan yang dipotong. Tak ayal, ini membuat pilem terasa melompat dan terburu-buru.  Imbasnya, jika audiens kurang konsentrasi dan gagal menangkap jalan cerita sebentar saja,  kemungkinan besar hingga credit title muncul dia akan tetap bertanya-tanya. 

Teman gue yang mempunyai referensi pilem jauh lebih banyak dari gue sampai gagal memahami apa sebenernya penyebab kerusuhan di lapangan berlumpur penjara itu, apa pentingnya karakter Prakoso untuk cerita, kenapa Hammer Girl menyerang pria dalam kereta, Siapa pria yg dibunuh Baseball Bat Man, apa arti tatto Bejo, apa peran Roy Marten dll hingga akhirnya menyimpulkan The Raid 2 hanya sekedar pilem gaya-gayaan yang merayakan kekerasan dalam bingkai ketrampilan sinematografi tanpa kejelasan jalan cerita. wtf!

Naro plot untuk The Raid 2 emang seperti milih pedang bermata dua. Di satu sisi, jika Gareth tetep mertahanin konsep minimalis The Raid 1 dan hanya mindahin settingnya ke gedung tertutup yang lebih besar dan tinggi, ini akan ngelestariin 'sindrom sekuel buruk', dimana pilem ke 2 di cap minim kreatifitas dan terkesan hanya ngejar keuntungan dari popularitas pilem pertama belaka.  Di sisi lainnya, nyoba keluar dari sindrom itu dengan ngasih sesuatu yang berbeda juga nggak segampang itu. The Raid 1 di puja justru karena kesederhanaannya. Dia bagai serangan punk rock akord 3 jurus yg simple, cepat , padat , kasar, namun penuh energi. Nyaris tanpa plot dan ngebuang jauh-jauh tetek bengek pengenalan karakter. Ngerubah ini, mungkin akan membuat pemuja The Raid 1 kecewa.
Tapi, bagaimanapun satu sisi harus dipilih.

Dan buat gue, Gareth udah tepat dengan pilihannya. 


 Keluarnya Rama dari gedung sempit Tama dan berpindah ke scope yang jauh lebih besar, mungkin membuat intensitasnya berkurang, tapi ini membuat Gareth Evans akhirnya ngedapetin kesempatan luas buat mengumbar semua imajinasi dan obsesinya. Dari kebut2an mobil, perkelahian massal di penjara sampe karakter2 fantasi yang gue yakin udah lama berada dalam kepalanya. Kaya yang gue bilang, yang diperlukan hanya sedikit atensi dan konsentrasi, karena sekali aja kamu 'get the point' , semuanya akan terasa sederhana dan berjalan lebih mudah.  Gue takjub bagaimana durasi 2 jam 30 menit menjadi tidak terasa. Ya, gue emang berkali-kali ngecek jam tangan, tapi itu buat mastiin kalo pilem belum akan berakhir. 

Jadi, jika menonton The Raid 1 rasanya seperti nonton gig punkrock kecil yang raw dan fun,  menonton The Raid 2 lebih seperti nonton konser metal dengan tata lampu, sound dan panggung yang jauh lebih megah, juga dengan materi musik yang lebih berat, solid dan ber skill. 




Maka, ketika Rama berkata "cukup!", gue segera mengibaskan rambut gondrong gue, kemudian berteriak -teriak sambil ngacungin jari metal ke udara : " we want more! we want more! we want more! "
*kemudian gue di usir penjaga bioskop.


 Fight Scene

Apa yang membuat The Raid menjadi fenomenal buat gue adalah adegan perkelahiannya yang digarap dengan pendekatan yang belum pernah ( atau jarang ) dilakukan film eksyen lain. Film lain, tentu saja punya fighting-scene yang nggak kalah megah, tapi sebagian besar dari mereka lebih senang bermain aman dengan memberi telalu banyak CUT, trik kamera, atau tambahan spesial efek ( CGI ) di dalam fighting scene nya. Melakukan cara-cara tersebut bukanlah sebuah dosa, hanya saja,  dalam The Raid, Gareth Evans berani nawarin hal beda. Dia lebih milih maksimalin skill para stuntsnya yang merupakan praktisi martial arts ( Pencak Silat ) beneran dan mengandalkan desain koreografi  yang dirancang dengan matang. Sebagai contoh, adegan epik Kitchen Fight ( Rama vs The Assasins ) yang kita liat sepanjang 6 menit itu sebenernya butuh waktu 6 minggu buat ngerancang desain koreonya aja, sementara pengambilan gambarnya butuh waktu 10 hari. ( Bayangin, itu waktu yang cukup buat Nayato untuk memproduksi 20 film ). Hasilnya adalah sebuah adegan kelahi menakjubkan yang belum pernah gue liat sebelumnya di sebuah pelem. stunning. 

Selain itu, shot-shot berantem dalam The Raid seringkali dibiarin panjang  tidak terputus ( atau mungkin ada cut disana, tapi Gareth Evans berhasil menyiasati supaya itu terlihat kontinyu ) .  Ini membuat fighting scene dalam The Raid punya feel beda jika dibandingkan pelem lain. Dia kasar, cepat, real sekaligus brutal. 


Lalu, pergerakan kamera juga punya peran yang  krusial dalam mendukung adegan fighting tersaji dengan sempurna. Liat bagaimana adegan perkelahian di lapangan lumpur penjara yang  epik itu, kamera seakan-akan menyeruak cepat berlarian kesana kemari tak terputus diantara jotosan, tikaman, tembakan, dan bacokan para petarung. Lalu liat juga gimana kamera tiba-tiba memutar seiring ayunan baseball dari Baseball Bat Man menghantam wajah musuhnya, atau bagaimana kameramen rela ikut melemparkan dirinya bersamaan dengan Epy Kusnandar yang terlempar, lalu trik oper-operan kamera di adegan kebut-kebutan mobil yang ramai dibahas itu, trik yang sebenarnya sederhana tapi jelas memerlukan keteguhan visi dan kreatifitas seorang sutradara.

Pada akhirnya, kombinasi hal-hal diatas ( koreo, skill para stunt, camera movement ) berhasil menghadirkan sensasi 'ouch!', 'aaah!', 'uuh!' juga 'damn!' 'bangsat!' 'anjing!' yang nikmat.  Bukankah Itu sesuatu yang semua action-fan pengen liat? Atau kalo kalian nyari adegan perkelahian yang indah di liat, kalian bisa nemuinnya di genre wire-fu, disana pertarungannya dilakukan sambil terbang-terbang. mirip sirkus.


 Graphic-Violence.

The Raid 2 punya kandungan kebrutalan massive yang akan susah disamai ama pilem-pilem crime-action-thriller modern lainnya. Adegan pertarungannya ( juga koreografinya ) segera membuat hallway fight scene dalam Oldboy  menjadi terasa sangat lambat dan lembek, dan fight scene dalam beberapa pilem lainnya ( The Man from Nowhere, Ong-Bak dll ) dengan terpaksa harus gue turunin peringkatnya berada di bawah The Raid 2.


 Meski begitu, buat penonton hardcore, sebenernya kandungan graphic-violence disini masih berada dalam dosis yang 'terkontrol'.   Maksud gue, dia belum nyampe ke level disturbing. Diinget-inget, gue bahkan nggak nemuin satu pun organ tubuh yang terlepas dari tempatnya semula. Kalo kalian ngecek karya Gareth Evans sebelum ini, Safe Haven ( segmen dalam V/H/S/2 ) kalian akan nemuin sesuatu yg jauh lebih ekstrim ketika ngeliat Epy Kusnandar meledak dan organ2 tubuhnya berceceran hehe. 

Dalam The Raid 2, semua kulit robek, cipratan darah, tulang patah, kepala pecah dll ditunjukin sebagai konsekuensi dari sebuah pertarungan yang keras, chaos, cepat dan brutal. 

Memang ada adegan eksekusi 5 orang dengan cutter yang membuat sebagian penonton meringkuk dan menutup matanya, tapi disinipun Gareth masih berbaik hati untuk tidak membuatnya se-eksplisit  slit-throat dalam Safe Haven hehe. 

Yup, gue pikir semua graphic violence dalam The Raid, meski muncrat-muncrat  masih cukup terkontrol, di desain aman untuk audiens luas ( memang akan mengguncang untuk penonton di bawah umur, tapi itulah kenapa pilem ini mendapat rating 'R' ) dan ditunjukin disana untuk ngasih orgasme-visual  yang nikmat. Itu satu hal yang udah jarang gue dapetin dari pilem2 action kebanyakan.


 Anti-Hero

Salah satu hal menarik dalam franchise The Raid bagi gue mungkin adalah konsep anti-hero nya, nggak ada orang yang berlagak menjadi pahlawan berhati mulia disini. Rama? dia orang baik, dia juga punya daya tahan tubuh setara superhero berkostum. tapi jelas, dia bukan pahlawan.

Dalam The Raid 1, ketika keadaan memburuk dan Rama sadar telah masuk perangkap konspirasi polisi korup, dia terpaksa bertarung dan membunuhi banyak orang hanya demi tujuan survival agar bisa kembali ke istri hamilnya. Dia sepertinya nggak terlalu berminat membekuk Tama ( sang gembong kriminal ) demi sebuah alasan besar yang biasanya dimiliki superhero : menyelamatkan masa depan kota agar menjadi lebih baik.

Dalam The Raid 2 pun begitu, Rama sebenernya  nggak tertarik membongkar jaringan mafia papan atas dan polisi korup di kota itu, demi..hmmm --seperti yang dikatakan Bunawar-- 'membersihkan kota dan membela kepentingan yang benar' ( gue bahkan masih meragukan niat mulia Bunawar  ini, jawabannya mungkin akan terjawab di The Raid 3 ). Hingga sesuatu terjadi, sang kakak ( Andi ) dibunuh. So, Rama nggak punya pilihan lain, dia akhirnya menyusup ke dalam jaringan mafia demi motivasi sederhana yang akan dilakuin semua orang biasa lainnya, yaitu : ngebales dendam kematian sang kakak, nyelametin keluarga kecilnya sekaligus nyawanya sendiri. Sangat personal. Sekali lagi kita kemudian ngeliat Rama terjebak dan harus survival, hanya kali ini dalam lingkup yang jauh lebih luas dan kompleks.



Kita bahkan akan ngeliat transformasi Rama dari seorang yang ngebunuh orang dengan terpaksa ( di pilem pertama ), menjadi sosok emosional yang nyaris tak terkontrol. 

Pada sebuah pergulatan seru di lapangan berlumpur penjara, Rama sebenarnya sudah berhasil melumpuhkan musuhnya ( Rex Metino ) dengan mematahkan kaki dan merobek tangannya, tapi dia ngerasa itu belum cukup dan hal yang kemudian terjadi adalah sesuatu yang nggak akan dilakuin protagonis manapun di pilem, ngancurin kepala musuh tak berdayanya dengan sebongkah batu besar (!).

Banyak yang berpendapat itu adalah sebuah glorifikasi kekerasan yang tidak perlu, tapi buat gue itu perlu. Selain karena ngeliat orang mecahin kepala orang laen pake batu besar di pilem itu menyenangkan, adegan itu negesin kalo Rama hanyalah manusia biasa yang bisa juga tak terkontrol ketika terjebak dalam situasi genting hidup-mati. Konsep anti-hero seperti ini lah yang membuat karakter Rama buat gue terasa dekat dan masuk akal. Maksud gue, kalo kalian berada dalam situasi yang sama, kalian juga mungkin akan ngelakuin hal mengerikan apa aja buat mastiin musuh kalian nggak bisa bangun lagi.

Kalo mau merenung lebih dalam, karakter Rama dalam The Raid seperti ngasih inspirasi : bela dan lindungilah orang-orang terdekatmu terlebih dahulu ( keluarga, saudara, teman, ), jika kamu melakukannya dengan benar ( inget, dengan benar ya ), kamu sama saja telah melindungi alam semesta.

astaga! ngomong apaan gue? *minum obat.


 Surreal-komikal

Kita nyampe pada adegan yang banyak membuat penonton kebingungan dan mengeluh : turunnya salju di setting kota yang dari gedung2 dan jalanannya kita kenal sebagai Jakarta haha.

Gue pikir, sejak adegan paling awal, Gareth Evans udah ngasih petunjuk kalo dia memilih membuat The Raid 2 : Berandal menjadi surreal-komikal. Liat aja, Bejo, ( juga anak buahnya ) digambarkan selalu memakai mantel tebal panjang lengkap dengan sarung tangan kulit berwarna hitam seakan-akan mereka sedang berada dalam sebuah negara  yang mempunyai cuaca sangat dingin, bahkan ketika berada di sebuah kebon tebu haha. Ini terasa surreal, terutama kalo nginget tebu ini taneman yang cuma tumbuh di tempat yang beriklim hangat ( tropis ). Lebih lanjut, kalian juga nggak akan nemuin orang pake kostum kaya gitu di pelosok Indonesia manapun. So, mungkin itu sebuah dunia yang hanya ada dalam imajinasi Gareth Evans ( alternate universe ). Dunia fantasi dimana kalian juga nantinya akan menemui karakter yang biasanya hanya kalian lihat di halaman sebuah komik : perempuan difabel bersenjatakan sepasang palu dan pembunuh ber hoodie yang ngancurin batok kepala dengan bola baseball.

Adegan awal ini aja sebenernya  udah ngasih tau kalo The Raid 2 akan sangat berbeda dengan The Raid 1 yang terasa real dengan Tama yang memakai singlet ( dan melahap mie ayam ), serta anak buahnya yang ber sandal jepit. Bukan hanya dari cakupan nya yang lebih luas, tapi juga dari konsepnya. it's completely different. Jadi, jika sejak menit awal, kalian bisa menerima gagasan dan pilihan artistik Gareth di sekuelnya ini, mestinya kalian juga nggak akan bingung lagi pas ngeliat salju turun di 'kota aneh' itu. 

Lagipula, bukankah selalu sangat indah ngelihat darah tertumpah diatas salju? 



Apapun, buat gue adegan Prakoso dan salju ini adalah scene paling memorable dalam The Raid 2. Adegan The Assasins perlahan2 mendekati Prakoso dengan latar belakang jalanan kota Jakarta ( atau entah kota apa itu? terlihat seperti kota dalam Silent Hill ) yang sangat sepi dan sepenuhnya sudah tertutupi salju sungguh terasa chilling dan surreal. 




Ini juga sedikit banyak menambah kesan 'dingin' dari karakter The Assasins. Lalu, sedikit backstory sosok Prakoso ( pembunuh bayaran yg memilih hidup menjadi gelandangan, sangat merindukan anaknya , dan sangat setia namun kemudian dikhianati ) juga berhasil membuat scene ini terasa lebih emosional, terutama jika di bandingkan fight scene laennya di pilem ini. Sementara itu, karambit brutal fatality, darah yang  tertumpah di atas salju, dan alunan Sarabande membuat kebrutalan yang tersaji menjadi terasa puitis, stylish dan indah. Meski begitu,  Gareth Evans tetep nggak lupa untuk bermain-main dengan menambahkan gerobak lomie ayam dan ketoprak disana haha. 


 Oh tunggu, sejujurnya gue sendiri nggak yakin apakah tujuan dia naro gerobak lomie ayam disana adalah buat ngasih sedikit humor?  bahkan aslinya gue nggak tau apa yang bikin scene ini jadi lucu ( kasusnya sama kaya dulu banyak penonton yang ketawa pas denger cara ngomong ibu Dara dalam 'Rumah Dara' ). yang jelas, sebagian besar penonton di teater tiba-tiba ketawa. Termasuk gue yang terkekeh haha. Abis ini, setiap gue ngeliat gerobak lomie ayam, gue akan selalu ngeliat sosok The Assasins disana.

Siapapun pemilik warung ini, gue saranin buat segera ngerubah nama warungnya menjadi 'Lomie Ayam Karambit'.

Minor Part

Dari tadi muji-muji terus ya, hehe sekarang gue pengen ngebahas satu hal minor yang sedikit mengganjal dari pilem ini.

Figuran
Pemain-pemain utama dalam The Raid 2 bermain bagus, terutama yang paling nggak disangka-sangka adalah penampilan Cecep Arif Rahman sebagai Assasins yang sebenernya nggak punya latar belakang  seni peran.  Dia jelas nggak perlu ngerasa inferior dengan pendahulunya, Yayan Ruhian. Gue kasih apresiasi khusus lah buat siapapun yang mengkasting bang Cecep.

Tapi, menurut gue Gareth Evans punya masalah dengan para figuran-figurannya.

penjara yang konon penuh kekerasan itu ternyata punya sipir yang lebih pantes jadi satpol PP
 
yang ini lebih mirip penganten cowo mau ke KUA
iya bro, banyak figuran dalam film ini menurut gue keliatan sangat nggak meyakinkan menjurus menggelikan, dari mulai sipir penjara yang ceking-ceking sampe para anak buah para gangster yang terlihat culun dan tidak mengancam. Gue bahkan bisa ngenalin satu figuran yang berperan ganda. kalian liat snapshot di bawah ini :

 
perhatiin, figuran ini berperan sebagai anak buah Goto Gumi yg digebuk Baseball Bat Man ( anak buah Bejo )
 
figuran yang sama ternyata berperan juga sebagai anak buah Bejo ( paling kiri )
Ini membuat gue berfikir, begitu susahnya kah nyari figuran bertampang kejam, meyakinkan dan bertubuh gedean dikit? hehe ini cukup mengganjal kalo nginget Gareth Evans nggak punya masalah ama detil2 kecil soal figuran ini di The Raid 1. Inget kan geng parang dari Ambon itu? hehe Nah, gue berharap di pilem2 selanjutnya Gareth bisa kembali merhatiin detil2 kecil kaya gitu.

.......................................................

Overall,
Gue nggak bisa bilang kalo The Raid 2 udah ngelewatin prdecessornya, gue pikir keduanya punya feel yang berbeda. it's completely different. 

Tapi, yang jelas Keduanya sama-sama fenomenal dan sukses ngeletakin standar baru buat sinema action modern. Dan untuk mengatakan The Raid 2 sebagai the greatest action movie of all time mungkin akan sedikit debatable, tp gue nggak ragu buat bilang ini adalah pilem action-crime paling extremely-violence nan bloody as fukk yang pernah gue tonton. Ciaaattt! Crot!
 ....................
++ Oiyah, euphoria The Raid 2 saat itu membuat gue bersemangat membuat fanart sederhana ( aslinya sih, karena skill gue yang cekak ), bahkan ketika filmnya belum rilis hehe.
                                                                     
RATING:

The Collector ( 2009 )

Posted by Ringo on 06 December 2014 , under , , , | comment (5)



Editorial :

Halo sodara-sodara..

Jadi, akhirnya blog ini masih bisa apdet lagi ketika seorang misterius berinisial 'HL' mengirimi gue imel berisi review buat di muat di sini. Ya, blog ini memang menerima kontribusi dari siapa aja, Tujuannya adalah, selain karena berbagi kegemaran itu indah ( cailah ) gue juga ingin memotivasi kawula muda untuk gemar meresensi film horror. Tapi baiklah, alasan sebenernya adalah karena gue udah sangat nggak produktif nulis review ( eh, gue malu nyebut itu sebagai review, gue lebih seneng nyebutnya curhat-abis-nonton-film ) sementara itu, Ming cuman nulis kalo lagi khilaf aja dan Zombem? dia udah punya 'markas' sendiri dan sepertinya saat ini sedang meniti karir menjadi selebtwit.

Kalo udah nggak produktif mestinya sekalian aja diumumin tanggal kematiannya dong!? mestinya sih begitu, tapi terus terang gue masih sayang blog ini dan belum pengen menguburnya. Gue seneng ngeliat ada apdet baru di blog ini, meskipun bukan gue yang nulis. So guys, kontribusi dari kalian akan membuat blog yang udah penuh debu dan sarang laba-laba ini tetep hidup. Tapi, ngomong-ngomong emang ada yang peduli yah kalo blog ini udah mati atau masih hidup? haha whatever lah..

Sori buat HL, kontribusi ulasannya baru sempet gue posting hari ini hehe Terima kasih banyak dan semoga masih punya banyak stok ulasan film horror buat di taro disini.

Ngomong-ngomong HL ini siapa yah? Hannibal Lecter?
Kita langsung cek aja reviewnya,

...............................


The Collector
Reviewed By HL

Psikopat dalam film biasanya punya karakteristik sendiri – sendiri, sebut saja Leatherface dengan gergaji mesin yang mengejar siapa saja yang dia lihat, Michael Myers dengan pisau dapur yang suka mengintai mangsanya, ada juga Freddie Krueger dengan cakar dan wajah yang mengerikan untuk menghantui mimpi indah kamu dan masih banyak lagi. Tapi The Collector hadir dengan karakteristik yang sangat menarik dan berbeda dari para pendahulunya, bukan dengan senjata atau topeng yang mengerikan – karena topeng the collector ini biasa aja, bahkan nyaris gak serem dibanding topeng wajah tersenyum yang dipakai difilm The Purge hehehe. The Collector mampu menebar ancaman dengan menjadikan rumah mangsanya dipenuhi dengan jebakan mematikan yang seolah disetiap sudut rumah adalah sudut “mati” - wweeeewwwwwww. 

Langsung deh ke sinopsisnya dulu :

Arkin (josh stewart) adalah seorang tukang kayu yang bekerja dirumah keluarga chace, tapi ternyata arkin bukanlah seorang tukang kayu biasa, hidupnya yang bermasalah menjadikannya memiliki profesi lain, yaitu sebagai pencuri.

Saat berkerja sebagai tukang kayu atau tukang reparasi dia juga mengamati denah rumah dan letak brankas dari rumah keluarga chance. Barulah malamnya dia beraksi dengan alasan terdesak masalah ekonomi sebagai alasan yang keren untuk membobol rumah yang sudah diincarnya. tapi naas, Arkin justru harus berhadapan dengan pria bertopeng yang juga “maksud” lain dirumah tersebut, dan kisah kucing – kucingan penuh ketegangan dimulai.

                                                                        Review :

Duo penulis dari seri Saw IV,V, dan VI Patrick Melton dan Marcus Dunstan berada dibalik layar film ini, Marcus Dunstan sendiri menjadikan film ini sebagai debut sutradaranya. saya pribadi lebih suka The Collector daripada SAW series ( saya bahkan pernah tertidur saat menonton SAW V hehehe ) entah kenapa kayaknya hal menjijikan dan brutal yang ditawarkan SAW sama sekali tidak membuat saya terpukau tapi The Collector menawarkan kisah yang membuat saya betah nonton bolak balik dengan senyum bahagia hehehe.

Karakteristik pria bertopeng ini seolah menawarkan rasa baru, lupakan plot hole bagaimana villain kita memasang jebakan – jebakan itu, saya lebih tertarik untuk menebak – nebak jebakan apa lagi yang dipasang buat matiin setiap orang difilm ini hehhehe. Mulai dari telepon rumah yang diisi jarum, jendela yang dipasangi kayu yang pinggirannya diisi silet sampe jebakan kaki ala Tom & Jerry ( saya nggak tahu nama jebakan berbentuk gigi, tapi dikartun tom & jerry selalu aja ada -_-‘ ) membuat saya harus memasukkan The Collector dalam list film favorit saya. Belum lagi ketegangan hasil pertarungan langsung antara Arkin vs pria bertopeng, duel antara dua orang yang berpengalaman dibidangnya, satu pengalaman maling, satu pengalaman dalam hal membunuh, sangat seru buat saya pribadi daripada harus ngeliat pocong vs kuntilanak, pertarungan paling nggak seimbang sepanjang sejarah horror.


Dosis gore difilm ini emang lebih “lembut” dibandingkan film slasher lain ( apalagi film sampah, gore-nya film ini cuma nyelekit dikit doang ) tapi berkat eksekusi yang apik dan tone color yang berwarna banget untuk film slasher, cukuplah film ini bikin adrenalin berpacu.

Seperti yang saya singgung diawal, karakteristik setiap psiko itu membuat mereka punya ke-keren-nan sendiri – sendiri, beberapa berhasil menjadi icon horror, beberapa malah jadi bahan makian, tapi buat saya pribadi, mengamati karakteristik tokoh horror itu sama menariknya dengan menonton filmnya. Coba aja kamu bayangin kalo setiap psiko cuma pake pisau dapur doang disemua film? Atau mereka memakai topeng dengan karung beras secara berjamaah? Itu pasti sangat membosankan ( hmmmm tapi sadar gak sih film horror indo sekarang cuma ngasih 2 hantu doang sebagai pajangan, kalau gak pocong ya kuntilanak? Iya nggak? ). 

So, kalau ada yang bilang film slahser gitu – gitu aja, coba deh cicipin The Collector :D

Related Posts with Thumbnails